KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bank Mandiri Tbk (
BMRI) optimistis bisnis kartu kredit akan terus bertumbuh setelah Bank Indonesia (BI) memutuskan memperpanjang relaksasi kartu kredit hingga 31 Desember 2026. Perpanjangan relaksasi tersebut mencakup batas minimum pembayaran (minimum payment) tetap sebesar 5% dari total tagihan dan denda keterlambatan maksimal 1% dari total tagihan atau tidak melebihi Rp 100.000. VP Credit Cards Group Bank Mandiri Agus Hendra Purnama menilai kebijakan tersebut berpotensi mendorong pertumbuhan bisnis kartu kredit, baik dari sisi volume transaksi, frekuensi transaksi, maupun jumlah kartu kredit yang beredar.
Baca Juga: Relaksasi Kartu Kredit Diperpanjang, Bank Harap Transaksi Kian Ngebut “Seiring dengan perpanjangan waktu atas kebijakan tersebut tentunya akan lebih mendorong peningkatan bukan hanya dari sisi volume dan frekuensi transaksi namun jumlah kartu kredit yang beredar juga diharapkan dapat terus bertambah,” ujar Agus kepada Kontan.co.id, Kamis (18/6/2026). Menurutnya, kemudahan proses pengajuan kartu kredit melalui kanal digital juga menjadi faktor yang dapat memperkuat penetrasi kartu kredit Bank Mandiri di pasar. Agus menjelaskan, pengguna fasilitas minimum payment 5% selama ini mayoritas berasal dari segmen kelas menengah yang memanfaatkan kartu kredit sebagai instrumen pengelolaan arus kas jangka pendek. Kelompok nasabah tersebut umumnya memiliki pendapatan tetap dan kemampuan pembayaran yang memadai, namun memilih fleksibilitas pembayaran minimum untuk menjaga likuiditas dan mengatur pengeluaran.
Baca Juga: Bank Mandiri Targetkan Transaksi Kartu Kredit Tumbuh 12% Hingga Akhir 2025 “Secara umum, pengguna fasilitas minimum payment 5% didominasi oleh nasabah segmen menengah yang memanfaatkan kartu kredit sebagai instrumen pengelolaan arus kas jangka pendek,” katanya. Dari sisi bisnis, kinerja kartu kredit Bank Mandiri masih menunjukkan pertumbuhan positif. Hingga Mei 2026, frekuensi transaksi kartu kredit tercatat tumbuh 10% secara tahunan (year on year/YoY). Sementara itu, nilai transaksi kartu kredit meningkat lebih tinggi, yakni sebesar 20,3% YoY. Pertumbuhan tersebut didorong berbagai program promosi yang digelar perseroan pada sejumlah momentum musiman seperti Natal dan Tahun Baru, Ramadan, Idulfitri hingga libur sekolah. Agus menambahkan, meski kebijakan minimum payment dapat memengaruhi kemampuan bayar pada segmen tertentu, Bank Mandiri terus melakukan mitigasi risiko agar kualitas aset tetap terjaga. “Saat ini rasio NPL kartu kredit Bank Mandiri masih terjaga,” ujarnya. Ke depan, Bank Mandiri akan lebih fokus menggarap segmen affluent melalui penguatan akuisisi nasabah berkualitas, optimalisasi cross-selling kepada nasabah prioritas dan wealth management, serta penyediaan berbagai manfaat premium yang lebih personal.
Baca Juga: Transaksi Kartu Kredit KB Bank Tumbuh 10% pada Kuartal I-2026 Selain itu, perseroan juga mengandalkan pengembangan fitur digital untuk mendorong pertumbuhan transaksi.
Saat ini, pemegang kartu kredit Bank Mandiri sudah dapat bertransaksi tanpa kartu fisik melalui fitur virtual card untuk pembayaran QRIS, transaksi e-commerce hingga penarikan dana tunai. Perseroan juga mengandalkan fitur Tap to Pay pada SuperApp Livin' by Mandiri yang memungkinkan nasabah melakukan pembayaran cukup dengan mendekatkan ponsel Android ke mesin EDC.“Optimisme pertumbuhan bisnis kartu kredit juga didukung berbagai kemudahan fitur transaksi digital yang terus kami kembangkan,” kata Agus. Bank Mandiri menilai kombinasi antara relaksasi regulator, pertumbuhan transaksi ritel, dan inovasi digital akan menjadi penopang utama pertumbuhan bisnis kartu kredit hingga akhir tahun. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News