Reksadana campuran BNI-AM targetkan return 10%



JAKARTA. Tawaran reksadana campuran terus berdatangan. Salah satunya, Reksadana BNI-AM Dana Campuran Investasi Gemilang racikan PT BNI Asset Management, yang dirilis awal Desember 2016 lalu.

Andre Varian, Manajer Investasi BNI Management, menuturkan, peluncuran Reksadana BNI-AM Dana Campuran Investasi Gemilang memanfaatkan momentum posisi pasar saham yang sedang mengalami koreksi. Sedangkan yield Surat Utang Negara (SUN) lagi bagus.

Dengan mengeluarkan reksadana campuran ini, manajer investasi milik PT BNI Securities ini juga mengejar fleksibilitas. “Misal, ketika satu instrumen terpuruk, kami bisa langsung pindah ke SUN atau obligasi korporasi,” ujar Andre.


BNI Management membidik pemodal institusi untuk reksadana campuran terbarunya. “Makanya, kami tidak ada batasan minimal investasi awal dan selanjutnya, karena rata-rata investor institusi masuk dengan jumlah miliaran rupiah,” ungkap Andre.

Buat investor yang tertarik, BNI Management berani menargetkan imbal hasil hingga 10% untuk 2017. Sebab, Andre bilang, Reksadana BNI-AM Dana Campuran Investasi Gemilang memang mengincar investor yang menginginkan return yang bisa mengalahkan instrumen acuan atau benchmark.

Agar bisa memberikan imbal hasil hingga 10%, BNI Management bakal menempatkan dana kelolaan produk reksadananya itu di saham dan obligasi. Komposisinya: masing-masing 25% di saham dan Surat Utang Negara (SUN) lalu 50% di surat utang korporasi.

Itu sebabnya, tipe reksadana ini agak semi konservatif. “Tapi, kebijakan ini masih bisa berubah, dengan melihat kesempatan ke depan bagaimana,” kata Andre.

Untuk penempatan dana kelolaan Reksadana BNI-AM Dana Campuran Investasi Gemilang di obligasi swasta, BNI Management memilih surat utang dengan rating minimal single A. Sementara untuk obligasi terbitan badan usaha milik negara (BUMN), ratingnya paling minim ialah single A minus.

Lalu, penempatan dana kelolaan di SUN, BNI Management mengambil obligasi dengan tenor 5 tahun–10 tahun. Pasalnya, saat ini posisinya sedang murah alias undervalue. “Kalau yang jangka panjang nanti jadi overvalue,” ungkap Andre.

Sedang untuk saham, pilihan utamanya jatuh ke saham sektor perbankan, infrastruktur, perkebunan kelapa sawit, dan konsumer. Saat ini, portofolio saham lima teratas atawa top five dari Reksadana BNI-AM Dana Campuran Investasi Gemilang adalah: PT Astra International Tbk (ASII), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), serta PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).

Hingga kini, dana kelolaan produk reksadana ini mencapai Rp 100 miliar. “Semoga sampai tahun depan pencapaiannya bisa dobel, tumbuh sampai Rp 200 miliar,” ujar Andre yang menambahkan, tidak ada biaya pembelian maupun penjualan Reksadana BNI-AM Dana Campuran Investasi Gemilang.

Menurut Wawan Hendrayana, Senior Research & Investment Analyst PT Infovesta Utama, reksadana campuran masih bisa berkinerja baik. Setelah terpuruk di akhir tahun lalu, pasar saham bakal kembali bangkit tahun ini.

Hanya, kinerja obligasi tahun depan tidak akan sebaik tahun ini. Sebab, tren suku bunga turun sudah tidak ada lagi, bahkan bisa saja naik, menyusul rencana bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed) mengerek suku bunga sebanyak tiga kali pada 2017 nanti.

Wawan memperkirakan, imbal hasil reksadana campuran tahun depan bisa mencapai 7%–9%. Reksadana jenis ini cocok untuk investor dengan horizon jangka menengah. “Investasi jangka waktu satu sampai tiga tahun cocok di reksadana campuran,” imbuhnya.

Mau?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: S.S. Kurniawan