Reksadana Masih Jadi Pilihan Utama Asuransi Jiwa dalam Berinvestasi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dalam mengelola aset investasinya, industri asuransi jiwa masih banyak menempatkan asetnya di aset reksadana. Per Januari 2022, aset reksadana memiliki kontribusi terbesar mencapai 31,15% dari keseluruhan total portofolio investasi.

Adapun, secara total aset investasi, OJK mencatat hingga Januari 2022 ada pertumbuhan sebesar 7,3% dengan nilai mencapai Rp 516,68 triliun. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, aset investasi yang dikelola industri sebesar Rp 481,1 triliun.

Penempatan pada saham menempati posisi kedua yang paling banyak dipilih industri untuk mengelola investasinya dengan nilai mencapai Rp 139,3 triliun. Angka tersebut berkontribusi sebanyak 26,95% dari keseluruhan portofolio.


Ketua Bidang Aktuaria dan Manajemen Risiko Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Fauzi Arfan mengatakan bahwa penempatan investasi di pasar modal menunjukkan bahwa industri asuransi memiliki peran cukup besar di industri pasar modal.

Baca Juga: Kapan Aturan Unitlink Keluar? Ini Kata OJK

“Cukup signifikan kalau kita lihat dari total pasar modal di Indonesia kontribusi melebihi 25% barangkali. Industri asuransi punya peran sangat signifikan daripada pengembangan pasar modal," katanya, belum lama ini.

Penempatan pada aset reksadana juga menjadi pilihan utama bagi BNI Life. Adapun, kontribusinya bisa mencapai 61% dari total aset investasi di Februari 2022 yang mencapai Rp 20,6 triliun atau naik 7,6% dari periode sama sebelumnya.

Exposure terbesar pada reksa dana pendapatan tetap karena income yang lebih stabil,” ujar Direktur Keuangan BNI Life Eben Eser Nainggolan.

Meski reksadana masih menjadi pilihan, Eben mengatakan bahwa pihaknya ada rencana untuk meningkatkan porsi saham memang ada yang saat ini komposisi saham masih sekitar 10% dari total aset investasinya. Hanya saja, untuk transaksinya BNI Life masih melihat momentum dan perkembangan pasar saat ini.

Baca Juga: Nasabah Izin Lakukan PKPU AJB Bumiputera, OJK Jawab Begini

Adapun, dalam memilih aset saham, Eben mengatakan bahwa pihaknya mengacu pada pada ketentuan dalam kebijakan strategi investasi perusahaan, dalam hal ini memilih saham-saham yang ada di indeks LQ45.

“Lebih kepada LQ45 yang merupakan saham yang memiliki likuiditas tinggi dan kapitalisasi pasar besar serta didukung oleh fundamental perusahaan yang baik,” ujar Eben.

Editor: Tendi Mahadi