Rekind Perkuat Dukungan Terhadap Proyek Panas Bumi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Rekayasa Industri (Rekind) memperkuat komitmennya mendukung pengembangan industri panas bumi nasional melalui pembangunan proyek PLTP serta kolaborasi dan berbagi pengetahuan dengan pelaku industri.

Direktur Utama Rekind Triyani Utaminingsih mengatakan, pengembangan panas bumi menjadi bagian penting dalam mewujudkan ketahanan dan kemandirian energi Indonesia. “Panas bumi tidak hanya menyediakan energi bersih, tetapi juga mendukung agenda pemerintah dalam memperkuat ketahanan energi nasional,” kata Triyani dalam keterangannya, Sabtu (29/8/2026).

Sebagai wujud komitmen itu, Rekind ikut serta dalam The 12th Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2026. Rekind hadir bersama mitra strategisnya, PT Timas Suplindo (Timas). IIGCE merupakan ajang pertemuan pemerintah, pengembang pembangkit, perusahaan EPC, penyedia teknologi, serta pelaku usaha pendukung industri PLTP.


Rekind mencatat kontribusi signifikan dalam pengembangan panas bumi nasional. Dari total kapasitas PLTP yang dibangun pemerintah sekitar 2.744 MW, sebanyak 990,4 MW atau 36,1% berasal dari proyek yang dirancang bangun Rekind. 

Baca Juga: 110 Proyek Panas Bumi Berkapasitas 5,1 GW Mayoritas Dikembangkan Swasta

Rekam jejak tersebut menjadi modal bagi Rekind untuk terus berkontribusi di industri panas bumi dan memperkuat posisinya sebagai perusahaan EPC nasional. Salah satu kontribusi terbaru Rekind diwujudkan melalui kolaborasi dengan PT Timas Suplindo dalam Proyek PLTP Salak Unit 7 milik Star Energy Geothermal di Sukabumi, Jawa Barat.

Project Manager PLTP Salak 7 Dwi Novianto mengatakan, kolaborasi Timas dan Rekind telah terjalin sejak 2024 melalui Joint Operation (JO) untuk mengerjakan proyek Engineering, Procurement, Construction and Installation (EPCI) dengan dukungan engineer dan tenaga ahli Indonesia.

Menurut Dwi, keikutsertaan dalam IIGCE 2026 menjadi momentum memperkuat kolaborasi dan berbagi pengalaman guna mendorong pengembangan ekosistem panas bumi nasional.

Proyek PLTP Salak Unit 7 berkapasitas 40 MW menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari kompleksitas teknis, target waktu yang ketat, lokasi di kawasan pegunungan, mobilitas peralatan berukuran besar, hingga area kerja yang terbatas sekitar 6.000 meter persegi dan berdekatan dengan fasilitas eksisting yang tetap beroperasi.

Baca Juga: Target PNBP Panas Bumi Rp 2,6 Triliun, Pemerintah Genjot Eksplorasi

Saat ini, progres proyek telah mencapai sekitar 80% dan memasuki tahap peralihan dari konstruksi ke pre-commissioning. Tahap ini mencakup pemeriksaan kualitas instalasi, pengujian awal sistem, penyelesaian punch list, kelengkapan dokumen serah terima, serta persiapan commissioning.

Pengalaman di PLTP Salak Unit 7 menunjukkan bahwa pengembangan panas bumi membutuhkan tidak hanya kemampuan teknis, tetapi juga kolaborasi, ketelitian, pengalaman, dan kompetensi tenaga ahli nasional. Panas bumi juga menjadi bagian penting dalam mengoptimalkan kekayaan alam, memperkuat industri dalam negeri, serta membangun ketahanan dan kemandirian energi Indonesia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News