Reksadana pendapatan tetap diramal bakal jadi reksadana dengan kinerja terkinclong



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja reksadana saham yang tercermin dalam Infovesta 90 Equity Fund Index masih berkinerja negatif sampai Agustus 2021 (-6,13%). Akan tetapi, di bulan Agustus, menjadi reksadana yang berkinerja yang paling positif (3,52%), diikuti oleh reksadana campuran (2,20%), reksadana pendapatan tetap (1,05%), dan reksadana pasar uang (0,26%).

Sementara itu, reksadana pendapatan tetap masih menjadi reksadana yang berkinerja paling baik sampai Agustus 2021. Hal ini tercermin dari indeks Infovesta 90 Fixed Income Fund Index, yang mencatatkan kenaikan 2,97%. Reksadana pasar uang juga berkinerja positif, dalam indeks Infovesta 90 Money Market Fund Index mencatatkan kenaikan 2,21%.

Head of investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana menilai positifnya reksadana saham di bulan Agustus karena IHSG yang terapresiasi, terutama di akhir Agustus, adanya pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) yang diperlonggar.


“Jadi investor lebih optimis, sehingga di bulan Agustus sendiri IHSG positif, ini yang membuat (reksadana) indeks saham, ikut positif. Reksadana ini memang fokus pada sektor-sektor yang dipandang sedang baik,” jelasnya kepada Kontan, Kamis (2/9).

Baca Juga: Reksadana saham dinilai menarik karena harganya yang murah

Sampai akhir tahun, ia melihat yang akan mempengaruhi reksadana ada dua hal. Yang pertama adalah sentimen pandemi atau kesehatan yang akan berefek kepada pertumbuhan ekonomi.

Akan tetapi, apabila proses vaksinasi yang sesuai target, aktivitas masyarakat kembali berjalan, Wawan menyakini IHSG akan berada di angka 6.500-6.600 di akhir tahun 2021. “Kalau IHSG sampai ke sana (6.500-6.600), reksadana saham minusnya akan semakin tipis, kita harapkan itu bisa positif, walaupun positifnya kecil, paling tidak bisa positif,” kata Wawan.

Sentimen kedua, ia melihat adanya isu tapering AS dan kenaikan suku bunga akan berefek, dan efeknya bisa menekan suku bunga Indonesia, karena ia melihat ada ekspektasi turunnya suku bunga sekali lagi.

“Apalagi inflasi Agustus rendah, ekonomi juga akan dibuka kembali, harapannya suku bunga rendah untuk mendukung itu. Tetapi apabila tapering dilakukan suku bunga turun akan terbatas,” katanya.

Ia memandang ekspektasi tapering yang dilakukan di AS akan ada outflow pada arus kas asing yang berada di dalam negeri, baik itu dari saham ataupun obligasi. Apabila ini terjadi ia menaksir, hal ini akan menekan IHSG dan pergerakan harga surat utang negara (SUN).

Baca Juga: Melongok kinerja reksadana sampai Agustus 2021, siapa yang jadi jawara?

Walaupun begitu, sampai akhir tahun 2021, Wawan menilai pergerakan reksadana pendapatan tetap masih akan mendapatkan hasil yang paling positif. “Karena sekarang masih 3%, di akhir tahun targetnya masih 6-7%,” katanya.

Selanjutnya, reksadana masih diperkirakan akan mencatatkan imbal hasil 3%-3,5% di akhir tahun. Wawan juga melihat reksadana campuran akan berkinerja lebih baik dari reksadana saham, karena memiliki obligasi di dalamnya. “Obligasi yang mendorong, karena government dan corporate bond itu sebetulnya paling tinggi di antara yang lain-lain,” pungkasnya.

Selanjutnya: MAMI jadi pemilik dana kelolaan reksadana syariah terbesar di Indonesia

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Tendi Mahadi