KONTAN.CO.ID - Reli saham teknologi global kembali mengangkat indeks saham dunia pada Rabu (25/2/2026), di tengah antisipasi pelaku pasar terhadap laporan keuangan raksasa chip Nvidia yang akan dirilis setelah penutupan perdagangan di Amerika Serikat (AS). Melansir
Reuters, indeks saham global MSCI naik 0,3%, sementara indeks STOXX 600 Eropa menguat 0,46% dan kembali mencetak rekor tertinggi. Kontrak berjangka (futures) indeks saham AS juga bergerak naik setelah reli pada sesi sebelumnya.
Baca Juga: Aston Martin Pangkas 20% Karyawan, Respons Tarif AS dan Lesunya Pasar China Di Asia, penguatan lebih signifikan terjadi. Indeks Asia Pasifik di luar Jepang melonjak 1,44%, ditopang bursa yang sarat saham chip seperti Korea Selatan dan Taiwan. Sementara itu, indeks Nikkei 225 Jepang melesat 2,2%. Lonjakan saham produsen chip terjadi di tengah kelangkaan memori global yang mendorong harga saham Samsung Electronics dan SK Hynix naik dua kali lipat sejak Oktober lalu, seiring derasnya aliran dana ke rantai pasok kecerdasan buatan (AI). Nvidia Jadi Penentu Arah Momentum positif sektor teknologi kini menghadapi ujian dari laporan kinerja Nvidia. Perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia itu diperkirakan membukukan lonjakan laba 62% pada kuartal yang berakhir Januari, dengan pendapatan melonjak 68%.
Baca Juga: Paramount Naikkan Tawaran, Netflix Terancam Gagal Akuisisi Warner Bros Namun, ekspektasi pasar kemungkinan lebih tinggi lagi, mengingat Nvidia telah melampaui proyeksi penjualan selama 13 kuartal berturut-turut. “Gangguan (disrupsi) AI akan tetap menjadi tema utama pasar,” ujar Mohit Kumar, Kepala Ekonom Eropa di Jefferies. Ia menambahkan, pengumuman kolaborasi yang ditegaskan oleh laboratorium AI Anthropic bersama sejumlah mitra, yang menekankan kemitraan alih-alih disrupsi, membantu menopang sektor perangkat lunak dalam beberapa hari terakhir. Tak hanya sektor teknologi, saham HSBC di London melonjak 5,5% setelah bank terbesar di Eropa itu melaporkan laba di atas ekspektasi dan menaikkan target kinerja utama.
Baca Juga: Trump Klaim Rekor Bursa Saham, Janjikan Insentif Dana Pensiun Risiko Geopolitik Masih Mengintai Optimisme pasar muncul meski investor masih dibayangi berbagai risiko geopolitik, mulai dari kebijakan tarif AS hingga ketegangan dengan Iran. Presiden AS Donald Trump dalam pidatonya menyebut “hampir semua” negara dan korporasi ingin tetap berpegang pada kesepakatan tarif dan investasi yang telah dibuat dengan Washington. Namun, belum ada kejelasan terkait sikap AS terhadap Iran di tengah meningkatnya tensi. “Kami menilai pasar cukup tenang menghadapi risiko geopolitik. Meski kami tidak memperkirakan konflik berkepanjangan, setiap serangan dari AS kemungkinan akan direspons Iran dan memicu volatilitas pada aset berisiko,” kata Kumar. Kekhawatiran tersebut membuat obligasi pemerintah AS dan Eropa tetap diminati. Imbal hasil (yield) obligasi Treasury AS tenor 10 tahun naik tipis ke 4,05%, namun masih dekat level terendah tiga bulan.
Baca Juga: Trump Buka Opsi Serangan ke Iran, Tak Akan Biarkan Teheran Miliki Senjata Nuklir Yen Melemah, Minyak dan Emas Menguat Di Jepang, yield obligasi tenor panjang melonjak setelah nominasi dua akademisi yang dianggap dovish ke dewan bank sentral, memicu kekhawatiran bahwa bank sentral tertinggal dalam pengetatan kebijakan. Yield obligasi Jepang tenor 40 tahun naik 10 basis poin menjadi 3,615%, kenaikan bulanan terbesar. Kondisi ini menekan yen, dengan dolar AS menguat ke 156,18 yen. Di pasar komoditas, harga minyak terus merangkak naik dipicu kekhawatiran terhadap Iran. Minyak mentah AS naik 0,55% ke US$ 65,99 per barel, sementara Brent menguat 0,4% ke US$ 71,07 per barel.
Baca Juga: Aston Martin PHK 20% Karyawannya, Tertekan Tarif AS dan Lesunya China Emas spot juga naik 0,7% ke US$ 5.184 per ons, sementara harga tembaga menguat seiring ekspektasi restocking setelah pelaku pasar China kembali dari libur panjang Tahun Baru Imlek. Kini, fokus utama investor tertuju pada laporan Nvidia. Hasil di atas ekspektasi berpotensi memperpanjang reli saham teknologi global, sementara kinerja yang mengecewakan bisa memicu koreksi tajam lintas pasar.