Realisasi subsidi energi baru capai 8,9% dari pagu



JAKARTA. Hingga kuartal I 2013, realisasi penyerapan anggaran subsidi energi belum menunjukkan lonjakan yang signifikan. Data Direktorat Jenderal Perbendaharaan Negara Kementerian Keuangan menyebutkan, per 28 Maret 2013, realisasi subsidi energi sebesar Rp 23,5 triliun atau 8,6% dari pagu APBN 2013 yang sebesar Rp 274,7 triliun.Jika dirinci lebih lanjut, realisasi subsidi energi ini terdiri dari realisasi subsidi BBM, LPG dan BBN sebesar Rp 3,5 triliun atau 1,8% dari pagu APBN 2013 yang sebesar Rp 193,8 triliun. Sedangkan realisasi subsidi listrik sebeasr Rp 20 triliun atau 24,7% dari pagu APBN 2013 yang sebesar Rp 80,9 triliun.Wakil Menteri Keuangan Anny Ratnawati menuturkan, besarnya realisasi belanja subsidi energi sangat tergantung pada penagihan yang dilakukan oleh Pertamina maupun PLN. Yang jelas, "Belanja subsidi tetap kami atur supaya tidak melampaui anggaran," katanya baru-baru ini.Vice Presiden Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Ali Mundakir menuturkan, total realisasi penyaluran premium dan solar oleh Pertamina hingga kuartal I 2013 mencapai 10,74 juta kiloliter atau 100,6% terhadap kuota penyaluran BBM bersubsidi pada periode tersebut.Menurut Ali, pemicu utama terlampauinya kuota BBM bersubsidi ini disebabkan oleh realisasi penyaluran solar bersubsidi yang mencapai 3,70 juta kiloliter atau 105,2% dari kuotanya. Sedangkan realisasi penyaluran Premium masih sesuai dengan kuota, yaitu sekitar 7,04 juta kilo liter atau 98,3% dari kuotanya.Sebelumnya, Kepala Pusat Kebijakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Badan Kebijakan Fiskal Rofyanto Kurniawan mengungkapkan, jika melihat data konsumsi BBM bersubsidi selama dua bulan pertama tahun ini, maka kuota BBM bersubsidi tahun ini yang ditetapkan sebesar 46 juta kilo liter bakal terlampaui. "Arahnya menuju ke sekitar 48 juta kilo liter," ungkapnya beberaa waktu lalu.Hanya saja, ia bilang pertumbuhan konsumsi BBM bersubsidi di awal tahun yang masih dalam batas normal tidak menjamin bahwa kuota subsidi di akhir tahun tidak membengkak. Pasalnya, pergerakan konsumsi BBM bersubsidi sejalan dengan tingginya permintaan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Editor: Barratut Taqiyyah Rafie