KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah yang terus berlanjut membuka peluang bagi investor domestik untuk meraih tambahan imbal hasil dari investasi reksadana berbasis dolar Amerika Serikat (AS) atau USD. Infovesta mencatat reksadana efek/saham luar negeri berdenominasi dolar AS, yang mayoritas berbasis saham global syariah, membukukan kinerja
return sekitar 18% secara
year to date (YtD) dalam denominasi dolar AS hingga akhir September 2026. Kinerja reksadana USD efek luar negeri tercatat paling unggul per akhir September. Bahkan, sejumlah produk yang berinvestasi di kawasan Asia Pasifik mencatatkan pertumbuhan imbal hasil lebih dari 30% YtD.
Baca Juga: Reksadana USD Beda Nasib, Efek Luar Negeri Cuan, Saham Domestik Tertekan Selain itu, reksadana pasar uang USD mencatatkan imbal hasil sekitar 1,9% YtD. Adapun reksadana pendapatan tetap USD terkoreksi sekitar 2% YtD akibat tekanan harga obligasi dolar AS Indonesia. Sebaliknya, reksadana saham USD dengan portofolio saham domestik mencatatkan penurunan sekitar 27%, mengikuti pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Direktur Infovesta Utama, Wawan Hendrayana, memandang prospek reksadana USD masih positif selama rupiah berada dalam tekanan. Sebab, investor domestik berpeluang memperoleh dua sumber imbal hasil, yakni dari kinerja aset yang menjadi portofolio reksadana dan kenaikan nilai tukar dolar AS terhadap rupiah. Menurutnya, terdapat tiga sentimen utama yang mempengaruhi kinerja reksadana USD ke depan. Pertama, arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau The Fed. Karena penurunan suku bunga berpotensi mendorong kenaikan harga obligasi berdenominasi dolar AS sekaligus menekan indeks dolar AS. Kedua, kinerja pasar saham global, terutama sektor teknologi dan pasar saham Asia. “Ketiga, kurs rupiah, yang menentukan
return dalam rupiah bagi investor lokal,” jelas Wawan kepada Kontan, Senin (26/10/2026). Meski demikian, Wawan mengingatkan investor agar tidak menjadikan reksadana USD sebagai instrumen spekulasi untuk mengejar keuntungan dari pergerakan kurs. Sebaliknya, instrumen ini lebih tepat digunakan sebagai sarana diversifikasi mata uang dalam portofolio investasi.
Baca Juga: Summarecon Agung (SMRA) Masih Andalkan Penjualan Properti, Simak Rekomendasi Sahamnya Wawan menyarankan, porsi reksadana USD sebesar 10%-20% dari total portofolio sudah memadai bagi kebanyakan investor. Porsi tersebut dapat lebih besar bagi investor yang memiliki kebutuhan dolar AS, misalnya untuk membiayai pendidikan anak di luar negeri. Selain menentukan alokasi investasi, investor juga perlu memperhatikan waktu pembelian. Wawan menyarankan investor masuk secara bertahap ketimbang menginvestasikan seluruh dana sekaligus ketika rupiah sudah mendekati level Rp 18.000 per dolar AS. “Pasalnya, karena bila dolar berbalik melemah,
return dalam rupiah bisa tergerus meski aset dasarnya naik,” pungkas Wawan. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News