Rencana Bisnis FIFA Gagal, Gianni Infantino Cari Dukungan Donald Trump



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Presiden Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) Gianni Infantino disebut berupaya mendapatkan dukungan dari pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump setelah rencana kontroversial menjual sebagian hak komersial Piala Dunia FIFA mendapat penolakan keras dari berbagai pihak.

Mengutip laporan New York Post pada Senin (3/8/2026), yang mengacu pada sejumlah sumber yang mengetahui persoalan tersebut, Infantino merasa membutuhkan dukungan politik di tengah meningkatnya kritik terhadap rencana pelepasan sebagian aset komersial FIFA.

Rencana tersebut sebelumnya bertujuan menjual sekitar 20% kepemilikan pada entitas baru yang akan mengelola aset komersial berbagai kompetisi FIFA, termasuk Piala Dunia. Langkah itu ditujukan untuk menarik dana dari investor swasta hingga mencapai US$ 4,2 miliar.


Namun, rencana tersebut akhirnya dibatalkan pada Jumat setelah mendapat penolakan kuat dari sejumlah pemangku kepentingan sepak bola.

Baca Juga: FA Inggris Cabut Dukungan Gianni Infantino, Jalan Menuju Pemilihan FIFA Kian Berat

Menurut laporan tersebut, Infantino beberapa kali mencoba menghubungi Presiden Donald Trump melalui telepon sejak proposal itu runtuh, tetapi upaya tersebut belum berhasil.

Sumber yang dikutip New York Post menyebut kepala FIFA itu merasa "terisolasi" akibat gelombang pemberitaan negatif yang muncul setelah kegagalan rencana tersebut.

Infantino juga dijadwalkan melakukan pembicaraan pribadi dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio. Dua sumber yang mengetahui agenda tersebut menyatakan bahwa Presiden FIFA akan melakukan panggilan dengan diplomat utama Amerika Serikat tersebut setelah pukul 09.00 waktu setempat.

FIFA maupun Gedung Putih belum memberikan komentar langsung terkait laporan tersebut. FIFA belum segera merespons permintaan komentar dari Reuters, sementara Gedung Putih juga belum memberikan tanggapan.

Rencana Investasi FIFA Tuai Penolakan

Rencana restrukturisasi aset komersial FIFA menjadi sorotan karena melibatkan perubahan besar dalam pengelolaan sumber pendapatan organisasi sepak bola dunia tersebut.

Melalui entitas baru yang didukung investor swasta, FIFA berharap dapat membuka akses pendanaan hingga US$ 4,2 miliar dengan menjual sekitar seperlima kepemilikan perusahaan tersebut.

Baca Juga: China Borong 800.000 Ton Kedelai AS, Manfaatkan Penurunan Harga

Namun, gagasan tersebut mendapat resistensi dari berbagai pihak yang mempertanyakan dampak terhadap tata kelola FIFA, distribusi keuntungan, serta potensi pengaruh investor eksternal terhadap kompetisi sepak bola internasional.

Setelah rencana tersebut dibatalkan, perhatian kini beralih kepada dampaknya terhadap posisi politik Infantino di FIFA.

Pria asal Swiss berusia 56 tahun itu tengah menghadapi sorotan lebih besar terkait peluangnya mencalonkan diri kembali sebagai Presiden FIFA untuk periode 2027–2031.

Kegagalan inisiatif tersebut dinilai dapat menjadi tantangan baru bagi Infantino dalam mempertahankan dukungan menjelang pemilihan kepemimpinan FIFA berikutnya.

Sejak menjabat sebagai Presiden FIFA pada 2016, Infantino telah mendorong berbagai perubahan bisnis di organisasi tersebut, termasuk peningkatan nilai komersial turnamen internasional dan perluasan sumber pendapatan FIFA.

Namun, langkah terbaru untuk melibatkan investor swasta dalam aset komersial FIFA justru memicu perdebatan luas di kalangan pemangku kepentingan sepak bola dunia.