Reksadana Dolar AS Masih Relevan untuk Diversifikasi, Ini Strateginya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dinilai masih membuka peluang bagi investor untuk berinvestasi pada reksadana berdenominasi dolar AS. 

Hal tersebut tercermin pada data Infovesta yang mencatat kenaikan pertumbuhan dana kelolaan (asset under management/AUM) reksadana dolar AS.

Reksadana dolar AS dengan pertumbuhan AUM tertinggi ditempati BNP Paribas Prima USD kategori pendapatan tetap. Produk tersebut mencatat pertumbuhan AUM sebesar US$ 106,53 juta atau naik 82,77% secara tahunan (year on year/yoy).


Selanjutnya, Manulife Liquid Fund USD kategori pasar uang tumbuh US$ 96,53 juta atau melonjak 372,15% yoy. Kemudian Danamas Dollar kategori pendapatan tetap tumbuh US$ 39,28 juta atau 33,85% yoy.

Baca Juga: Danantara Masuk Saham GOTO, Ini Kata Pandu

Selain itu, AUM Sucorinvest Money Market USD melonjak US$ 13,34 juta atau tumbuh 899,55% secara tahunan (year on year/yoy).

Meski demikian, investor disarankan tetap selektif dan menerapkan strategi investasi bertahap guna mengantisipasi volatilitas pasar.

Head of Investment Specialist and Product Development Sucorinvest Asset Management, Lolita Liliana mengatakan sepanjang tahun ini hingga 11 Mei 2026, rupiah telah melemah lebih dari 3% terhadap dolar AS. 

Kondisi tersebut menjadikan rupiah sebagai salah satu mata uang dengan pelemahan terbesar di kawasan Asia setelah India dan Filipina.

Menurut Lolita, tren pelemahan rupiah juga terjadi dalam jangka panjang. Dalam 10 tahun terakhir, rata-rata kinerja tahunan rupiah terhadap dolar AS cenderung mengalami depresiasi.

"Dalam jangka panjang, investasi pada instrumen denominasi dolar AS masih relevan terutama untuk tujuan diversifikasi dan investasi jangka panjang," ujar Lolita kepada Kontan, Senin (11/5).

Namun, ia mengingatkan kondisi pasar saat ini juga perlu dicermati karena pelemahan rupiah sudah cukup dalam, sementara aset berbasis saham AS telah mengalami kenaikan signifikan.

Hal tersebut tercermin dari indeks S&P 500 yang kembali mencetak rekor tertinggi baru atau all time high.

Oleh karena itu, Lolita menilai strategi investasi bertahap atau dollar cost averaging (DCA) lebih tepat diterapkan untuk mengantisipasi volatilitas jangka pendek.

"Dalam situasi saat ini, investasi secara bertahap bisa menjadi pilihan agar investor tidak terlalu terpapar risiko fluktuasi pasar dalam jangka pendek," kata Lolita.

Lolita menjelaskan, salah satu pertimbangan investor memilih reksadana dolar AS adalah adanya kebutuhan aset maupun kewajiban dalam mata uang dolar AS. Selain itu, produk tersebut juga menjadi sarana diversifikasi aset global.

Menurut dia, reksadana dolar AS memberikan fleksibilitas bagi investor untuk memperoleh eksposur terhadap aset berbasis dolar tanpa harus berinvestasi langsung ke instrumen luar negeri secara mandiri.

"Selain itu, investor juga mempertimbangkan kualitas underlying asset serta kinerja reksadana terkait," imbuhnya.

Meski menarik, investasi pada reksadana dolar AS tetap memiliki sejumlah risiko. Salah satunya adalah risiko translasi nilai tukar.

Lolita menjelaskan, apabila rupiah menguat lebih besar dibandingkan kinerja reksadana, maka imbal hasil investasi setelah dikonversi ke rupiah bisa menjadi negatif meskipun produk tersebut mencatatkan return positif dalam denominasi dolar AS.

Selain itu, investor juga perlu memperhatikan aspek likuiditas. Dibandingkan reksadana pasar uang berbasis rupiah, proses pencairan reksadana dolar AS umumnya membutuhkan waktu lebih lama.

"Untuk reksadana rupiah, pencairan dana umumnya T+1 hari kerja setelah redemption, sedangkan reksadana dolar AS biasanya berada di kisaran T+3 hari kerja," kata Lolita.

Ia menyarankan investor menyiapkan horizon investasi jangka panjang serta melakukan pembelian secara bertahap agar risiko fluktuasi dapat lebih terkelola.

Ke depan, Lolita menilai investor perlu mencermati sejumlah indikator utama yang memengaruhi pergerakan pasar, seperti arah suku bunga acuan, data ekonomi global dan domestik, perkembangan geopolitik, hingga kondisi fiskal dalam negeri yang dapat memengaruhi pergerakan yield obligasi.

Baca Juga: Konflik Timur Tengah Dorong Harga Minyak Bumi Tetap Tinggi pada 2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News