KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tekanan yang melanda pasar keuangan domestik mendorong manajer investasi untuk lebih selektif dalam meracik portofolio reksadana. Di tengah pelemahan rupiah dan koreksi pasar saham, peluang jangka panjang dinilai masih terbuka karena valuasi saham Indonesia sudah berada pada level yang relatif murah. Berdasarkan data Infovesta per Mei 2026, mayoritas jenis reksadana mencatatkan kinerja negatif.
Reksadana saham menjadi yang paling tertekan dengan penurunan 10,22% secara bulanan (month on month/MoM) dan terkoreksi 17,66% sejak awal tahun (
year to date/YtD).
Baca Juga: Kocok Ulang Portofolio saat Pasar Saham Terkoreksi Dalam Reksadana campuran melemah 5,13% MoM dan turun 0,62% YtD. Sementara itu, reksadana pendapatan tetap masih mencatat kenaikan tipis 0,22% MoM, meski secara YtD terkoreksi 0,62%. Adapun reksadana pasar uang masih menjadi yang paling stabil dengan pertumbuhan 0,27% MoM dan 1,60% YtD.
Head of Investment Specialist & Product Development Sucorinvest Asset Management, Lolita Liliana mengatakan, pihaknya mengoptimalkan pengelolaan reksadana saham dengan lebih selektif memilih emiten berfundamental kuat yang saat ini diperdagangkan pada valuasi menarik. Untuk reksadana pendapatan tetap, Sucorinvest menerapkan pengelolaan aktif, termasuk melalui strategi manajemen durasi dan penguatan analisis kualitas kredit. "Fokus utama kami pada pengelolaan reksadana berbasis instrumen obligasi dan atau sukuk adalah pada penguatan analisis kualitas kredit, melalui proses seleksi yang lebih ketat terhadap penerbit dengan fundamental yang solid, profil risiko yang terukur, serta likuiditas yang memadai," ujar Lolita kepada Kontan, Jumat (5/6/2026).
Baca Juga: Reksadana Saham Tertekan, Manajer Investasi Perkuat Seleksi Saham Berfundamental Kuat Menurut Lolita, kinerja reksadana saham dalam jangka pendek masih berpotensi berfluktuasi. Ketidakpastian terkait peringkat kredit Indonesia, proses MSCI rebalancing, penyesuaian sejumlah indeks global, hingga pelemahan rupiah masih menjadi faktor yang membayangi pasar. Meski demikian, ia melihat terdapat peluang tambahan aliran dana asing apabila Korea Selatan resmi naik status menjadi
developed market dalam klasifikasi MSCI. Kondisi tersebut berpotensi mendorong penyesuaian bobot investasi pada negara-negara lain yang masih berada dalam kelompok
emerging maupun
frontier market. Dalam jangka panjang, Lolita menilai pasar saham Indonesia masih menarik. Menurutnya, valuasi IHSG saat ini berada pada salah satu level
price to earnings ratio (P/E) termurah dalam beberapa tahun terakhir. Selain itu, penurunan IHSG dari titik tertinggi ke titik terendah sepanjang tahun ini bahkan sudah melampaui koreksi yang terjadi pada awal pandemi Covid-19 tahun 2020. "Kami memandang penurunan yang terjadi beberapa waktu terakhir lebih banyak dipengaruhi sentimen dibandingkan kondisi fundamental yang sesungguhnya," kata Lolita.
Baca Juga: Ini Strategi Saratoga Investama (SRTG) Jaga Portofolio Investasi Salah satu produk reksadana saham yang dikelola Sucorinvest adalah Sucorinvest Soe Plus Equity Fund. Berdasarkan data Infovesta per Mei 2026, reksadana tersebut mencatatkan kinerja minus 4,04% YtD dan turun 5,23% secara bulanan. Berdasarkan
fund fact sheet per April 2026, portofolio reksadana tersebut didominasi sektor perbankan dengan porsi sekitar 43% dari total aset kelolaan. Sementara sisanya ditempatkan pada sektor
basic materials dan energi.
"Kami melihat IDXBUMN menawarkan valuasi terdiskon serta
earnings yield yang menarik, kami memandang masih ada potensi
upside pada jangka panjang namun tetap mengantisipasi volatilitas dalam jangka pendek," ujar Lolita. Di tengah gejolak pasar saat ini, Lolita juga menyarankan investor menjaga porsi likuiditas yang memadai melalui reksadana pasar uang. Namun, volatilitas yang terjadi di pasar saham dan obligasi juga dapat dimanfaatkan sebagai momentum untuk mulai mengakumulasi investasi secara bertahap atau
averaging down dengan tetap mempertimbangkan profil risiko dan tujuan keuangan masing-masing investor. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News