Reksadana Pasar Uang Masih Unggul, Pendapatan Tetap Berpeluang Menguat



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Reksadana pasar uang masih mencatatkan kinerja tertinggi secara year-to-date (YtD) hingga Agustus 2026. Sementara itu, reksadana pendapatan tetap mulai menunjukkan penguatan dan berpeluang mendapat tambahan return jika yield obligasi melanjutkan tren penurunan.

Berdasarkan data Infovesta per Agustus 2026, reksadana pasar uang mencatatkan return 2,73% secara ytd. Adapun reksadana pendapatan tetap membukukan return 0,07% secara YtD.

Secara bulanan, reksadana pendapatan tetap mencatatkan penguatan lebih tinggi dibandingkan pasar uang. Pada Agustus 2026, reksadana pendapatan tetap naik 1,44%, sedangkan reksadana pasar uang tumbuh 0,44%.


Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp 17.763 per Dolar AS, Tertekan Sentimen Konflik AS-Iran

Senior Vice President Head of Retail, Product Research & Distribution Henan Putihrai Asset Management (HPAM), Reza Fahmi Riawan mengatakan, kedua kategori tersebut memiliki karakteristik yang berbeda sehingga faktor pendorong return-nya juga tidak sama.

Menurut Reza, reksadana pasar uang memperoleh dukungan terutama dari instrumen berjangka pendek dan tingkat suku bunga pasar uang. Karakteristik tersebut membuat reksadana pasar uang relatif lebih defensif ketika pasar aset berisiko masih berfluktuasi.

“Dalam kondisi ketidakpastian global yang masih tinggi, karakteristik tersebut membuat reksadana pasar uang tetap relevan bagi investor yang memprioritaskan stabilitas dan likuiditas,” ujar Reza kepada Kontan, Rabu (2/9/2026).

Berbeda dengan pasar uang, reksadana pendapatan tetap lebih sensitif terhadap perubahan suku bunga dan pergerakan yield obligasi.

“Apabila inflasi tetap terkendali dan ekspektasi kebijakan moneter semakin mendukung penurunan suku bunga, terdapat ruang bagi yield obligasi untuk bergerak lebih rendah, yang secara teoritis dapat memberikan capital gain bagi portofolio obligasi,” jelasnya.

Meski begitu, pergerakan yield obligasi masih dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Reza menyebut perkembangan inflasi, kebijakan Bank Indonesia (BI), arah yield US Treasury, kondisi rupiah, serta premi risiko Indonesia menjadi beberapa hal yang perlu diperhatikan.

Baca Juga: Peluang Harga Minyak Brent Tembus Level US$ 122, Ini Penopang Utamanya

Reza menyebut, prospek reksadana pendapatan tetap akan semakin menarik jika tren penurunan yield obligasi berlanjut.

Di sisi lain, reksadana pasar uang menawarkan karakteristik yang lebih defensif dengan sensitivitas yang lebih rendah terhadap perubahan harga obligasi. Perbedaan karakter tersebut membuat pilihan instrumen perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan horizon investasi.

Investor yang mengutamakan likuiditas serta memiliki toleransi risiko lebih rendah dapat mempertahankan porsi lebih besar pada reksadana pasar uang.

Adapun investor dengan horizon investasi menengah dapat mempertimbangkan reksadana pendapatan tetap untuk memanfaatkan peluang dari pergerakan yield.

“Dalam kondisi pasar yang masih berada dalam fase normalisasi, pendekatan alokasi justru menjadi lebih penting daripada memilih satu kelas aset berdasarkan kinerja jangka pendek,” pungkas Reza.

Ke depan, pergerakan suku bunga, yield obligasi, inflasi, serta kondisi rupiah akan menjadi sejumlah faktor yang menentukan ruang penguatan reksadana pendapatan tetap. Sementara itu, karakteristik likuid dan relatif stabil membuat reksadana pasar uang tetap menjadi pilihan bagi investor yang ingin menjaga risiko portofolio.

Baca Juga: Tensi Geopolitik Memanas, Harga Minyak Berpeluang Bertahan di Atas US$ 90

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News