KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Reksadana saham masih mencatatkan kinerja paling tinggi di antara jenis reksadana lainnya, bahkan mampu melampaui kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (
IHSG). Per 27 Februari 2026, Infovesta mencatat Reksadana saham membukukan return tertinggi sebesar 2,0% MoM, sementara IHSG cetak kinerja turun 1,13% secara bulanan. Menyusul, reksadana campuran mencatat return 1,44% MoM, sementara reksadana pendapatan tetap dan reksadana pasar uang masing-masing mencatat return 0,29% MoM.
Senior Vice President, Head of Retail, Product Research & Distribution Henan Putihrai Asset Management (HPMA) Reza Fahmi Riawan menilai, kinerja reksadana saham yang mampu mengungguli indeks mencerminkan peran strategi pengelolaan portofolio yang aktif oleh manajer investasi.
Baca Juga: Industri Reksadana Masih Prospektif, Simak Proyeksi Kinerja di 2026 Menurutnya, berbeda dengan indeks yang merepresentasikan pergerakan pasar secara agregat, reksadana saham memiliki fleksibilitas dalam melakukan seleksi saham secara lebih selektif. Manajer investasi dapat mengalokasikan dana pada sektor maupun emiten yang dinilai memiliki fundamental lebih kuat dan resilien di tengah tekanan pasar. “Kondisi ini memungkinkan kinerja reksadana saham tetap positif meskipun indeks pasar secara keseluruhan mengalami tekanan,” ujar Reza kepada Kontan, Rabu (5/3/2026). Ia menjelaskan, strategi
overweight pada sektor defensif atau saham dengan kinerja keuangan yang solid dapat membantu meredam volatilitas portofolio. Selain itu, momentum rotasi sektor juga dapat dimanfaatkan untuk menangkap peluang imbal hasil di tengah dinamika pasar. Sependapat CEO Pinnacle Investment Guntur Putra menilai banyak produk reksadana saham tidak sekadar mengikuti komposisi indeks, melainkan melakukan pemilihan saham (
stock selection) secara selektif.
Baca Juga: Di Tengah Gejolak Global, Ini Prospek Reksadana Menurut Infovesta Dengan strategi tersebut, portofolio dapat difokuskan pada saham-saham yang memiliki prospek pertumbuhan laba serta katalis positif dalam jangka menengah. Sementara itu, IHSG sebagai indeks agregat bisa saja tertekan oleh koreksi pada sejumlah saham berkapitalisasi besar. "Dalam kondisi seperti itu, reksadana saham memiliki fleksibilitas untuk mengalihkan alokasi dana ke sektor atau emiten yang dinilai lebih resilien terhadap tekanan pasar," jelas Guntur. Meski demikian, Reza mengingatkan bahwa potensi kinerja positif ke depan tetap sangat bergantung pada sejumlah faktor eksternal. Arah suku bunga global, stabilitas harga komoditas, hingga perkembangan dinamika geopolitik akan memengaruhi sentimen investor dan aliran dana ke pasar saham. “Peluang untuk terus melaju masih terbuka, tetapi tetap harus mencermati perkembangan global yang bisa memicu volatilitas,” jelasnya. Reza menyebut potensi imbal hasil reksadana saham secara historis memang lebih tinggi namun disertai volatilitas yang lebih besar.
Baca Juga: Tertekan Tensi Geopolitik, Rupiah Melemah ke Rp 16.905 per Dolar AS pada Kamis (5/3) Secara indikatif, Reza memproyeksi
return dapat berada di kisaran 10%–15%, dengan catatan realisasinya tetap sangat bergantung pada kondisi pasar dan dinamika ekonomi sepanjang tahun 2026. Guntur juga memprediksi kinerja reksadana saham akan dapat membukukan
return lebih dari 10% hingga akhir tahun ini. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News