JAKARTA. Produk reksadana saham berbasis syariah tancap gas. Nilai Aktiva Bersih (NAB) produk itu tumbuh lebih dari 5,62% selama sebulan terakhir. Bahkan, ada reksadana saham syariah yang mencetak kenaikan NAB melampaui 7%. Tengok saja, NAB reksadana Mandiri Investa Atraktif Syariah yang dalam 30 hari terakhir hingga 24 Januari lalu, tumbuh 6,71%. Kenaikan NAB Manulife Syariah Sektoral Amanah lebih tinggi lagi yaitu 6,98%. Yang mencetak NAB tertinggi adalah Cipta Syariah Equity sebesar 7,39%. NAB reksadana saham syariah melaju kencang, membuntuti kenaikan indeks Jakarta Islamic Index (JII). Selama sebulan terakhir, JII menanjak 5,84%. Bahkan, Selasa (24/1), JII memperbarui rekor tertingginya selama sebulan di posisi 570,54.
Putut Andanawarih, Direktur Manulife Asset Management mengatakan, kunci keberhasilan kinerja Manulife Syariah Sektoral Amanah terletak pada pemilihan saham berbasis syariah yang tepat. "Sebagian besar dana dialokasikan ke saham konsumer. Ternyata hasilnya memuaskan," kata Putut. Selain konsumer, saham pilihan Manulife adalah saham sektor properti dan komoditas. Per akhir Desember 2011, komposisi untuk reksadana Manulife Syariah Sektoral Amanah adalah 93% saham dan sisanya pasar uang. Sedangkan, Mandiri Investa Atraktif Syariah bisa melaju karena ditopang oleh saham sektor komoditas. Andreas Gunawidjaja, Direktur Mandiri Manajemen Investasi mengatakan, performa saham sektor komoditas baik sehingga kinerjanya melonjak. Pilihan aset dasar bagi reksadana saham berbasis syariah memang cukup terbatas. Terdapat sejumlah kriteria yang harus dimiliki agar saham tersebut bisa masuk kategori saham syariah. Intinya, semua saham yang memenuhi standar syariah dan masuk dalam daftar JII. Terkerek komoditas Putut yakin prospek reksadana saham syariah ke depan masih menarik. Dia beralasan, kategori syariah membantu menyaring emiten. Hanya saham emiten dengan fundamental yang kuat dan sehat yang bisa masuk ke dalam daftar saham syariah. "Secara tidak langsung sudah tersaring saham-saham pilihan yang terbaik," katanya. Tapi hingga kini reksadana saham syariah masih menghadapi tantangan berupa pola pikir investor yang selalu mengidentikkan produk ini dengan agama. Padahal, "Sejauh sesuai dengan minat dan tujuan investasi, kenapa tidak?" tandas dia.
Analis Infovesta Edbert Suryajaya memaklumi lonjakan reksadana saham syariah lantaran JII sebagai acuan nya pun menanjak dalam sebulan terakhir. Ia beralasan, reksadana saham berbasis syariah tidak bisa sembarangan masuk ke setiap sektor. Edbert memperkirakan saham di sektor komoditas seperti perkebunan dan tambang berkontribusi terhadap kenaikan NAB reksadana syariah dalam sebulan terakhir. Ia menyarankan, dalam kondisi bursa saham yang relatif tinggi saat ini, ada baiknya investor memanfaatkan waktu untuk melakukan valuasi ulang atas saham-saham yang menjadi racikan reksadana saham syariah pilihannya. Investor juga patut menimbang prospek sektor pilihan pada reksadana ini. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News