Rekomendasi Saham Indofood CBP (ICBP) yang Solid Didukung Kekuatan Harga Jual



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) bakal diuntungkan oleh ekspansi margin. Harga jual produk ICBP berada di level yang tinggi di kala harga bahan baku melandai.

Analis RHB Sekuritas Vanessa Karmajaya dalam riset 6 Desember menilai prospek ICBP bakal lebih baik di tahun 2023. Terdapat beberapa faktor pendukung marjin ICBP termasuk penurunan harga komoditas dan kepemimpinan pasar Indofood CBP yang kuat.

Kondisi tersebut bisa menghasilkan kekuatan harga yang solid . Serta, kinerja ICBP bakal didukung meredanya fluktuasi nilai tukar yang diperkirakan stabil pada semester kedua 2022.


Vanessa melihat ICBP mampu mempertahankan pertumbuhan di tengah inflasi yang lebih tinggi di semester pertama 2023. Di sisi lain, ada dampak minimal dari inflasi yang lebih tinggi. Mi tetap menjadi salah satu makanan pokok paling terjangkau di Indonesia.  

Baca Juga: Jangan Ketinggalan! Saham-Saham Pilihan Untuk Bulan Ramadan Bisa Mulai Dikoleksi

Produsen mi instan ini juga tidak kehilangan pasar saat harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) ditingkatkan. Hal tersebut membuat ICBP bisa memperluas ekspansi margin kotor.

Seperti diketahui, divisi mi tetap menjadi kontributor pertumbuhan utama ICBP. Segmen bisnis ini membukukan pertumbuhan pendapatan 8% quarter on quarter (QoQ) dan 16% year on year (YoY) di kuartal ketiga 2022. 

Selain itu, produk mie menjadi kontributor utama dari marjin ICBP yang kuat . Divisi ini membukukan margin EBITDA sebesar 25,6% di kuartal ketiga 2022, membaik dari 16,6% di kuartal kedua 2022 dan 21,8% di kuartal ketiga 2021. Secara keseluruhan, margin kotor menjadi 34,2% di kuartal ketiga 2022 dibandingkan 29,4% di kuartal kedua 2022.

"Pola positif ini bakal bertahan mengingat penurunan harga komoditas terutama gandum dan minyak goreng, kekuatan harga yang kuat dan pelonggaran depresiasi rupiah khususnya di semester kedua 2023," tulis Vanessa dalam riset pada 6 Desember 2022.

Baca Juga: Industri AMDK Berpotensi Tumbuh, Simak Rekomendasi Saham Berikut Ini

Meski ASP naik signifikan, Analis Mirae Asset Sekuritas Christine Natasya meyakini bahwa harga mie ICBP tetap bertahan dan mampu bersaing dengan produk tradisional. Sejauh ini, pangsa pasar mi ICBP pun masih terjaga di kisaran 70%-75%.

Dalam periode Januari-September 2022, divisi Mi atau Noodle menaikkan ASP sebesar 11% YoY dengan volume penjualan tumbuh sebesar 5% YoY.

"Prospek ICBP sangat bagus karena kekuatan harga yang dimiliki perusahaan," ujar Christine kepada Kontan.co.id, Minggu (22/1)

Christine mencermati harga komoditas dapat turun dari level harga di tahun 2022 karena kesenjangan antara penawaran dan permintaan kemungkinan akan surut. Kenaikan harga komoditas memang masih menjadi risiko, namun bisa dinormalisasi .

Baca Juga: Saham MDKA dan ANTM Menggantikan BBRI dan BMRI di Top Picks Mirae Asset Bulan Ini

Kondisi tekanan dari tingginya input biaya bahan baku tersebut secara bertahap bisa menjadi lebih baik di tahun 2023 seiring dengan pemulihan ekonomi yang seharusnya pertanda bagus untuk penjualan perusahaan konsumer. Sementara normalisasi harga komoditas dengan ASP yang lebih tinggi di tengah meningkatnya inflasi akan menghasilkan kenyamanan margin bagi perusahaan fast moving consumer goods (FMCG).

Christine tak menampik bahwa kinerja perusahaan konsumer Indonesia memang berkaitan erat dengan harga komoditas global, terutama bahan mentah .

