Reksadana Saham Global Catat Net Buy Lima Minggu Berturut-turut



KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Reksadana saham global mencatat arus masuk selama lima minggu berturut-turut hingga periode yang berakhir pada 21 Oktober 2026, seiring dengan penurunan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury). Ditambah kuatnya laporan laba perusahaan pada awal musim pelaporan ini, yang turut meningkatkan sentimen investor.

Data LSEG Lipper menunjukkan, reksadana saham global mencatat arus masuk bersih (net buy) sebesar US$ 28,16 miliar selama minggu tersebut, dibandingkan sebesar US$ 19,88 miliar pada minggu sebelumnya.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun sekitar 15 basis poin pekan lalu dan berada di bawah level psikologis penting 5% pada minggu ini.


Para investor reksadana merasa optimis berkat kinerja laba perusahaan yang melampaui ekspektasi sejauh ini dalam musim pelaporan laba tersebut.

Baca Juga: Saham Pemilik Gucci Anjlok 12%, Pemulihan Bisnis Barang Mewah Masih Berat

Menurut data LSEG yang dikutip Reuters, Jumat (23/10/2026), dari hampir 18% konstituen indeks MSCI All Country World yang telah melaporkan laba hingga saat ini, sekitar 73% di antaranya mencatatkan hasil yang melampaui estimasi rata-rata analis.

Namun, indeks MSCI World turun 1,31% pada hari Kamis (22/10/2026), setelah Meta melaporkan kinerja yang kuat namun sekaligus mengungkapkan rencana untuk menerbitkan saham tanpa hak suara. Ini sebuah langkah yang memicu kembali kekhawatiran mengenai komitmen modal perusahaan yang terus meningkat.

Berdasarkan wilayah, reksadana saham Asia menarik arus masuk sebesar US$ 11,53 miliar, angka mingguan tertinggi setidaknya sejak Desember 2022. Investor juga menambahkan dana US$ 9,14 miliar ke dalam reksadana saham Eropa dan US$ 5,07 miliar ke dalam reksadana saham AS.

Di tingkat sektoral, sektor teknologi menarik dana sebesar US$ 5,05 miliar, berbalik dari posisi jual bersih sebesar US$ 4,77 miliar pada minggu sebelumnya. Investor juga membeli reksadana sektor kesehatan senilai US$ 1,83 miliar, namun melepas reksadana sektor barang konsumsi non-primer (consumer discretionary) senilai US$ 1,29 miliar.

Reksadana obligasi global tetap diminati selama lima minggu berturut-turut, dengan mencatatkan arus masuk bersih sebesar US$ 9,44 miliar. Reksadana obligasi dalam denominasi franc Swiss mencatatkan arus masuk sebesar US$ 6,8 miliar, angka mingguan terbesar setidaknya sejak November 2024.

Para investor juga menyuntikkan dana sebesar US$ 2,78 miliar ke dalam reksadana obligasi jangka pendek. Namun juga menarik dana US$ 1,68 miliar dari reksadana obligasi imbal hasil tinggi dan US$ 550 juta dari reksadana obligasi pemerintah.

Reksadana pasar uang mencatatkan arus masuk bersih mingguan sebesar US$ 15,86 miliar, setelah sebelumnya mengalami arus keluar bersih sebesar US$ 47,51 miliar pada minggu sebelumnya.

Baca Juga: Harga Emas Spot Memudar, Tertekan Lonjakan Harga Minyak

Di sektor komoditas, reksadana emas dan logam mulia lainnya menarik arus masuk bersih sebesar US$ 1,29 miliar, yang menandai minggu kelima pembelian bersih dalam enam minggu terakhir. Para investor juga menambahkan US$ 41,5 juta ke dalam reksa dana sektor energi.

Data yang mencakup 29.174 reksa dana pasar negara berkembang (emerging market) menunjukkan bahwa investor melakukan pembelian bersih reksadana saham senilai US$ 6,28 miliar — jumlah pembelian bersih mingguan terbesar sejak 5 Agustus. Sebaliknya, mereka menarik dana sebesar US$ 48,72 juta dari reksadana obligasi.