Renminbi belum terlalu laku di Indonesia



JAKARTA. Ambisi China menjadikan renminbi sebagai mata uang utama di dunia menggantikan dollar Amerika Serikat (US$) belum mendapatkan reaksi berarti dari Indonesia.

Hal ini terlihat dari masih banyaknya eksportir Indonesia yang belum tertarik menggunakan pembayaran dalam renminbi walaupun berhubungan dengan perusahaan asal negeri tirai bambu tersebut. 

Head of Global Trade and Receivables Finance HSBC Indonesia Nirmala Salli mengulas, pengusaha di Indonesia lebih cenderung wait and see mengenai transaksi dalam mata uang China tersebut. Padahal saat ini sudah banyak pelaku usaha asal China yang menerima pembayaran dalam bentuk mata uangnya dan tidak melulu dollar.


"Mereka (eksportir Indonesia) masih menunggu dan belum berani mencoba hal tersebut," jelasnya, Rabu (10/10).

Selain keengganan tersebut, minimnya transaksi renminbi di Indonesia juga karena para pengusaha di China ternyata masih tetap menawarkan pembayaran dengan dollar selain dengan mata uanganya.

HSBC masuk renminbi

"Jadi karena belum banyak yang tahu, makannya masih sulit diterapkan. Tapi karena target pemerintah China menjadikan renminbi sebagai mata uang internasional ketiga menggeser poundsterling maka kami sudah mulai menggalakkan, lewat HSBC mereka sudah bisa melakukan transaksi renminbi," jelas Nirmala.

Saat ini China menjadi negara tujuan ekspor terbesar Indonesia. Menurutnya, keuntungan menggunakan mata uang renminbi adalah transaksi perdagangan antara pelaku usaha Indonesia dan China akan lebih mudah.

Sebagai perbandingan jika menggunakan pembayaran dengan dollar, keduanya harus lagi melakukan penyesuaian terhadap mata uang masing-masing. "Itu memakan waktu. Kalau dengan renminbi ya tidak perlu lagi pemberlakuan swap," terangnya.

Kendala lain minimnya transaksi renminbi adalah belum adanya exchange rate untuk mata uang ini. Tidak seperti dollar AS ataupun euro yang setiap harinya sudah ada acuannya di Bank Indonesia (BI).  

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: