KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja reksa dana hingga Juli 2026 terbilang beragam. Berdasarkan data Infovesta sepanjang tahun berjalan alias year to date (ytd) hingga 31 Juli 2026, reksadana pasar uang mencetak rata-rata return positif tertinggi yakni 2,28%. Sementara itu, rata-rata return reksadana pendapatan tetap, reksadana campuran, dan reksadana saham membukukan rata-rata return masing-masing sebesar -1,35%, -7,39%, dan -14,67%. Secara month-on-month (MoM) atau bulanan selama Juli 2026, terjadi pemulihan (
rebound) signifikan.
Baca Juga: Harum Energy (HRUM) Kantongi Pendapatan US$ 1,08 Miliar, Laba Naik 22,6% Semester I Kinerja reksadana saham mencatat penguatan rata-rata sebesar 9,22%, disusul reksadana campuran yang naik 4,63%, reksadana pasar uang sebesar 0,40%, dan reksadana pendapatan tetap yang tumbuh tipis 0,19%. Penguatan bulanan ini sejalan dengan kinerja IHSG yang melonjak 10,51% secara MoM di bulan Juli, meskipun secara ytd masih tertekan di level -27,88%. Jika dilihat dari jajaran produk unggulan, 10 produk reksadana saham terbaik mencatat return -4,01% sampai 12,45% secara YtD per Juli 2026. Secara bulanan, 10 produk reksadana saham terbaik membukukan lonjakan return berkisar 15,42% sampai 26,08%. Berikutnya, 10 produk reksadana campuran terbaik per Juli 2026 mencatat
return ytd sebesar 1,25% sampai 5,35%. Adapun secara bulanan, 10 produk reksadana campuran terbaik meraih
return berkisar 9,79% sampai 14,85%. Selanjutnya, 10 produk reksadana pendapatan tetap terbaik membukukan return 2,58% sampai 4,57% per Juli secara YtD. Secara bulanan, return reksadana pendapatan tetap terbaik berkisar antara 1,03% sampai 2,53%. Lalu, 10 produk reksadana pasar uang terbaik mencetak return YtD berkisar 2,90% sampai 3,12% per Juli 2026. Secara bulanan, return 10 produk reksadana pasar uang terbaik mencatatkan rentang 0,53% sampai 1,09%.
Baca Juga: Laba Meroket 313%, Ini Alasan Maybank Pangkas Target Harga Vale Indonesia (INCO) Menanggapi hasil kinerja hingga Juli 2026 tersebut, Direktur Panin Asset Management Rudiyanto menjelaskan bahwa dinamika pasar yang cenderung beragam dipengaruhi oleh banyak faktor. Menurutnya, pergerakan kinerja dipicu oleh variabel yang bervariasi, mulai dari arah suku bunga, rilis laporan keuangan emiten, aksi
technical rebound akibat penurunan sepanjang Januari hingga Juni, hingga sentimen positif dari S&P terkait pemeringkatan (rating). Mengenai potensi keberlanjutan pemulihan kinerja reksa dana berbasis saham di semester II-2026, Rudiyanto menilai pergerakannya masih akan sangat dinamis. "Berharap IHSG bisa setidaknya ke level 7000 di tahun ini. Pemulihan ini tergantung pada banyak faktor seperti kinerja perusahaan, sentimen ekonomi, dan mudah-mudahan ada perbaikan dari pemerintah mengenai disiplin APBN. Untuk itu, sulit dikatakan akan terus atau sementara," ujar Rudiyanto kepada Kontan, Selasa (4/8/2026). Di sisi lain, reksa dana pasar uang terbukti menjadi instrumen paling stabil di tengah gejolak pasar karena mayoritas portofolionya ditempatkan pada deposito. Jika ada alokasi pada obligasi maupun Surat Berharga Rupiah Bank Indonesia (SRBI), fluktuasi harganya relatif kecil karena berjangka pendek dan akan jatuh tempo kurang dari satu tahun. Tren kenaikan suku bunga pun justru menguntungkan reksa dana pasar uang seiring meningkatnya bunga deposito. Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan reksa dana pendapatan tetap. Suku bunga yang tinggi membuat yield melambung sehingga harga obligasi tertekan.
Baca Juga: Mayora (MYOR) Disebut Bisa Jadi Safe Haven Sektor Konsumer, Saat Rupiah di Rp 18.000 Meski menilai penurunan harga obligasi saat ini sudah cukup tajam, Rudiyanto menegaskan bahwa ruang
rebound reksa dana pendapatan tetap masih sangat bergantung pada pergerakan kurs nilai tukar serta laju inflasi yang dalam waktu dekat belum akan mereda. Melihat peta kinerja industri yang masih bervariasi hingga Juli 2026, investor disarankan untuk melakukan diversifikasi portofolio secara terukur guna menjaga stabilitas imbal hasil. "30% - 50% di aset berbentuk USD seperti reksa dana dolar, sisanya di reksa dana Rp sesuai profil risiko," ujar Rudiyanto. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News