Sejak kuartal ketiga tahun 2021 hingga kuartal kedua 2022, ada kenaikan signifikan di beberapa komoditas harga. Kenaikan tersebut masih memberikan tekanan pada margin laba perusahaan konsumen, meskipun sudah melemah di kuartal ketiga 2022.

Kendati demikian, Mirae Asset Sekuritas memperkirakan harga rata-rata bahan baku misalnya CPO di tahun 2023 bakal turun menjadi MYR 3.900 per ton. Optimisme itu menakar adanya kemungkinan berakhirnya La Nina di awal tahun 2023 yang akan berdampak pada normalisasi produksi dan meningkatkan hasil panen.

Baca Juga: Defensif dan Punya Valuasi Murah, Simak Rekomendasi Saham Barang Konsumsi

Christine bilang, berkat kekuatan harga ICBP yang solid dalam bisnis mi telah menunjukkan bahwa perusahaan mampu menghadapi hembusan inflasi. Secara bersamaan, pangsa pasar juga mampu dipertahankan.

Di tahun 2023, pertumbuhan konsumsi pribadi diyakini akan tetap stabil mengingat pemulihan permintaan yang terus berlanjut seiring dengan membaiknya tingkat mobilitas. Kondisi ini menguntungkan perusahaan konsumen yang bisa mempertahankan pangsa pasar dengan cukup baik.

Christine menambahkan, kenaikan upah minimum 2023 juga akan mendukung pemulihan daya beli masyarakat berpendapatan menengah ke bawah di tengah meningkatnya inflasi.

Analis Ciptadana Sekuritas Putu Chantika dalam riset 16 Januari 2023 mengatakan bahwa emiten konsumer seperti ICBP memiliki prospek cerah di tahun 2023 karena terdorong aktivitas ekonomi masyarakat yang telah dibuka pasca pandemi.

Lihat saja, pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap kuat dengan mencatatkan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 5,7% YoY di kuartal ketiga 2022, berkat dibukanya kembali aktivitas ekonomi, kuatnya harga komoditas, permintaan yang terpendam, dan normalisasi belanja pemerintah.

Baca Juga: Valuasi Murah dan Tahan Banting, Ini Rekomendasi Saham Konsumen Primer

Melangkah ke tahun 2023, Putu menjelaskan, pemerintah telah mengambil langkah untuk mempertahankan momentum pemulihan seperti menaikkan upah minimum pekerja rata-rata 7,4% di tahun 2023.

Hanya saja, mesin pertumbuhan belum begitu baik dari divisi bisnis lainnya seperti susu. Manajemen ICBP mengungkapkan bahwa segmen susu menghadapi persaingan yang ketat, kompetitor tidak mengikuti kenaikan harga yang dilakukan ICBP secara agresif.

Dari sisi risiko, waspadai turunnya permintaan penjualan dari ICBP, kenaikan biaya operasional, depresiasi rupiah serta ketidakpastian politik dari sentimen Pemilihan Umum (Pemilu).

Baca Juga: IHSG Volatil, Investor Bisa Cermati Saham-Saham Sektor Keuangan dan Konsumsi Primer

Putu tidak memungkiri bahwa kerugian valas yang belum direalisasi yang timbul dari aktivitas pembiayaan menekan bisnis ICBP. Karena itu, proyeksi laba ICBP direvisi turun 5,2% menjadi Rp 5,01 triliun untuk tahun 2022.

Tetapi, Ciptadana Sekuritas tetap mempertahankan proyeksi laba emiten grup Salim ini untuk tahun 2023-2024 masing-masing sebesar Rp 7,42 triliun dan Rp 8,41 triliun. Sebab, ICBP didukung oleh peningkatan margin dan kekuatan harga.

Adapun Putu mempertahankan rekomendasi buy saham ICBP dengan target harga Rp 11.800 per saham. Senada, Vanessa merekomendasikan buy ICBP tapi dengan target harga lebih tinggi Rp 12.500 per saham. Sementara, Christine merekomendasikan trading buy pada ICBP dengan target harga sebesar Rp 12.100 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati