Rebalancing MSCI Efektif Pekan Depan, Bagaimana Prospek IHSG Jangka Pendek?



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Arah pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi dipengaruhi secara signifikan oleh efek rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) untuk periode Agustus 2026. Hasil rebalancing indeks tersebut akan berlaku efektif pada penutupan perdagangan 31 Agustus 2026 atau awal perdagangan 1 September 2026.

Dalam rebalancing kali ini, saham GOTO dan CPIN keluar dari kategori Global Standard. Di samping itu, sembilan saham dikeluarkan dari kategori Small Cap, yaitu ARTO, BUKA, ESSA, FILM, HEAL, KPIG, RATU, SMGR, dan TCPI.

Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia (UI) Budi Frensidy mengatakan, dalam jangka pendek risiko MSCI masih ada, namun sebagian besar sudah direalisasikan atau priced in sejak volatilitas pasar beberapa waktu lalu.


Tekanan terbesar bagi pasar kemungkinan terjadi jelang penutupan perdagangan tanggal 31 Agustus 2026, terutama pada saham-saham yang keluar atau turun kelas di indeks MSCI. Namun, dampaknya terhadap IHSG secara keseluruhan relatif terbatas.

Baca Juga: IHSG Anjlok 1,48%, Simak Rekomendasi Saham INDF, INKP dan DSNG

"Saya melihat IHSG masih cenderung volatil di kisaran 6.400–6.600 dalam jangka pendek," kata dia, Rabu (26/8/2026).

Selain rebalancing MSCI, sentimen utama yang dapat memengaruhi pergerakan IHSG dalam jangka pendek dan menengah adalah volatilitas kurs rupiah, rebalancing FTSE, perkembangan kebijakan moneter The Fed dan dinamika US Treasury, hingga perkembangan konflik geopolitik global.

Budi juga menyinggung aksi demonstrasi yang berpotensi terjadi pada 27 Agustus 2026 di Jakarta. Menurutnya, aksi unjuk rasa ini dapat menekan pasar jika terjadi eskalasi atau berakhir ricuh. Sebaliknya, jika unjuk rasa berlangsung tertib, dampaknya terhadap pasar kemungkinan terbatas.

"Perkembangan rupiah justru lebih penting karena pelemahan tajam bisa memicu outflow asing," imbuh dia.

Baca Juga: Rupiah Kamis (26/8) Diprediksi Stabil, Pidato Warsh dan Data PCE Jadi Perhatian

Hingga akhir tahun nanti, Budi memperkirakan IHSG dapat berada di kisaran level 6.700--7.000. Level 7.000 masih memungkinkan dicapai IHSG jika kurs rupiah stabil, arus dana asing membaik, dan tekanan dari penyedia indeks global mereda.

Dari situ, sektor-sektor saham yang relatif menjanjikan di sisa tahun ini antara lain teknologi, telekomunikasi, konsumer defensif, serta sebagian produk komoditas.

Budi menjelaskan, strategi terbaik bagi investor saat ini adalah melakukan akumulasi bertahap pada saham-saham berfundamental kuat dan likuid sembari menjaga sebagian kas. "Tekanan teknikal saat rebalancing bisa menjadi peluang beli jika fundamental tidak berubah," pungkas dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News