Rencana IPO BNI Syariah tahun ini kemungkinan akan ditunda, kenapa?



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI, anggota indeks Kompas100) kemungkinan akan menunda untuk mengantarkan anak usahanya PT Bank BNI Syariah melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) lewat penawaran umum perdana atau Initial Public Offering (IPO) tahun ini.

Sebelumnya, BNI Syariah menargetkan akan IPO tahun ini dalam rangka untuk mencapai tujuan naik kelas menjadi Bank Umum Kelompok Usaha (BUKU) III. Adapun modal inti bank syariah ini mencapai Rp 4,1 triliun. Ada kekurangan Rp 900 miliar lagi yang yang dicari untuk bisa mencapai BUKU III dengan modal inti minimal Rp 5 triliun.

BNI Syariah semula menargetkan mengejar selisih tersebut lewat pertumbuhan secara organik melalui penambahan Laba Ditahan ataupun menggali peluang pertumbuhan secara anorganik salah satunya lewat IPO.


Wakil Direktur Utama BNI, Herry Sidharta memastikan rencana naik BUKU BNI Syariah tersebut akan terealisasi tahun ini. Namun, itu akan dikejar lewat pertumbuhan organik dan inbreng aset dari BNI.

Inbreng aset dilakukan sejalan dengan adanya kebijakan dari Pemerintah Provinsi Aceh membuat semua lembaga keuangan di daerah tersebut menganut asas syariah. "Karena ada kebijakan di Aceh, kemungkinan akan ada inbreng aset ke BNI Syariah. Jadi IPO untuk sementara akan jadi alternatif kedua," kata Herry di Jakarta, Rabu (24/4).

Seperti diketahui, Pemprov Aceh akan menerbitkan Qanum (Perda Syariah) tentang lembaga keuangan syariah. Rancangan aturan tersebut sudah masuk ke pemprov pada November 2018. Dalam ketentuannya, tiga tahun setelah perda terbit maka seluruh lembaga keuangan di Aceh harus berazaskan syariah.

Oleh karena itu, BNI berencana mengalihkan semua asetnya yang ada di Aceh ke BNI Syariah. Peralihan aset induk akan berpotensi menambah modal BNI Syariah Rp 3,5 triliun hingga Rp 3,6 triliun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Tendi Mahadi