Reksadana USD Onshore Loyo, Offshore Bersinar Berkat Saham Global



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kinerja reksadana berbasis dolar Amerika Serikat (AS) atau USD menunjukkan perbedaan mencolok antara produk onshore dan offshore. Reksadana USD onshore cenderung tertekan, sedangkan produk offshore mampu mencetak imbal hasil (return) positif berkat kinerja aset di pasar global.

Director & Chief Investment Officer Fixed Income PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI), Ezra Nazula mengatakan, kinerja reksadana USD dengan underlying asset instrumen dalam negeri (onshore) cenderung tertekan hingga September 2026, kecuali reksadana pasar uang.

Situasi ini tak lepas dari kondisi pasar finansial dalam negeri yang sedang menghadapi tantangan imbas dari situasi pasar global yang belum juga kondusif.


Padahal, dicermatinya tahun lalu di periode yang sama kinerja reksadana dolar AS onshore mampu mencetak kinerja positif.

Baca Juga: Reksadana USD Bisa Tambah Cuan, Waspadai Risiko Pembalikan Arah Dolar AS

“Sementara itu, reksadana dolar AS offshore (underlying asset instrumen luar negeri) sejauh ini mampu mencetak kinerja yang positif, kondisi ini didukung oleh kinerja underlying asset yang fokus pada sektor-sektor yang saat ini menjadi penggerak ekonomi dunia seperti AI dan kesehatan,” jelas Ezra kepada Kontan, Selasa (27/10/2026).

Ezra memberikan contoh, salah satu reksadana dolar AS offshore yaitu Manulife Saham Syariah Asia Pasifik Dollar AS (MANSYAF) mampu mencetak return 48,89% YtD berdasarkan fund factsheet September 2026, merupakan yang tertinggi di antara produk reksadana dolar AS offshore di MAMI.

Lebih lanjut Ezra bilang, reksadana USD tetap dapat menjadi alternatif bagi investor domestik yang ingin melakukan diversifikasi portofolio. Melalui reksadana offshore, investor dapat memperoleh eksposur terhadap mata uang, wilayah, dan sektor yang belum banyak diperdagangkan di pasar domestik.

Baca Juga: Reksadana USD Beda Nasib, Efek Luar Negeri Cuan, Saham Domestik Tertekan

Meski demikian, Ezra menekankan bahwa kinerja reksadana USD lebih dipengaruhi oleh kinerja underlying assetnya dibandingkan pergerakan nilai tukar.

Artinya, pelemahan rupiah terhadap dolar AS tidak serta-merta menjamin reksadana USD menghasilkan imbal hasil tinggi. Investor tetap perlu mencermati instrumen dan pasar yang menjadi tujuan investasi produk tersebut.

Dari sisi prospek, Ezra menyebut dinamika pasar global, termasuk ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan risiko inflasi, masih memengaruhi sentimen investor. Namun, tema investasi struktural seperti adopsi AI, transisi energi menuju net zero carbon, serta inovasi teknologi kesehatan dinilai berpotensi mendukung kinerja reksadana USD offshore.

Sejauh ini perkembangan AI masih terus menjadi perhatian kekhawatiran munculnya AI Bubble menjadi perhatian pasar namun di sisi belanja modal perusahaan terus direvisi naik dari waktu ke waktu. Tapi Ezra memperkirakan potensi ke depan masih cukup terbuka, tentunya dengan strategi pengelolaan yang aktif mampu memberikan risk reture reward yang optimal bagi investor.

“Sementara itu, pulihnya kembali kepercayaan investor menurut kami akan jadi katalis utama bagi pasar finansial dalam negeri yang berpotensi memengaruhi kinerja reksadana dolar AS onshore. Kondisi fundamental sejauh ini masih cukup kuat, sehingga katalis yang diutamakan adalah pemulihan kepercayaan,” tambah Ezra.

Bagi investor yang ingin masuk ke reksadana USD, Ezra menyarankan agar pilihan produk disesuaikan dengan profil risiko dan tujuan investasi. Investor dengan profil agresif dan tujuan jangka panjang dapat mempertimbangkan reksadana saham USD, baik onshore maupun offshore, untuk mengejar pertumbuhan modal.

Adapun investor dengan profil sangat konservatif yang tidak siap menghadapi risiko kehilangan modal dapat mempertimbangkan reksadana pasar uang.

Ia juga menyarankan strategi investasi secara bertahap dan disiplin, disertai diversifikasi portofolio. Investor sebaiknya tetap berfokus pada tujuan jangka panjang dan menghindari keputusan impulsif karena mengikuti tren pasar atau takut tertinggal (FOMO).

Baca Juga: Mencermati Prospek Reksa Dana USD

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News