Resmi Digelar IHCBS2026 Buka Era Baru Produktivitas Indonesia Lewat Human Centric AI
Selasa, 15 September 2026 19:29 WIB
Oleh: Tim KONTAN | Editor: Ridwal Prima Gozal
KONTAN.CO.ID - Indonesia Human Capital & Beyond Summit (IHCBS) 2026 resmi digelar pada 15–16 September 2026 di NICE PIK 2, Tangerang. Mengusung tema “Harnessing Human-Centric AI and Digitalization to Unlock Next-Level Productivity”, IHCBS 2026 menjadi forum yang mempertemukan para pemimpin industri, pemerintah, praktisi human capital, akademisi, serta berbagai pemangku kepentingan untuk membahas masa depan tenaga kerja dan produktivitas Indonesia di tengah percepatan AI dan digitalisasi. IHCBS 2026 dihadiri oleh 6.000 peserta yang berasal dari private sector, instansi pemerintahan, akademisi dan banyak HR practitioners serta menghadirkan lebih dari 70 pembicara nasional dan internasional. Kehadiran berbagai pemimpin lintas sektor ini memperkuat posisi IHCBS sebagai ruang bertemunya perspektif, pengalaman, dan praktik terbaik untuk menjawab tantangan transformasi human capital di Indonesia. IHCBS 2026 resmi dibuka melalui Opening Ceremony yang menghadirkan Lilik Oetama, CEO Kompas Gramedia Group; Suwardi Luis, CEO One GML & Founder QuBisa; serta Yunus Triyonggo, Ketua Steering Committee Gerakan Nasional Indonesia Kompeten (GNIK).
Pembukaan IHCBS 2026 juga diawali dengan Inclusive Opening Walk 5C with Karyabilitas sebagai bagian dari acknowledgement terhadap Steering Committee IHCBS 2026 sekaligus merepresentasikan semangat kolaborasi dan inklusivitas yang menjadi bagian penting dalam membangun masa depan human capital Indonesia. Memasuki rangkaian utama IHCBS 2026, Grand Keynote menghadirkan Prof. Yassierli, Ph.D., Menteri Ketenagakerjaan RI, yang membawakan topik “Closing the ASEAN Gap: A 'People Centered' Policy Framework for National Competitiveness.” Dalam sesi tersebut, Prof. Yassierli membahas pentingnya pendekatan yang berpusat pada manusia dalam memperkuat daya saing nasional, khususnya di tengah perubahan lanskap pekerjaan dan meningkatnya tuntutan kompetensi tenaga kerja. Pendekatan people-centered menjadi semakin penting ketika transformasi teknologi dan AI terus mengubah cara organisasi bekerja, berinovasi, dan membangun kapabilitas tenaga kerjanya. Dalam paparannya Prof. Yassierli menyebutkan sebuah studi dari BCG yang menunjukkan AI belum signifikan menghasilkan keuntungan. Technology enchancing human, memakai empat prinsip People-Centric AI yaitu memperkuat keampuan manusia, melibatkan pekerja, menjaga kendali manusia dan menyiapkan pekerja menghadapi perubahan. "Rather than simply replacing job, AI is reshaping them in fundamentaly different ways." — Prof. Yassierli, Ph.D., Menteri Ketenagakerjaan RI Pada opening speech, Suwardi Luis menyoroti menciptakan perubahan khususnya mengenai pentingnya kolaborasi antara government, akademisi, ekosistem dari asosiasi media dan para praktisi leader punya peran besar untuk menciptakan perubahan di dunia kerja. “Mari kita nikmati waktu kita bersama hari ini, berkolaborasi untuk Indonesia yang lebih cerah, untuk Indonesia yang lebih baik” — Suwardi Luis, CEO GML Performance Consulting & QuBisa
Sementara itu, sesi National Inspire menghadirkan Agus Dwi Handaya, Managing Director HC Danantara Aset Manajemen, melalui topik “PeopleMath = Formula Transformasi Future Ready Workforce, Korporasi dan Bangsa.” Sesi ini membahas bagaimana pendekatan terhadap human capital perlu terus berkembang untuk membangun workforce yang siap menghadapi perubahan. Konsep future-ready workforce menjadi semakin relevan ketika organisasi dituntut untuk tidak hanya meningkatkan kemampuan teknis tenaga kerja, tetapi juga membangun kapasitas yang mendukung produktivitas dan transformasi jangka panjang. Agus Dwi Handayana menjelaskan perihal peoplemath. Peoplemath memastikan untuk membuat seorang perform tidak ada unsur yang diabaikan dan tidak semua diberi perlakuan. “Angka menunjukkan apa yang kita capai, manusia yang bertumbuh menunjukkan apa yang kita wariskan”— Agus Dwi Handaya, Managing Director HC Danantara Aset Manajemen. Dari perspektif global, IHCBS 2026 menghadirkan Paul Choo, CHRO Bridgestone Asia Pacific, dalam sesi International Inspire bertajuk “Best Practices of Human Centric Practices: an Asia Pacific Perspective.” Paul Choo membagikan perspektif mengenai penerapan praktik human-centric di kawasan Asia Pacific, termasuk bagaimana organisasi dapat tetap menempatkan manusia sebagai bagian utama dari transformasi di tengah perkembangan teknologi dan tuntutan