Rencana Merger SpaceX-Tesla US$ 3,5 Triliun Bikin Resah, Ini Pemicunya



KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Rencana merger SpaceX dan Tesla dengan nilai potensial mencapai US$ 3,5 triliun mulai menghadapi tantangan. Dukungan terbuka Elon Musk terhadap transaksi tersebut justru memicu kekhawatiran di kalangan pihak yang terlibat dalam pembahasan, terutama terkait potensi konflik kepentingan dan risiko gugatan pemegang saham.

Reuters melaporkan pada Kamis (22/10/2026), sejumlah pihak yang mengetahui langsung pembicaraan tersebut khawatir pernyataan Musk dapat meningkatkan pengawasan investor dan menunda proses transaksi hingga beberapa pekan.

Salah satu sumber yang mengetahui pembahasan itu mengatakan, pengungkapan rencana merger ke publik telah menciptakan "kekacauan" dalam proses negosiasi.


Pernyataan tersebut berpotensi memunculkan pertanyaan mengenai sejauh mana kepentingan pemegang saham Tesla akan terlindungi dalam transaksi yang melibatkan dua perusahaan yang sama-sama dipimpin Musk.

Kekhawatiran tersebut mengingatkan sebagian pihak pada akuisisi SolarCity oleh Tesla pada 2016. Transaksi itu memicu sengketa hukum selama bertahun-tahun terkait dugaan pengaruh Musk dalam proses pengambilalihan perusahaan energi surya tersebut.

Baca Juga: IMF dan OECD Peringatkan AI Bisa Perlebar Kesenjangan Negara Kaya dan Miskin

Rencana merger SpaceX dan Tesla masih tahap awal

Musk, yang menjabat sebagai CEO SpaceX dan Tesla sekaligus memiliki saham signifikan di kedua perusahaan, mengungkapkan kepada investor bahwa kedua perusahaan sedang mengevaluasi kemungkinan transaksi yang berpotensi menjadi merger terbesar dalam sejarah korporasi.

Musk juga menyampaikan bahwa SpaceX dan Tesla telah membentuk komite khusus untuk mengevaluasi rencana tersebut. Dampak negatif dari pernyataan terbuka Musk terhadap proses pembahasan ini sebelumnya belum pernah dilaporkan.

Tiga sumber yang mengetahui persoalan tersebut menyebutkan bahwa kedua perusahaan telah menunjuk penasihat, tetapi pembicaraan masih berada pada tahap awal.

Menurut salah satu sumber, SpaceX mendekati Tesla dalam beberapa pekan terakhir. Kedua perusahaan kemudian membahas sejumlah alternatif struktur transaksi, termasuk kemungkinan SpaceX mengakuisisi Tesla atau menggabungkan kedua perusahaan melalui perusahaan induk baru.

Mereka juga mempertimbangkan berbagai bentuk imbalan transaksi, termasuk skema pembayaran sepenuhnya menggunakan saham.

Tesla, SpaceX, dan Musk tidak memberikan tanggapan atas permintaan komentar Reuters mengenai pembahasan tersebut.

Bayang-bayang gugatan akuisisi SolarCity

Potensi konflik kepentingan menjadi salah satu perhatian utama dalam rencana merger SpaceX dan Tesla. Dalam transaksi yang melibatkan pihak-pihak berelasi, anggota dewan independen biasanya bertanggung jawab mengawasi proses untuk memastikan kepentingan pemegang saham publik tetap terlindungi.

Persoalan serupa pernah muncul dalam akuisisi SolarCity oleh Tesla pada 2016. Saat itu, para pemegang saham menuduh Musk memengaruhi proses transaksi untuk menyelamatkan investasinya di perusahaan panel surya atap yang sedang mengalami kesulitan keuangan.

Baca Juga: Prada Catat Pertumbuhan Pendapatan 1% pada Kuartal III 2026

Pada saat akuisisi berlangsung, Musk memiliki sekitar 22% saham Tesla dan SolarCity. SolarCity sendiri didirikan oleh sepupu-sepupu Musk.

Pemegang saham berpendapat bahwa keterlibatan Musk dan dukungan terbukanya terhadap transaksi tersebut merusak independensi serta kewajaran proses akuisisi.

Salah satu pokok perkara adalah dugaan bahwa Musk, meskipun tidak memiliki mayoritas saham Tesla, bertindak sebagai pemegang saham pengendali karena kedekatannya dengan sejumlah anggota dewan dan gaya kepemimpinannya yang dominan.

