Regal Springs Indonesia menyasar Indonesia sebagai pasar baru



KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Setelah mengekspor produknya ke berbagai negara, Perusahaan Regal Springs Indonesia akhirnya menyasar pasar dalam negeri. Produsen ikan putih (white fish) Tilapia itu memulai langkahnya dengan meluncurkan produk fillet dan kepala ikan pada Jumat (14/6).

Regal Springs Indonesia melihat potensi pasar ikan tilapia yang begitu besar di Indonesia. " Penduduk di Indoneisa 260 juta orang, sementara 100 juta di antaranya adalah kelas menengah yang sanggup membeli ikan harga malah," kata Yeri Afrizon, Head of Sales and Marketing Regal Springs Indonesia, ketika ditemui Kontan.co.id, di Plataran Dharmawanga, Jumat (14/6).

Selain itu, di Indonesia tidak ada perusahaan yang khusus memproduksi ikan tilapia. Persaingan justru datang dari produk subtitusi, seperti produk filet ikan spesies lain.


Selama ini perusahaan yang berada di bawah naungan Regal Springs Grup itu mengekspor setidaknya 90% dari produksi, sementara 10% lainnya untuk pasar dalam negeri. " Satu hari, total produksi hampir 200 ton," kata Yeri lagi.

Dari keterangan tersebut, diperkirakan 180 ton ikan diekspor dan 20 ton untuk pasar dalam negeri. Adapun pasar ekspor Regal Springs Indonesia sebesar 70% ditujukan ke Amerika, 20% Eropa, 10% sisanya ke pasar region Asia.

Sedikit gambaran, Regal Springs Indonesia memiliki dua pabrik yakni di Medan dan di Semarang. Pabrik di Medan dapat mengolah 150 ton ikan sehari, sementara pabrik di Semarang mengolah 50 ton per hari.

Di Indonesia, kedua produk yang diluncurkan Royal Springs Indonesia sudah bisa didapatkan di 700 pasar modern. Hingga akhir bulan, Regal Springs Indonesia menargetkan produknya akan dipasarkan di 1.000 pasar modern, dan di akhir 2019 dipasarkan di 2.000 pasar modern.

Diharapkan dengan peluncuran produk baru ini bisa mendorong penjualan Regal Springs Indonesia, "Target penjualan total tahun ini sebesar US$ 25 juta," katanya lagi.

Meski mulai fokus menggarap pasar dalam negeri, Yeri bilang belum akan menaikkan kapasitas produksi karena dianggap masih mencukupi. Menurutnya, yang perlu ditingkatkan adalah produksi keramba yang saat ini sekitar 30.000 ton hingga 40.000 ton setahun. " Kami ingin menaikkan, tapi itu hubungannya dengan ijin," tutup Yeri.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Azis Husaini