KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Berdasarkan data CoinMarketCap Kamis (9/7/2026) pukul 17.31 WIB, harga Bitcoin (BTC) berada di level US$ 62.823,73. Mata uang kripto nomor satu ini mencatatkan penurunan tipis 0,04% dalam satu jam terakhir, namun berhasil menguat 1,28% dalam 24 jam terakhir serta tumbuh 2,71% dalam sepekan. Dengan kapitalisasi pasar sebesar US$ 1,25 triliun serta volume perdagangan 24 jam mencapai US$ 26,31 miliar, pergerakan harga Bitcoin tetap menjadi acuan utama bagi arah pasar di paruh kedua tahun ini.
Baca Juga: KLBF Hadapi Tekanan Rupiah dan Biaya Bahan Baku, Begini Rekomendasi Analis Pada kuartal III-2026, pemilihan portofolio investasi yang selektif pada instrumen berfundamental kuat menjadi strategi utama bagi para pelaku pasar di tengah volatilitas tinggi. Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menjabarkan sejumlah pilihan aset digital menarik yang dapat masuk ke dalam radar pantauan investor pada kuartal ini. "Beberapa aset kripto yang menarik dicermati pada kuartal III-2026 adalah BTC, ETH, SOL, AVAX, LINK, ONDO, dan TKO." tutur Fyqieh kepada Kontan, Kamis (9/7/2026). Penguatan adopsi institusional serta perkembangan narasi tokenisasi aset nyata atau
Real World Assets (RWA) diproyeksikan bakal mendongkrak performa token infrastruktur tertentu jika minat terhadap altcoin kembali pulih. "Namun secara umum, investor tetap perlu selektif dan fokus pada aset dengan likuiditas kuat, fundamental jelas, serta katalis yang relevan, bukan hanya token yang bergerak karena hype jangka pendek." tambah Fyqieh, menegaskan prinsip pemilihan asetnya. Beralih ke analisis pergerakan grafik, kekuatan level harga Bitcoin di batas bawah saat ini sedang berada dalam fase krusial untuk menentukan kelanjutan tren jangka pendek. "Jika area krusial US$60.000–US$62.000 kembali diuji, Bitcoin akan berada di fase penentuan arah jangka pendek." kata Fyqieh.
"Skenario positifnya, BTC bertahan di atas US$60.000–US$62.000 lalu mencoba kembali ke US$65.000–US$67.000. Skenario negatifnya, jika US$60.000 ditembus dengan volume jual besar, BTC berisiko melemah ke US$58.000 bahkan US$56.500," pungkas Fyqieh. Oleh karena itu, para pelaku pasar sangat disarankan untuk tetap cermat dalam mengamati setiap konfirmasi pembalikan arah tren sebelum memutuskan untuk mengambil tindakan investasi yang agresif.
Baca Juga: Rupiah Anjlok ke Rp 18.128, Sentimen Domestik dan Eksternal Kompak Membebani Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News