Reksadana terproteksi paling banyak diterbitkan pada Agustus



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Reksadana pasar uang menjadi reksadana dengan jumlah produk yang mengalami penyusutan paling besar pada Agustus kemarin. 

Laporan Infovesta Utama menyebut terdapat pengurangan produk reksadana pasar uang sebanyak tujuh produk. Bahkan, jika dihitung sejak awal tahun hingga Agustus lalu, reksadana pasar uang mengalami penurunan produk terbanyak dengan mencatatkan net penurunan sebesar 12 produk.

Head of Business Development Division Henan Putihrai Asset Management Reza Fahmi mengatakan salah satu penyebab turunnya produk reksadana pasar uang adalah penerbitan pada tahun 2019 yang terlalu agresif. Reza menyebut pada periode yang sama tahun lalu setidaknya terdapat penambahan 41 produk baru.


“Lalu pada akhirnya pada periode Februari-Mei tahun ini jumlahnya kembali turun drastis karena investor juga pada menarik dana investasinya. Padahal ketika ekonomi mulai dibuka kembali, investor secara perlahan juga mulai masuk kembali,” jelas Reza ketika dihubungi Kontan.co.id.

Baca Juga: Penurunan produk reksadana tidak serta merta ikut menurunkan kinerja industri

Sementara Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana menilai ada kecenderungan investor yang mengganti pola investasinya dari reksadana pasar uang ke reksadana pendapatan tetap maupun reksadana saham.

“Saham kan sudah murah valuasinya dan obligasi seiring ada ekspektasi suku bunga bisa turun dan tetap rendah, akan sangat baik untuk harga obligasi. Sehingga minat masyarakatnya pun bergeser ke jenis lain daripada reksadana pasar uang,” tambah Wawan.

Tapi data tersebut tidak merinci produk reksadana apa yang paling banyak diterbitkan pada Agustus. Namun, jika merujuk dari data produk yang didaftarkan di Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), reksadana terproteksi merupakan yang terbanyak. Terdapat 12 produk reksadana terproteksi yang didaftarkan selama Agustus.

Baca Juga: Produk reksadana pasar uang paling banyak turun, reksadana campuran bertambah

“Sebenarnya penerbitan reksadana terproteksi merupakan hal yang wajar dan akan jadi yang terbanyak karena ada jatuh tempo sehingga diterbitkan produk baru sebagai pengganti. Apalagi dengan ekspektasi ekonomi mulai pulih, sepertinya reksadana terproteksi jadi yang paling banyak diterbitkan sampai akhir tahun nanti,” jelas Wawan.

Sementara Reza menyebut selain karena faktor jatuh tempo, reksadana terproteksi secara umum memang semakin banyak diminati investor. Ini karena reksadana terproteksi memiliki underlying asset yang memiliki kupon sehingga hasilnya bisa dikatakan lebih pasti. Hal ini tentu cocok terutama bagi para nasabah konservatif.

Selanjutnya: IHSG berpotensi menuju resistance pada perdagangan Rabu (9/9)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati