KONTAN.CO.ID -
JAKARTA. Pergerakan harga emas dunia di pasar spot diperkirakan masih memiliki prospek positif pada perdagangan pekan depan. Harga emas telah mengalami tren penguatan sejak awal Agustus. Melansir data Bloomberg pada Jumat (21/8/2026) hingga pukul 14.04 WIB, harga emas bertengger di level US$ 4.563 per ons troi atau meningkat 1,02% secara harian. Berdasarkan analisa Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, emas masih berada dalam tren bullish pada time frame Daily dan berpeluang melanjutkan penguatan. Geraldo membidik, harga emas sepekan depan menuju area resistance US$ 4.594 hingga US$ 4.655 per ons troi.
Baca Juga: Jardine Cycle & Carriage Lepas Lini Otomotif ke TPIA, Estimasi Transaksi US$ 207 Juta Dia mengatakan, momentum kenaikan ini didukung oleh keberhasilan harga menembus
resistance sebelumnya dan membentuk
base area, yang menunjukkan bahwa
buyer masih memiliki kendali cukup kuat terhadap pergerakan pasar. Secara teknikal, pergerakan emas menunjukkan struktur
bullish yang masih terjaga. Breakout dari resistance sebelumnya menjadi salah satu sinyal penting karena menunjukkan bahwa harga berhasil keluar dari area yang sebelumnya membatasi ruang kenaikan. “Setelah
breakout, harga kemudian membentuk base area yang mengindikasikan adanya konsolidasi sekaligus proses pembentukan pijakan baru sebelum melanjutkan pergerakan ke level yang lebih tinggi,” ujar Geraldo risetnya, Jumat (21/8/2026). Apabila
buyer mampu mempertahankan dominasi dan harga berhasil bergerak menuju zona tersebut, pelaku pasar akan mencermati apakah terjadi
breakout lanjutan atau justru koreksi akibat aksi ambil untung. Kendati demikian, Geraldo memperingatkan, strategi mengejar harga secara langsung di dekat resistance dinilai memiliki risiko yang lebih besar. Dupoin Futures menyarankan agar pelaku pasar yang ingin mengambil posisi beli mempertimbangkan potensi koreksi terlebih dahulu. “Area US$ 4.417 per ons troi menjadi level
support yang dapat diperhatikan sebagai zona potensial untuk mencari peluang
entry yang lebih optimal,” jelasnya.
Baca Juga: Indosat (ISAT) Kembangkan Zankore, Bisnis AI Bisa Jadi Sumber Pertumbuhan Baru Dari sisi fundamental, prospek emas pada pekan depan juga masih relatif positif. Salah satu faktor pendukung berasal dari pelemahan dolar AS. Ketika dolar mengalami tekanan, emas cenderung mendapatkan keuntungan karena harga logam mulia menjadi lebih menarik bagi investor yang menggunakan mata uang selain dolar. Kondisi tersebut berpotensi mempertahankan aliran dana menuju emas. Selain itu, meningkatnya kekhawatiran mengenai kondisi fiskal Amerika Serikat turut mendorong investor mencari aset yang dianggap lebih defensif. Ketidakpastian terhadap kondisi keuangan pemerintah AS dapat meningkatkan kebutuhan investor untuk melakukan diversifikasi portofolio. Namun, terdapat faktor yang berpotensi menjadi penghambat bagi penguatan emas, terutama dari perkembangan harga minyak. Ekspektasi terhadap suku bunga The Fed menjadi faktor penting bagi pergerakan emas. Kebijakan moneter yang lebih longgar umumnya memberikan dukungan terhadap emas karena menurunkan
opportunity cost dalam memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil.
Sebaliknya, apabila inflasi yang tinggi membuat The Fed mempertahankan kebijakan suku bunga lebih ketat dalam waktu yang lebih lama, penguatan emas berpotensi menghadapi hambatan. “Pelaku pasar juga perlu memperhatikan dinamika antara
safe haven demand dan ekspektasi kebijakan The Fed. Jika kekhawatiran fiskal dan geopolitik semakin meningkat sementara dolar AS tetap berada di bawah tekanan, momentum
bullish emas berpotensi semakin kuat,” pungkasnya.
Baca Juga: Bisnis Data Center Indonesia Diproyeksi Tumbuh Pesat, TLKM dan ISAT Jadi Pilihan Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News