KONTAN.CO.ID – MANCHESTER. Regulator sepak bola independen Inggris memiliki kewenangan untuk meminta pemilik klub melepas kepemilikannya jika dinilai tidak memenuhi standar yang berlaku. Kewenangan tersebut menjadi sorotan di tengah proses banding Manchester City atas putusan terkait dugaan pelanggaran aturan keuangan Premier League. Ketua Independent Football Regulator (IFR), David Kogan, mengatakan lembaganya dapat menilai perilaku pemilik serta pejabat senior klub berdasarkan standar yang ditetapkan regulator. Jika pemilik dinilai gagal memenuhi persyaratan tersebut, IFR berwenang mengambil tindakan hingga meminta pemilik meninggalkan klub. "Kami memiliki kewenangan untuk meminta seorang pemilik mundur dari klub jika kami meyakini bahwa mereka menjalankan klub dengan cara yang tidak layak, tidak adil, atau tidak dilakukan dengan semestinya," kata Kogan dalam siniar The Rest Is Football.
Ketika ditanya oleh salah satu pembawa acara, Alastair Campbell, apakah pemilik klub dapat menolak permintaan tersebut, Kogan menegaskan kewenangan regulator.
Baca Juga: Inflasi Inggris Melonjak Menjadi 3,5%, Suku Bunga Berpotensi Naik pada November 2026 "Tidak, tidak, tidak. Kami memiliki kewenangan penuh untuk melakukan hal tersebut," ujarnya. Independent Football Regulator dibentuk pada Juli 2025 untuk menjaga keberlanjutan keuangan sepak bola Inggris. Lembaga ini memiliki kewenangan mengawasi pemilik dan direktur klub serta melakukan intervensi ketika sebuah klub menghadapi risiko keuangan. Kewenangan tersebut kembali menjadi perhatian publik seiring proses banding Manchester City atas putusan terkait 114 dugaan pelanggaran aturan keuangan Premier League. Kogan mengatakan IFR akan menunggu proses banding tersebut selesai sebelum memutuskan apakah perlu membuka penyelidikan secara terpisah. "Saya tidak akan terburu-buru mengambil keputusan apa pun mengenai hal ini sebelum seluruh pertanyaan tersebut mendapatkan jawaban. Setelah itu, kami harus memutuskan apakah akan melakukan penyelidikan sendiri, mengambil kesimpulan, dan menentukan tindakan yang akan kami ambil," katanya. "Mendahului proses tersebut akan menjadi kesalahan yang sangat besar," imbuh Kogan. Ia menjelaskan, peran IFR berbeda dengan Premier League. Regulator independen tersebut berfokus pada individu yang menjalankan klub, sedangkan Premier League dapat menjatuhkan sanksi olahraga kepada klub. "Kami akan melakukan penilaian berdasarkan standar kepemilikan serta persyaratan bagi direktur senior dan eksekutif. Kami akan menilai tindakan individu-individu tersebut," ujar Kogan.
Baca Juga: IPO Jio Platforms Senilai US$ 3,2 Miliar Laris dalam Dua Jam, Investor Berebut Saham "Kami tidak berada dalam posisi yang sama. Berbeda dengan Premier League, kami tidak dapat mengambil tindakan terhadap klub berupa denda, pengurangan poin, atau sanksi lainnya," tambahnya. Kogan juga menjelaskan bahwa IFR tidak dapat secara otomatis menghalangi pengambilalihan klub sepak bola Inggris oleh pihak yang didukung negara hanya berdasarkan asal atau status investor tersebut. "Undang-undang tersebut tidak memberi kami kewenangan untuk memblokir suatu transaksi hanya karena investornya adalah dana kekayaan negara Norwegia, sebagai contoh," katanya. "Namun, kami terikat pada ketentuan undang-undang yang telah disusun, dan ketentuan tersebut tidak menutup kemungkinan terjadinya hal seperti itu."
Kesepakatan Premier League dan EFL
Dalam wawancara yang juga menghadirkan Gary Lineker dan Alastair Campbell, Kogan mengungkapkan perkembangan proposal untuk menyelesaikan perselisihan berkepanjangan mengenai pembagian pendapatan antara Premier League dan English Football League (EFL). Menurut Kogan, Premier League kini membahas peningkatan pembayaran solidaritas kepada klub-klub di divisi yang lebih rendah. "Premier League sekarang membicarakan pembayaran lebih dari dua kali lipat jumlah yang mereka bayarkan setiap tahun melalui apa yang dikenal sebagai pembayaran solidaritas, yaitu dana yang disalurkan ke liga-liga lain di bawahnya," kata Kogan. Dalam proposal tersebut, pembayaran parasut atau parachute payments kepada klub yang terdegradasi dari Premier League akan dikurangi. Sementara itu, pendanaan yang mengalir ke Championship, divisi di bawah Premier League, akan meningkat secara signifikan.
Baca Juga: Harga Emas Turun, Dipicu Kenaikan Harga Minyak yang Menyulut Kekhawatiran Inflasi Kogan menilai perubahan tersebut dapat mempersempit kesenjangan keuangan antara klub-klub yang baru terdegradasi dan menerima pembayaran parasut dengan klub lain yang bersaing di Championship.
Selama ini, pembayaran parasut diberikan untuk membantu klub yang turun kasta menyesuaikan diri dengan penurunan pendapatan setelah meninggalkan Premier League. Namun, besarnya dukungan tersebut juga menjadi sumber perdebatan karena dinilai dapat menciptakan ketimpangan kompetisi di divisi bawah. Selain persoalan distribusi pendapatan, Kogan menyoroti besarnya biaya yang dibayarkan klub kepada agen pemain. Menurut dia, total biaya agen telah melampaui £500 juta atau 500 juta poundsterling. "Biaya agen sangat tidak masuk akal. Lebih dari £500 juta. Jumlahnya mencapai setengah miliar poundsterling," katanya. "Saya jauh lebih memilih jika uang itu digunakan untuk membayar pemain." Kogan juga menyoroti besarnya utang antarklub sepak bola yang menurutnya mencapai miliaran poundsterling. Ia menambahkan, utang yang berkaitan dengan aktivitas transfer pemain terus meningkat secara signifikan.