produktivitas yang semakin tinggi. Pembahasan tersebut memperkuat pesan bahwa transformasi digital tidak semata-mata berbicara mengenai adopsi teknologi, tetapi juga mengenai bagaimana organisasi membangun lingkungan kerja, kapabilitas, dan praktik kepemimpinan yang memungkinkan manusia berkembang bersama teknologi. Dikatakan bahwa AI sebagai enabler untuk melakukan berbagai hal, mendesign ulang pekerjaan dan organisasi adalah tranformasinya. Top 5 Imperatives yang dapat dilakukan adalah meningkatkan workforce (upscaling the workforce), mentransformasi HR dalam organisasi (transform the HR organizations), mendesign ulang pekerjaan (redesign work), mendesign ulang alur pekerjaan (redesign the workflow) dan mengubah bentuk budaya dan leadership (reshape culture and leadership). “AI doesn’t simply change jobs. It changes how workflows through the organizations. You need to redesign around Human and AI. We need to use AI with care. Let’s treat AI as transformation.“ — Paul Choo, CHRO Bridgestone Asia Pacific Rangkaian diskusi kemudian berlanjut melalui Top Executive Talk Show bertajuk “Fortifying National Capacity: Global Standards for Local Resilience.” Sesi yang dipandu oleh Cheria Vasti ini mempertemukan Jonathan Tahir, President Commissioner Mayapada Healthcare, dan Pushkar Saran, Executive Director ETS for Institutional Programs in Southeast Asia. Keduanya membahas pentingnya membangun kapasitas nasional yang mampu merespons perubahan sekaligus tetap memiliki daya tahan dalam menghadapi berbagai tantangan global. Perspektif lokal dan global dipertemukan untuk melihat bagaimana standar, kompetensi, dan kapabilitas dapat diterjemahkan menjadi kekuatan organisasi dan bangsa. “Not everything we see and hear from outside is relevant to us as well so it’s important that we are able to tailor a lot of the global standards.” — Jonathan Tahir, President Commissioner Mayapada Healthcare. “If you believe AI is powerful and effective, you should always be able to solve your problems” — Pushkar Saran, Executive Director ETS for Institutional Programs in Southeast Asia Menutup rangkaian mega session di hari pertama, IHCBS 2026 menghadirkan Sutanto Hartono, Managing Director PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTEK) dalam sesi Top Executive Talk Show bertajuk “The Resilience Factor: Building a Resilient Mindset and an Outcome-Based Work Culture in the Era of Transformation.” Diskusi ini menyoroti pentingnya membangun resilient mindset dan budaya kerja berbasis outcome dalam menghadapi perubahan yang berlangsung semakin cepat. Ketika teknologi mengubah proses dan cara kerja organisasi, kemampuan manusia untuk beradaptasi, mengambil keputusan, serta berorientasi pada hasil menjadi semakin penting.
Sutanto Hartono menyatakan implementasi AI yang baik seharusnya meningkatkan performa hal ini seharusnya membuat leader mendorong karyawan untuk bertransformasi bersama AI.
Selain rangkaian Mega Session dan Talk Show, IHCBS 2026 juga menghadirkan berbagai sesi dalam 8 Power Tracks yang membahas isu-isu strategis seputar AI dan digital transformation, future skills, productivity, leadership, human sustainability, workforce development, hingga data-driven people and culture. Berbagai diskusi tersebut memberikan ruang bagi peserta untuk menggali perspektif yang lebih spesifik dan aplikatif sesuai tantangan organisasi masing-masing.
Lebih dari sekadar forum diskusi, IHCBS 2026 menjadi ruang pertemuan bagi berbagai pemangku kepentingan untuk membangun pemahaman bersama bahwa AI dan digitalisasi harus berjalan beriringan dengan penguatan manusia. Teknologi dapat membuka peluang baru untuk meningkatkan produktivitas, namun dampaknya akan sangat ditentukan oleh kesiapan talenta, kepemimpinan, budaya organisasi, serta ekosistem yang mendukung. Rangkaian hari pertama IHCBS 2026 ditutup dengan Pak Susanto yang memperkuat pesan bahwa membangun produktivitas di era AI bukan hanya tentang seberapa cepat organisasi mengadopsi teknologi, tetapi juga tentang seberapa siap manusia dan ekosistemnya berkembang bersama perubahan. Rangkaian IHCBS 2026 akan berlanjut pada 16 September 2026 dengan menghadirkan Dr. Yunus Triyonggo, CAHRI., Dr. Muhammad Taufiq, Dave Ulrich, On Lee, Chandra Ming dan terdapat Battle Session. Hari kedua akan melanjutkan pembahasan mengenai bagaimana human-centric AI dan digitalisasi dapat diterjemahkan menjadi langkah nyata untuk membangun workforce yang lebih adaptif, produktif, dan siap menghadapi masa depan. Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News