KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri reksadana nasional mencatatkan pertumbuhan signifikan yang tercermin dari lonjakan jumlah investor dan dana kelolaan. Namun, penetrasi terhadap ekonomi domestik masih tergolong rendah sehingga mendorong pelaku industri memperkuat edukasi dan inovasi produk.
Ketua Presidium Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI) Lolita Liliana mengungkapkan, industri reksa dana telah berkembang pesat dalam 30 tahun terakhir sejak pertama kali diluncurkan pada 1996. Baca Juga: Kebuntuan AS-Iran Picu Lonjakan Harga, Minyak WTI dan Brent Menggila Hingga akhir Maret 2026, jumlah produk reksadana tercatat lebih dari 2.000 produk. Sementara itu, jumlah investor mencapai 26,1 juta
single investor identification (SID), meningkat tajam dari sekitar 23 juta SID pada bulan sebelumnya. Dari sisi dana kelolaan (
asset under management/AUM), reksadana telah mencapai lebih dari Rp 700 triliun. Jika digabungkan dengan kontrak pengelolaan dana (KPD), total dana kelolaan industri menembus lebih dari Rp 1.000 triliun, yang merupakan level tertinggi sepanjang sejarah. "Pertumbuhan ini tidak terlepas dari dukungan regulator, pelaku industri, dan seluruh pemangku kepentingan," ujar Lolita dalam acara Peresmian Program Investasi Terencana dan Berkala (PINTAR) Reksa Dana dan Pembukaan Pekan Reksa Dana tahun 2026, Senin (27/4/2026). Lolita juga mengatakan jumlah pelaku industri terus bertambah. Saat ini terdapat 89 manajer investasi, 28 bank kustodian, 33 agen penjual reksadana bank serta 18 agen penjual reksadana berbasis online. Selain itu, terdapat lebih dari 6.500 tenaga profesional berizin, baik wakil manajer investasi (WMI) maupun wakil agen penjual efek reksadana (WAPERD). Meski demikian, kontribusi industri reksadana terhadap produk domestik bruto (PDB) masih sekitar 4%. Adapun tingkat partisipasi investor baru mencapai sekitar 8% dari total populasi Indonesia.
Baca Juga: Indeks Dolar Melonjak Pasca Negosiasi Lanjutan AS dan Iran Gagal Menurut Lolita, kondisi ini menunjukkan masih besarnya ruang pertumbuhan sekaligus tantangan bagi industri. "Diperlukan inovasi produk dan dukungan insentif untuk membangun budaya investasi masyarakat," katanya. Untuk itu, APRDI pada 2026 menggelar program sosialisasi dan edukasi dengan tema "Setenang Itu" serta memperkenalkan kampanye "Reksa Dana Aja" guna menarik minat investor, khususnya generasi muda yang mendominasi lebih dari 50% basis investor. Di sisi lain, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) turut menginisiasi kampanye nasional "Pintar Reksa Dana", yakni program investasi berkala untuk mendorong masyarakat berinvestasi secara terencana. Rangkaian kegiatan kolaborasi sosialisasi dan edukasi APRDI bersama OJK dan SRO diawali dengan kegiatan pra-acara di enam kota, yaitu Surabaya, Semarang, Medan, Makassar, Bandung, dan Palembang dengan menjangkau lebih dari 250 jurnalis dan 2.500 mahasiswa.
Baca Juga: Dharma Satya Nusantara (DSNG) Catat Produksi TBS 492.000 Ton per Kuartal I 2026 APRDI berharap kolaborasi dengan regulator dan
self-regulatory organization (SRO) dapat berlanjut secara berkesinambungan guna memperluas literasi dan inklusi pasar modal. "Untuk itu, kami membutuhkan dukungan dan kerja sama dari seluruh pihak untuk mengembangkan pasar modal Indonesia, khususnya industri reksa dana karena akan membawa dampak multiplikasi yang signifikan bagi perekonomian dan masa depan bangsa," tutup Lolita. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News