Remitra Global International (MKNT) Bidik Energi Terbarukan, Ini Rencana Bisnisnya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Remitra Global International Tbk (MKNT) mulai menjajaki peluang ekspansi ke sektor energi terbarukan. MKNT tengah mengkaji sejumlah proyek pembangkit listrik, mulai dari tenaga air hingga pengolahan sampah menjadi energi listrik.

Direktur Utama Remitra Global International Santoso Widjojo menjelaskan pihaknya sedang mengamati sejumlah peluang bisnis yang berpotensi memberikan imbal hasil menarik sekaligus memperkuat fundamental grup dalam jangka panjang.

Adapun peluang yang dikaji mencakup pembangkit listrik tenaga air (PLTA), pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTPB), serta pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL).


Baca Juga: HUMI Rombak Manajemen, Darma Mangkuluhur Hutomo Jadi Komisaris Utama

Namun, kata Santoso, rencana ekspansi tersebut masih berada pada tahap pengamatan dan kajian. MKNT belum menetapkan keputusan investasi, termasuk mengenai waktu pelaksanaan maupun hasil dari kajian peluang bisnis energi terbarukan tersebut.

“Saat ini kami sedang mengkaji sektor energi terbarukan, dan belum ada keputusan investasi. Kami memahami bahwa melangkah ke bidang baru adalah keputusan besar bagi pemegang saham,” jelasnya, Jumat (9/10). 

Santoso bilang apabila nantinya ekspansi ke sektor energi terbarukan dinilai layak, manajemen MKNT akan mempertimbangkan aspek teknis, komersial, dan hukum. Pengembangan bisnis juga akan memperhatikan ketentuan pasar modal dan keterbukaan informasi.

“Karena itu, apabila kelak Perseroan memperluas usaha ke sektor ini, langkah tersebut akan kami jalankan sesuai ketentuan pasar modal dan ketentuan keterbukaan informasi yang berlaku, dengan alokasi modal yang terukur demi meningkatkan nilai bagi pemegang saham.”

Di luar penjajakan bisnis baru, MKNT saat ini memiliki dua lini usaha operasional, yakni manufaktur dan distribusi baja serta budidaya udang air payau. Pada 2025, MKNT meraup pendapatan bersih Rp 900 miliar. 

Bisnis baja MKNT memiliki kapasitas terpasang sebesar 300.000 ton per tahun pada 2025. Sementara itu, bisnis budidaya udang dijalankan melalui tambak produktif seluas 27,72 hektare di Malingping, Kabupaten Lebak, Banten.

Untuk mendukung arah pengembangan bisnis, manajemen MKNT juga berencana menata struktur perusahaan. Salah satu anak usaha ditargetkan memperluas kegiatan usaha agar mencakup aktivitas holding pada Oktober 2026.

 
MKTN Chart by TradingView

Untuk itu, MKTN berencana menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada November hingga Desember 2026 untuk menyesuaikan kegiatan usaha. Namun ini masih menunggu persetujuan pemegang saham dan otoritas terkait.

Dari sisi keuangan, neraca MKTN secara proforma setelah penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD) alias private placement. Total aset diperkirakan mencapai Rp 1,60 triliun, dengan liabilitas Rp 628 miliar dan ekuitas Rp 976,5 miliar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News