Reksadana Campuran Turun 5,2% di Maret 2026, Ini Strategi Pinnacle Genjot Return



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja reksadana campuran tertekan di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global. Berdasarkan data Infovesta Utama, imbal hasil reksadana campuran pada Maret 2026 tercatat turun 5,62% secara bulanan (month-on-month).

Di tengah pelemahan tersebut, Pinnacle Winner Balanced Fund masih mampu mencatatkan kinerja positif dengan imbal hasil 3,09% sepanjang tahun berjalan (year-to-date/YtD), meski terkoreksi 2,95% dalam sebulan terakhir.

Melansir laporan kinerja Maret 2026, reksadana dengan profil risiko moderat ini memiliki dana kelolaan (asset under management/AUM) sebesar Rp 14,66 miliar. 


Baca Juga: Pemerintah Pangkas RKAB Batubara, Begini Prospek Kinerja Emiten Sektor Batubara

Dari sisi alokasi aset, portofolio didominasi oleh instrumen ekuitas sebesar 79,12%. Sementara itu, porsi pasar uang mencapai 19,84% dan pendapatan tetap sebesar 1,04%.

CEO Pinnacle Investment Guntur Putra mengatakan, peningkatan porsi saham dilakukan secara bertahap sejak pasar mengalami koreksi pada awal tahun.

"Sebagai perbandingan di Januari kemarin, porsi equity (saham) hanya sekitar 30% jadi secara taktis memang asset allocation strategy kami bekerja dengan baik," ujar Guntur kepada Kontan, Sabtu (18/4/2026).

Ia menjelaskan, keputusan menambah eksposur ekuitas didorong oleh koreksi pasar yang cukup dalam sejak akhir Januari hingga April, dipicu oleh sejumlah sentimen seperti isu MSCI, kebijakan regulator, serta meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah.

Menurutnya, penentuan alokasi tersebut dilakukan melalui kombinasi analisis top-down terhadap kondisi makroekonomi dan pendekatan bottom-up dalam pemilihan saham.

"Dengan pendekatan yang sistematis dan berbasis kuantitatif, kami melihat adanya peluang risk-reward yang menarik di pasar ekuitas, sehingga eksposur kami tingkatkan secara terukur," kata Guntur. 

Baca Juga: Pasar Tas Luxury Bertahan, Tetapi Kelas Menengah Mulai Jual Koleksi

Meski demikian, Guntur menegaskan komposisi portofolio tetap fleksibel dan dapat disesuaikan dengan dinamika pasar, dengan tetap mengedepankan manajemen risiko yang disiplin.

Dari sisi sektoral, portofolio masih didominasi saham perbankan dan barang konsumsi. Beberapa kepemilikan utama antara lain PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sekitar 9%, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) 9%, PT Bank MNC Internasional Tbk (BABP) 8,9%, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) 8,8%, serta PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) 8,7%.

Guntur menyebut eksposur besar pada sektor perbankan merupakan hasil seleksi berbasis fundamental, dengan mempertimbangkan kualitas laba, kekuatan neraca serta valuasi yang dinilai masih menarik.

Ia menambahkan, posisi masuk pada saham perbankan dilakukan pada level valuasi yang lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya, seiring koreksi harga saham sektor tersebut yang sempat melampaui 20%.

Dengan strategi tersebut, Pinnacle tetap menjaga diversifikasi portofolio serta menerapkan kerangka manajemen risiko untuk mengendalikan potensi penurunan (downside risk) di tengah volatilitas pasar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News