KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten-emiten jasa atau kontraktor pertambangan batubara mendapat angin segar seiring potensi relaksasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) produksi batubara 2026. Walau begitu, masih ada tantangan lain yang mengintai emiten-emiten tersebut. Dalam berita sebelumnya, Kementerian ESDM berpotensi memberikan relaksasi produksi batubara nasional melalui revisi RKAB 2026. Hal ini dilakukan sebagai respons atas meningkatnya harga jual batubara yang terjadi di tengah memanasnya geopolitik global. Sebelumnya, pemerintah telah menetapkan produksi batubara dalam RKAB 2026 sebesar 600 juta ton. Artinya, target produksi batubara pada 2026 turun 24% dari realisasi produksi batubara nasional pada 2025 sebanyak 790 juta ton.
Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan mengatakan, relaksasi RKAB berpotensi mengangkat produksi batubara nasional, terutama pada semester II-2026. Hal ini tentu dapat menjadi sentimen positif bagi emiten jasa pertambangan, seperti UNTR, DEWA, DOID, PTRO, MYOH, dan lain sebagainya. Mereka berpeluang mendapat angin segar karena aktivitas tambang kembali meningkat, baik dari sisi overburden removal atau pengupasan lapisan tanah, hauling atau pengangkutan material galian, hingga utilisasi alat berat.
Baca Juga: Kinerja Emiten Rumah Sakit Masih Tumbuh, Profitabilitas Jadi Penentu Utama Namun, dampak relaksasi RKAB tersebut tentu tidak akan merata. Emiten jasa pertambangan yang paling diuntungkan adalah mereka yang punya kontrak jangka panjang dengan pelanggan, kapasitas alat produksi dan penunjang yang siap digunakan, serta eksposur besar ke klien pemilik tambang batubara yang memperoleh tambahan kuota produksi. “Jadi, katalis RKAB ini positif, tetapi perlu dilihat realisasi produksinya pada semester kedua,” kata dia, Jumat (12/6/2026). Di sisi lain, masih ada sejumlah risiko yang berpotensi memengaruhi kelangsungan usaha emiten jasa pertambangan, antara lain pelemahan kurs rupiah dan kenaikan biaya energi. Kurs yang melemah bakal mengerek biaya pembelian suku cadang, alat berat, serta utang dolar AS yang dimiliki emiten. Di samping itu, kenaikan biaya energi akan menekan margin laba emiten jika tidak bisa diteruskan kepada pemilik tambang selaku pelanggan. Dengan demikian, kenaikan volume produksi belum tentu otomatis membuat margin yang didapat emiten langsung membaik. Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menambahkan, dalam kondisi seperti ini emiten jasa pertambangan perlu melakukan renegosiasi kontrak bersama pelanggan dengan memasukkan klausul penyesuaian biaya. Sebab, kenaikan biaya energi mesti diteruskan kepada pemilik tambang agar margin laba emiten tetap terjaga. Emiten jasa pertambangan juga perlu memprioritaskan pengerjaan kontrak jangka panjang dengan pelanggan yang telah memperoleh persetujuan RKAB. “Sebaliknya, emiten perlu menunda investasi alat baru hingga kepastian volume produksi dalam RKAB semester II-2026 terkonfirmasi,” ujar dia, Jumat (12/6/2026). Wafi menambahkan, emiten jasa pertambangan yang berpotensi unggul kinerjanya pada 2026 adalah PTRO yang terbukti memiliki rekam jejak cemerlang berkat lonjakan laba bersih 197% year on year (yoy) pada 2025 serta free float di level 27,7%. Selain itu, ada DOID yang memiliki modal berharga berkat diversifikasi pelanggan dan skala bisnis yang besar. Ada pula MYOH yang memiliki keunggulan berupa kontrak jangka panjang dengan Grup Adaro.
Baca Juga: IHSG Diproyeksi Menguat Terbatas Senin (15/6), Investor Perlu Cermati Sentimen Ini Dari situ, ia menilai saham PTRO, DOID, dan MYOH layak dipertimbangkan oleh investor dengan target harga masing-masing di level Rp 5.200 per saham, Rp 800 per saham, dan Rp 1.200 per saham. Di lain pihak, Ekky menyebut emiten jasa pertambangan yang lebih unggul tahun ini adalah mereka yang punya kontrak kuat, neraca keuangan sehat, utilisasi alat tinggi, dan diversifikasi bisnis. UNTR masih menjadi pilihan yang lebih defensif lantaran bisnisnya lebih terdiversifikasi, sementara DEWA dan DOID dianggap lebih menarik untuk investor yang agresif karena potensi pemulihan kinerjanya lebih besar. “PTRO juga menarik, tetapi valuasinya relatif lebih premium sehingga lebih cocok untuk trading selektif,” tutur dia.
Secara umum, Ekky melihat sektor jasa pertambangan layak dicermati meski investor tetap harus selektif. Pilihan utama Ekky tetap pada UNTR dengan target harga di kisaran Rp 24.000–Rp 25.000 per saham dan target swing di level Rp 27.000 per saham. Untuk pilihan yang lebih agresif, saham DEWA bisa dicermati dengan target harga terdekat di kisaran Rp 380–Rp 400 per saham, kemudian target swing di level Rp 420–Rp 450 per saham. Saham DOID juga menarik untuk speculative buy dengan target harga sekitar Rp 220–Rp 240 per saham. Ada pula saham PTRO yang layak dipertimbangkan untuk trading dengan target harga di kisaran Rp 5.000–Rp 5.450 per saham. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News