Reaktivasi Bandara Husein dan Adi Sutjipto Permudah Mobilitas dan Aktivitas Ekonomi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah berencana mengaktifkan kembali penerbangan sipil komersial di Bandara Husein Sastranegara Bandung dan Bandara Adi Sutjipto Yogyakarta setelah mendapat arahan langsung Presiden RI Prabowo Subianto.

Menanggapi rencana tersebut, pengamat penerbangan, Alvin Lie menilai langkah pemerintah membuka kembali dua bandara tersebut merupakan respons atas kebutuhan mobilitas masyarakat yang selama ini terganggu akibat perpindahan penerbangan ke bandara baru yang lokasinya jauh dari pusat kota.

“Warga Bandung pasti gembira bahwa Bandara Husein dapat difungsikan lagi. Selama ini kebutuhan transportasi udara warga Bandung terganggu karena dipaksakan pindah ke Kertajati yang jaraknya jauh dan konektivitasnya tidak ideal,” ujar Alvin saat dikonfirmasi Kontan, Jumat (29/5/2026). 


Baca Juga: Lalamove Catat Pengiriman Jarak Jauh Tumbuh 47% pada Januari-April 2026

Ia mengatakan, selama beberapa tahun terakhir banyak warga Bandung memilih terbang melalui Jakarta, baik lewat Bandara Halim Perdanakusuma maupun Soekarno-Hatta, ketimbang menggunakan Bandara Kertajati.

Selaitu itu menurut Alvin, kondisi serupa juga terjadi di Yogyakarta setelah operasional penerbangan dipindahkan ke Bandara YIA Kulon Progo. Ia menilai Bandara Husein dan Adi Sutjipto memiliki keunggulan yang sama, yakni dekat dengan pusat kota sehingga lebih mendukung mobilitas masyarakat dan aktivitas ekonomi.

“Perjalanan menuju YIA maupun Kertajati bisa mencapai minimal 90 menit. Ini berdampak pada ekonomi dan mobilitas sosial masyarakat,” katanya.

Alvin menilai keputusan pemerintah menghidupkan kembali Bandara Husein dan Adi Sutjipto lebih realistis dibanding terus memaksakan perpindahan penerbangan ke bandara baru yang trafik penumpangnya belum optimal.

Ia menyoroti Bandara Kertajati yang saat ini dinilai belum efektif menopang penerbangan komersial reguler. Menurutnya, penerbangan domestik praktis sudah tidak ada, sementara rute internasional juga terus berkurang.

“Sekarang penerbangan di Kertajati tinggal Scoot dari dan ke Singapura dua kali seminggu. Ini realita yang harus dihadapi,” ujarnya.

Meski mendukung reaktivasi Bandara Husein, Alvin mengingatkan pemerintah agar konsisten terhadap kebijakan tersebut. 

Lebih lanjut, Alvin menilai pengoperasian kembali bandara membutuhkan investasi besar, mulai dari perbaikan terminal, fasilitas pendukung, hingga penyesuaian operasional maskapai.

“Jangan nanti dibuka tiga bulan lalu ditutup lagi. Itu merugikan banyak pihak, termasuk maskapai dan masyarakat,” katanya.

Di sisi lain, Alvin menyebut Bandara Husein masih memenuhi standar keselamatan penerbangan untuk operasional komersial.  Namun, terdapat keterbatasan teknis seperti panjang runway dan elevasi Bandung yang cukup tinggi sehingga membatasi kapasitas pesawat yang dapat beroperasi secara optimal.

Diketahui sebelumnya, rencana reaktivasi dua bandara tersebut dibahas dalam pertemuan Wakil Menteri Pertahanan Donny Ermawan Taufanto dengan Wakil Menteri PPN/Wakil Kepala Bappenas Febrian Alphyanto Ruddyard di Jakarta, Senin (25/5/2026).

Kementerian Pertahanan menyebut pembahasan difokuskan pada percepatan optimalisasi infrastruktur transportasi udara, penggunaan bersama fasilitas pertahanan, serta pengembangan industri dirgantara nasional.

“Agenda utama pertemuan berfokus pada rencana reaktivasi dan optimalisasi komersialisasi sejumlah bandara, di antaranya Bandara Husein Sastranegara di Bandung dan Bandara Adi Sutjipto di Yogyakarta, menyusul arahan langsung dari Presiden RI,” tulis Kementerian Pertahanan dalam keterangan resminya.

Kementerian Pertahanan juga menyatakan siap mendukung penggunaan bersama pangkalan udara TNI AU untuk penerbangan sipil komersial. 

Adapun persoalan teknis seperti kapasitas apron dan pengaturan jadwal penerbangan akan dibahas lebih lanjut bersama Kementerian Perhubungan dan pemerintah daerah terkait.

Baca Juga: Mobilitas Komuter Tinggi, 4,4 Juta Sehari, Jabodetabek Perlu Integrasi Transportasi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News