KONTAN.CO.ID - Penguatan tajam dolar AS terhenti pada Kamis (5/3/2026), memberi sedikit ruang pemulihan bagi euro yang sebelumnya tertekan, seiring pelaku pasar berharap konflik di Timur Tengah tidak berlangsung selama yang dikhawatirkan. Dolar melemah dari level tertinggi lebih dari tiga bulan yang dicapai awal pekan ini dan berada di posisi 98,78 terhadap sekeranjang mata uang utama. Sementara itu, euro naik tipis ke US$1,1636 setelah sempat menyentuh level terendah lebih dari tiga bulan pada Selasa. Poundsterling juga stabil di US$1,3366.
Baca Juga: Australia dan Kanada Teken Kesepakatan Baru Mineral Kritis, Perkuat Aliansi G7 Sentimen pasar sempat membaik setelah muncul laporan bahwa aparat intelijen Iran memberi sinyal keterbukaan untuk berdialog dengan CIA guna mengakhiri perang, meski kemudian dibantah oleh Teheran. Laporan tersebut mencerminkan betapa sensitifnya pasar terhadap perkembangan konflik yang telah mengguncang aset global. Carol Kong, analis strategi mata uang di Commonwealth Bank of Australia mengatakan, pasar memang merespons positif, namun ketidakpastian tetap tinggi terkait durasi dan dampak perang. Selain itu, sentimen turut ditopang data ekonomi AS yang menunjukkan aktivitas sektor jasa melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari tiga setengah tahun pada Februari, didorong oleh pengisian kembali persediaan untuk mengantisipasi permintaan kuat.
Baca Juga: Morgan Stanley Pangkas 2.500 Pekerja Meski Pendapatan Bank Cetak Rekor, Mengapa? Dolar Masih Unggul Mingguan Meski melemah pada Kamis, dolar masih mencatat kenaikan lebih dari 1% sepanjang pekan ini. Mata uang AS menjadi salah satu dari sedikit aset yang bertahan di tengah volatilitas yang menyeret saham, obligasi, dan bahkan logam mulia yang biasanya menjadi aset lindung nilai. Lonjakan harga energi akibat konflik Timur Tengah memicu kekhawatiran kebangkitan inflasi, yang berpotensi mengganggu prospek suku bunga bank sentral utama dunia. Bas van Geffen, analis makro senior di Rabobank, mengatakan pasar cenderung memandang perang sebagai risiko inflasi. Untuk Federal Reserve dan Bank of England, hal itu berarti ekspektasi pemangkasan suku bunga semakin berkurang. Bahkan pasar uang zona euro kini memperkirakan peluang sekitar 40% bahwa European Central Bank mungkin perlu menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun.
Baca Juga: Harga Minyak Bertahan di Level Tinggi Seiring Meningkatnya Krisis Iran Yen dan Dolar Australia Menguat Yen Jepang turut menguat 0,2% menjadi 156,78 per dolar, terbantu oleh pelemahan greenback. Dolar Australia naik 0,14% ke US$0,7085, melanjutkan penguatan sesi sebelumnya, sementara dolar Selandia Baru relatif stabil di US$0,5942.
Meski biasanya sensitif terhadap risiko, dolar Australia justru diuntungkan oleh status langka sebagai aset lindung nilai minggu ini, mengingat kelimpahan sumber daya energi negara tersebut yang membantu meredam dampak kenaikan harga minyak. Di Asia, yuan offshore menguat 0,12% ke 6,8860 per dolar menjelang pembukaan pasar domestik. Pemerintah China menetapkan target pertumbuhan ekonomi 2026 di kisaran 4,5%-5%, sedikit lebih rendah dibanding capaian 5% tahun lalu, membuka ruang bagi upaya lebih lanjut menekan kelebihan kapasitas industri dan menyeimbangkan ekonomi. Sementara itu, aset kripto seperti bitcoin dan ether turun sekitar 1% setelah reli kuat semalam, seiring membaiknya selera risiko pasar.