Regulasi Komisi 8% Bayangi GOTO, Fintech Jadi Andalan Pertumbuhan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menghadapi tantangan baru seiring rencana pemerintah membatasi komisi platform transportasi online maksimal 8%.

Kebijakan tersebut berpotensi menekan pendapatan dan profitabilitas bisnis transportasi online GOTO.

Meski begitu, sejumlah analis menilai bisnis teknologi finansial (fintech) yang dijalankan melalui GoPay masih dapat menjadi mesin pertumbuhan baru sekaligus menopang kinerja perseroan dalam beberapa tahun ke depan.


Analis KB Valbury Sekuritas, Atikah Tri Adriyanti masih mempertahankan rekomendasi beli (buy) untuk saham GOTO dengan target harga Rp 58 per saham. Menurut dia, optimisme tersebut ditopang oleh kinerja kuartal I-2026 yang menjadi yang terbaik sepanjang sejarah perusahaan.

Baca Juga: Keluarnya GOTO dan NCKL dari Indeks FTSE Picu Tekanan Jangka Pendek, Ini Kata Analis

Pada Januari-Maret 2026, GOTO membukukan laba bersih Rp 171 miliar. Ini merupakan laba kuartalan pertama sejak perseroan melantai di Bursa Efek Indonesia. Pada periode yang sama, adjusted EBITDA grup melonjak 131% secara tahunan menjadi Rp 907 miliar.

Kontributor terbesar pertumbuhan tersebut datang dari segmen fintech. Pendapatan bersih segmen ini mencapai Rp 1,9 triliun atau tumbuh 58% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Sementara itu, bisnis on-demand services (ODS) yang mencakup layanan transportasi dan pesan antar mencatat pendapatan Rp 3,4 triliun, naik 12% secara tahunan, dengan adjusted EBITDA sebesar Rp 439 miliar atau meningkat 40%.

Meski demikian, Atikah mengingatkan bahwa rencana pembatasan komisi menjadi maksimal 8% berpotensi menjadi tantangan bagi bisnis ODS, terutama segmen mobilitas.

"Berdasarkan perkiraan kami, kebijakan ini dapat menyebabkan penurunan pendapatan ODS Mobility sebesar 35,7% secara tahunan dan menurunkan tingkat komisi bersih ODS menjadi sekitar 17,2% pada 2026," tulis Atikah dalam riset tanggal 26 Mei 2026.

Baca Juga: GOTO dan NCKL Keluar dari Indeks FTSE, Saham Berpotensi Tertekan, Ini Kata Analis

Menurut Atikah, dampak negatif tersebut masih dapat diimbangi oleh pertumbuhan bisnis fintech yang terus berkembang. 

Ia melihat peluang ekspansi layanan keuangan digital masih terbuka lebar, didukung peningkatan penggunaan ekosistem GoPay, pertumbuhan portofolio pinjaman, serta efisiensi operasional yang semakin baik.

Pandangan serupa disampaikan analis Maybank Sekuritas Indonesia Etta Rusidana Putra. Meski memangkas target harga saham GOTO menjadi Rp 80 per saham dari sebelumnya Rp 120, Etta tetap mempertahankan rekomendasi beli.

 
GOTO Chart by TradingView

Etta menilai pembatasan komisi maksimal 8% akan memperlambat perjalanan GOTO menuju profitabilitas yang berkelanjutan. 

Di sisi lain, GOTO mulai melakukan sejumlah penyesuaian untuk merespons perubahan regulasi. Perseroan menghentikan biaya berlangganan pengemudi dalam program Langganan Gacor yang menawarkan omset lebih tinggi untuk pengemudi di ‘Go-Ride Hemat’ dengan tingkat komisi nol dan tetap mempertahankan layanan GoRide Hemat dengan penyesuaian harga bagi konsumen.

Etta memperkirakan gross take rate bisnis ODS turun menjadi 17,4% pada 2026 dari asumsi sebelumnya 22,2%.

Baca Juga: Setelah Turun Kelas Papan Pencatatan Oleh BEI, GOTO Buka Suara soal FTSE dan MSCI

Akibatnya, proyeksi pendapatan bersih GOTO tahun 2026 dipangkas menjadi Rp 17,31 triliun dari sebelumnya Rp 20,24 triliun. Perseroan juga diperkirakan kembali mencatat rugi bersih sekitar Rp 575 miliar pada 2026 sebelum kembali membukukan laba pada 2027.

Menurut Etta, kinerja bisnis ODS ke depan akan sangat dipengaruhi oleh pertumbuhan nilai transaksi bruto (GTV), tingkat komisi, biaya promosi, serta efisiensi operasional.

Selain itu, kenaikan harga energi global juga menjadi salah satu risiko yang perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi biaya operasional mitra pengemudi maupun daya beli masyarakat.

Di tengah tantangan tersebut, bisnis fintech dinilai tetap menjadi titik terang bagi GOTO. Etta memperkirakan pendapatan segmen fintech mencapai Rp 7,4 triliun pada 2026 dan meningkat menjadi Rp 8,9 triliun pada 2028.

Baca Juga: Terjerembab Di Saham Gocap, Inilah Deretan Investor Pemilik Saham GOTO Per April 2026

Tidak hanya dari sisi pendapatan, profitabilitas segmen ini juga diperkirakan terus membaik. Adjusted EBITDA fintech diproyeksikan mencapai Rp 1,5 triliun pada 2026 dan meningkat menjadi Rp 2,6 triliun pada 2028.

"Kami menilai dorongan regulasi berdampak pada operasi dan profitabilitas jangka pendek. Sebagai sebuah grup, kami mengharapkan GOTO untuk memberikan penghematan biaya dan mengantisipasi pemulihan bertahap," ujar Etta pada riset 26 Mei 2026.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News