Reksadana Campuran Catat Kinerja Positif, Bagaiman Prospeknya hingga Akhir Tahun?



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Reksadana campuran menjadi reksadana dengan kinerja terbaik kedua setelah reksadana pendapatan tetap pada Januari 2023. Berdasarkan data Infovesta, imbal hasil Infovesta 90 Balanced Fund Index adalah sebesar 0,41%, sedikit lebih rendah dari Infovesta 90 Fixed Income Fund Index 0,77%.

Jika dilihat lebih rinci, lima besar produk reksadana campuran dengan return tertinggi memberikan imbal hasil 4,24%-3,13%. Secara berurutan, lima reksadana tersebut adalah Jarvis Balanced Fund dengan return 4,24%, Sam Providentia Balanced Fund 3,64%, Sucorinvest Anak Pintar 3,56%, Lautandhana Balanced Progressive Fund 3,44%, dan SAM Dana Berkembang 3,13%.

Investment Specialist Sucorinvest Asset Management Caroline Hanni mengatakan, Sucorinvest Anak Pintar (SAP) merupakan reksadana campuran filantrofi dengan strategi pengelolaan yang cenderung agresif. Secara historikal, penempatan porsi untuk efek ekuitas lebih besar dibandingkan porsi efek surat utang atau pasar uang.


Porsi efek saham di SAP per Januari 2023 sebesar 73,34%, sedangkan porsi efek surat utang sebesar 25,02% dan instrumen pasar uang sebesar 1,64%. Dalam satu tahun terakhir, dengan komposisi efek ekuitas yang lebih besar, SAP berhasil memberikan imbal hasil 17,23% (dibanding benchmark 2,02%).

Baca Juga: Asing Serbu Obligasi, Kinerja Reksadana Pendapatan Tetap Moncer

Dengan menerapkan strategi yang sama, SAP mampu bertumbuh 174,74% sejak diterbitkan (dibanding benchmark 13,6%). Menurutnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang menguat menjadi pendorong pergerakan SAP beberapa waktu terakhir khususnya pada sektor terkait consumer goods.

"Sucorinvest Asset Management menilai dalam jangka panjang, dengan komposisi yang didominasi efek ekuitas akan mampu memberikan return optimal untuk SAP," kata Caroline saat dihubungi, Senin (6/2).

Dalam pemilihan efek ekuitas, SAP mengutamakan saham high conviction yang memiliki valuasi menarik atau cenderung undervalued dalam siklus pasar dan bisnis yang ada. Saat ini, sektor yang dipilih terkait consumer goods, properti, dan komoditas.

Menurut Caroline, harga komoditas energi masih akan bertahan pada level cukup tinggi dari pra-pandemi meskipun saat ini mulai melandai. Pasalnya, masih terdapat disrupsi pasokan akibat konflik geopolitik Rusia-Ukraina.

Di sisi lain, harga untuk soft commodities seperti bahan baku pangan mulai melandai sehingga akan mempertebal margin laba perusahaan dari bisnis consumer goods. Selain itu, meningkatnya optimisme masyarakat setelah normalisasi aktivitas yang akan meramaikan sektor turunan properti di tengah pertumbuhan ekonomi Indonesia yang solid, yang juga tercermin dari pertumbuhan kredit.

Sementara itu, untuk pemilihan efek utang (obligasi dan sukuk), diutamakan variasi seri dengan tenor di bawah lima tahun karena cukup likuid dan defensif. Sucorinvest Asset Management juga memilih obligasi dan sukuk dengan rating minimum AA- yang memberikan kupon menarik.

Untuk tahun 2023, Caroline menargetkan SAP dapat mencatatkan return di level 7%-8%, di atas benchmark. Mengingat strategi SAP yang agresif, penempatan aset akan tetap diberatkan pada efek ekuitas/saham. Namun perubahan sektor dan pemilihan saham dapat berubah sewaktu-waktu melihat siklus pasar dan bisnis yang ada.

Research & Consulting Manager Infovesta Utama Nicodimus Kristiantoro menambahkan, pada Infovesta 90 Balanced Fund Index, konstituen produk reksadana campuran mayoritas didominasi oleh porsi aset saham. Dari top 10 penghasil return tertinggi bulan Januari 2023, sebesar 70% diisi oleh reksadana campuran yang porsi asetnya dominan di saham, lalu sisanya di surat utang dan pasar uang.

Baca Juga: Reksadana Pendapatan Tetap Mentereng pada Awal Tahun, Reksadana Saham Tertekan

Nico melihat, prospek reksadana campuran tetap menarik dengan proyeksi return tahun 2023 sebesar 5%-7%. Pasalnya, instrumen saham dan obligasi pada tahun ini diproyeksi mencatatkan perbaikan kinerja dibanding tahun 2022.

"Alhasil, memilih reksadana campuran ini bisa menjadi salah satu alternatif pilihan instrumen investasi yang optimal dari sisi return dan risiko," tutur Nico.

Penempatan mayoritas di saham, lalu di pasar obligasi masih akan menjadi dua instrumen yang disukai para manajer investasi. Apalagi, kenaikan suku bunga acuan diprediksi akan mencapai puncaknya pada semester 1 2023.

Setelah itu, laju kenaikannya akan berhenti bahkan suku bunganya bisa turun. Manajer investasi tinggal menyesuaikan strategi dan momen yang tepat dalam mengelola reksadananya agar timing-nya sesuai untuk mendapatkan cuan yang lebih maksimal.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Tendi Mahadi