Mahkamah Agung Delaware kemudian mencatat bahwa klaim penggugat mengenai tidak adanya komite independen, bersama dengan "sejumlah fakta lain mengenai keterlibatan Musk dalam transaksi tersebut dan dukungan terbukanya terhadap transaksi itu", menjadi dasar untuk menyimpulkan adanya proses transaksi yang tidak adil.

Meski demikian, pengadilan pada akhirnya menguatkan keputusan bahwa akuisisi SolarCity berlangsung secara adil. Perkara tersebut membutuhkan waktu beberapa tahun hingga selesai, sementara sejumlah direktur Tesla menyelesaikan tuduhan terhadap mereka melalui kesepakatan senilai US$ 60 juta.

Pengalaman tersebut kini menjadi perhatian dalam evaluasi rencana merger SpaceX dan Tesla, khususnya terkait perlindungan pemegang saham minoritas dan independensi pengambilan keputusan.

Elon Musk tidak boleh terlibat dalam pembahasan merger

Musk memiliki hampir seperlima saham Tesla dan sedikit di bawah separuh saham SpaceX. Sejumlah analis menilai merger kedua perusahaan berpotensi memberinya kendali atas entitas gabungan.

Dalam panggilan dengan investor pada Selasa, Musk mengakui bahwa dirinya merupakan pihak yang memiliki konflik kepentingan sehingga tidak dapat terlibat dalam pembahasan yang dilakukan komite khusus kedua perusahaan.

Sumber yang mengetahui proses tersebut mengatakan, para penasihat juga berkomunikasi dengan pengacara Musk untuk memastikan bahwa ia tidak ikut serta dalam pembicaraan merger.

Eric Talley, profesor hukum di Columbia University, menilai penggabungan kedua perusahaan berpotensi memberikan manfaat bagi pemegang saham. Salah satunya adalah mengurangi kebutuhan Musk untuk membagi waktu dan perhatiannya di antara dua perusahaan besar.

Baca Juga: Kebijakan Trump soal Solar Bebas Pajak Diragukan Petani

Namun, menurut Talley, potensi gugatan hukum dalam transaksi kali ini lebih sulit diprediksi dibandingkan perkara SolarCity karena Tesla kini berbadan hukum di Texas, bukan Delaware.

“Persoalan Texas merupakan faktor yang sulit diprediksi. Tidak ada yang tahu bagaimana Texas menangani kasus seperti ini karena Texas belum pernah menangani kasus seperti ini,” kata Talley.

Ia menjelaskan bahwa Texas berupaya memosisikan diri sebagai alternatif Delaware yang ramah terhadap dunia usaha. Talley juga menilai pernyataan Musk sejauh ini belum tentu menjadi persoalan hukum.

Pada akhirnya, risiko litigasi akan sangat bergantung pada ketentuan transaksi yang disepakati kedua perusahaan.

“Siapa yang akan mendapatkan keuntungan lebih besar dari kesepakatan ini? Dan biasanya, hal itulah yang memicu gugatan hukum,” ujar Talley.

Pernyataan Musk berpotensi memengaruhi proses negosiasi

Pihak-pihak yang terlibat dalam proses merger mengkhawatirkan dukungan terbuka Musk dan pengungkapan rencana transaksi kepada publik dapat meningkatkan pengawasan investor.

Menurut sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut, pihak-pihak yang berkepentingan dalam transaksi biasanya menghindari pernyataan publik mengenai kesepakatan selama direktur independen masih mengevaluasi rencana tersebut.

Perkara SolarCity juga berpotensi menjadi acuan bagi investor dan pengadilan dalam menilai transaksi SpaceX-Tesla apabila penasihat hukum gagal memastikan bahwa komite khusus kedua perusahaan benar-benar terlindungi dari pengaruh Musk.

Baca Juga: Pound Menguat, Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga Bank of England Jadi Penopang

Jika terealisasi, penggabungan Tesla dan SpaceX akan menciptakan salah satu kelompok industri dan teknologi terbesar di dunia. Nilai transaksi potensial US$ 3,5 triliun juga akan menjadikannya salah satu kesepakatan korporasi terbesar sepanjang sejarah.

Transaksi tersebut akan melampaui akuisisi perusahaan kecerdasan buatan milik Musk, xAI, oleh SpaceX pada awal 2026, yang termasuk dalam jajaran transaksi korporasi terbesar yang pernah diumumkan.

Meski demikian, merger berskala besar ini berpotensi menghadapi pengawasan ketat dari regulator di berbagai negara. Perhatian khusus diperkirakan tertuju pada bisnis Tesla di China serta aktivitas SpaceX yang berkaitan dengan sektor pertahanan Amerika Serikat dan kecerdasan buatan.