Reli Minyak Terhenti, Brent dan WTI Turun 0,2% di Pagi Ini (14/1)



KONTAN.CO.ID - TOKYO. Harga minyak menghentikan kenaikannya, setelah empat hari berturut-turut menguat. Koreksi harga minyak terjadi karena Venezuela melanjutkan ekspor, tetapi kekhawatiran akan gangguan pasokan Iran menyusul kerusuhan sipil yang mematikan di produsen utama Timur Tengah itu membayangi pasar.

Rabu (14/1/2026) pukul 09.00 WIB, harga minyak berjangka jenis Brent untuk kontrak pengiriman Maret 2026 turun 9 sen atau 0,14% ke US$ 65,38 per barel. 

Sejalan, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Februari 2026 melemah 12 sen atau 0,20% menjadi US$ 61,03 per barel.


Kontrak berjangka Brent ditutup menguat 2,5% pada sesi sebelumnya dengan WTI naik 2,8% di tengah lonjakan harga sebesar 9,2% untuk kedua kontrak tersebut selama empat sesi perdagangan terakhir.\

Baca Juga: IHSG Menguat dan Dekati 9.000! Sektor Barang Baku Pimpin Penguatan Hari Ini (14/1)

Penguatan harga minyak karena meningkatnya protes di Iran telah meningkatkan kekhawatiran akan gangguan pasokan dari produsen OPEC terbesar keempat. 

Presiden AS Donald Trump pada hari Selasa mendesak warga Iran untuk terus berdemonstrasi dan mengatakan bantuan sedang dalam perjalanan tanpa merinci bantuan apa yang akan diberikan.

"Protes di Iran berisiko memperketat keseimbangan minyak global melalui hilangnya pasokan dalam jangka pendek, tetapi terutama melalui peningkatan premi risiko geopolitik," kata analis di Citi dalam sebuah catatan, di mana mereka menaikkan prospek harga Brent selama tiga bulan ke depan menjadi US$ 70 per barel.

Analis Citi mencatat bahwa sejauh ini protes belum menyebar ke daerah penghasil minyak utama Iran, yang telah membatasi dampaknya pada pasokan aktual.

"Risiko saat ini cenderung pada gesekan politik dan logistik daripada gangguan langsung, sehingga dampaknya pada pasokan minyak mentah Iran dan arus ekspor tetap terkendali," kata mereka. 

Sebagai penyeimbang kekhawatiran Iran, Venezuela, anggota pendiri Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC), telah mulai membalikkan pemotongan produksi minyak yang dilakukan di bawah embargo minyak AS karena ekspor minyak mentah juga mulai pulih, kata tiga sumber.

Dua kapal tanker super meninggalkan perairan Venezuela pada hari Senin dengan masing-masing membawa sekitar 1,8 juta barel minyak mentah, yang mungkin merupakan pengiriman pertama dari kesepakatan pasokan 50 juta barel antara Caracas dan Washington untuk menggerakkan kembali ekspor setelah penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh AS.

Baca Juga: Rupiah Dibuka Menguat ke Rp 16.870 Per Dolar AS Hari Ini (14/1), Terkuat di Asia

Namun, fundamental pasar minyak menunjukkan situasi penawaran dan permintaan yang jauh lebih longgar bahkan di tengah isu geopolitik.

Hal itu diperkuat oleh data persediaan AS yang dirilis pada Selasa malam.

Stok minyak mentah di AS, konsumen minyak terbesar di dunia, naik sebesar 5,23 juta barel pada pekan yang berakhir 9 Januari, menurut laporan American Petroleum Institute, berdasarkan sumber pasar.

Sumber-sumber tersebut juga mengatakan data API menunjukkan persediaan bensin naik sebesar 8,23 juta barel, sementara persediaan distilat naik sebesar 4,34 juta barel dari minggu sebelumnya.

Data persediaan dari Badan Informasi Energi AS akan dirilis pada hari Rabu. Jajak pendapat Reuters pada hari Selasa menunjukkan persediaan minyak mentah AS diperkirakan telah turun minggu lalu, sementara persediaan bensin dan distilat kemungkinan meningkat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News