Regulasi Baru, Akumindo Khawatir Kenaikan Biaya Layanan E-Commerce Tekan Margin UMKM



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi UMKM Indonesia menyoroti rencana Kementerian Usaha Mikro Kecil dan Menengah Republik Indonesia yang tengah menyiapkan regulasi terkait efisiensi biaya logistik dan layanan di ekosistem digital.

Sekretaris Jenderal Akumindo, Edy Misero, mengaku masih menunggu kejelasan dasar kebijakan tersebut, terutama jika nantinya berujung pada kenaikan biaya yang dibebankan kepada pelaku UMKM di platform e-commerce seperti Shopee dan TikTok Shop.

“Kalau dia menaikkan biaya, berarti kan ada pihak yang tadinya bayar 10 perak menjadi 15 perak, misalnya. Jadi artinya kalau menaikkan itu pasti merugikan salah satu pihak,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (6/5/2026).


Baca Juga: Asosiasi Logistik Nilai Belum Ada Alasan Naikkan Ongkir dan Biaya Layanan

Menurut Edy, pemerintah perlu menjelaskan terlebih dahulu justifikasi dari rencana kebijakan tersebut, termasuk dampaknya terhadap pelaku UMKM.

“Kalau kami belum jelas justifikasinya apa dan belum dilaksanakan rencana, saya nggak bisa mengerti. Saya nggak tahu tuh apa maunya. Menaikkan alasannya apa? Kepada UMKM ada alasannya enggak? Ada keuntungan UMKM enggak menaikkan?” katanya.

Ia menilai kenaikan biaya layanan maupun logistik berpotensi menekan pelaku UMKM dari dua sisi. Pertama, pelaku usaha bisa menaikkan harga jual produk untuk menutup tambahan biaya. Namun langkah itu dinilai berisiko menurunkan permintaan pasar.

“Jadi biaya layanan itu meningkat pasti harganya kalau menurut opsi satu, ya pasti menaikkan harganya, harga produknya. Akibat menaikkan harga produk karena takut berkurang keuntungannya, pasti akan berkurang permintaannya,” ujarnya.

Menurut Edy, konsumen berpotensi menunda pembelian ketika harga produk meningkat. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat berdampak pada penurunan omzet UMKM.

Di sisi lain, opsi mempertahankan harga jual juga dinilai tidak mudah. Sebab, tambahan biaya layanan akan langsung memangkas margin keuntungan pelaku usaha.

Baca Juga: AirAsia Borong 150 Airbus A220 Senilai US$ 19 Miliar, Siap Ekspansi Asia Pasifik

“Nah, atau opsi kedua, ya sudah harganya tetap, tetapi karena ada biaya layanannya naik, ya kita kuranginlah keuntungan kami,” katanya.

Ia menambahkan, dalam kondisi tersebut pelaku UMKM mau tidak mau harus tetap bertahan meski keuntungan semakin menipis.

Sebelumnya, Kementerian UMKM menyampaikan tengah menyiapkan regulasi efisiensi biaya di ekosistem digital dan berencana mempertemukan platform e-commerce, asosiasi ritel, serta pelaku logistik untuk membahas persoalan tersebut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News