Resmikan PLTS Atap, Pupuk Kaltim Tunjukan Konsistensi Dukung ESG Industri Petrokimia



KONTAN.CO.ID - Salah satu perusahaan petrokimia terbesar di Indonesia, PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim/PKT) meresmikan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) Atap di Bontang, Kalimantan Timur pada Kamis, (18/08). Peresmian ini juga menahbiskan Pupuk Kaltim sebagai pelopor transformasi hijau petrokimia nasional dan bukti komitmen Pupuk Kaltim mengurangi emisi karbon hingga 32,51% pada 2030 mendatang.

Direktur Utama Pupuk Kaltim Rahmad Pribadi menjelaskan, pengembangan transformasi hijau di Pupuk Kaltim harus mempertimbangkan output yang bermanfaat bagi lingkungan, termasuk PLTS. Untuk itu, PLTS Atap ini merupakan bagian dari implementasi energi baru dan terbarukan (EBT) yang mampu menghasilkan energi ramah lingkungan.

PLTS Atap PKT ini mampu menekan emisi gas karbon secara optimal dan menghemat hingga 30% kebutuhan energi listrik Pupuk Kaltim di area perkantoran. Ada juga pemanfaatan energi hijau lainnya yaitu mengganti operasional sepeda motor dengan motor listrik dan kedepannya, kendaraan operasional lainnya seperti bis juga akan menggunakan energi listrik.


Penambahan komposisi energi listrik dari energi baru terbarukan (EBT) ini merupakan salah satu strategi perusahaan untuk mendukung komitmen Indonesia dalam mencapai net zero emission pada tahun 2060.

“PLTS Atap ini merupakan salah satu bagian dari ekosistem EBT di lingkungan PKT yang mana mampu menghasilkan energi bersih dan menekan emisi gas karbon secara optimal. Kemampuan PLTS Atap ini akan dapat menghemat 20% sampai 30% kebutuhan energi PKT di area perkantoran,” imbuh Rahmad dalam keterangan resminya pada Selasa, (18/08).

PLTS yang dibangun sejak Mei 2021 ini, lanjut Rahmad, juga menjadi komitmen Pupuk Kaltim dalam menerapkan environment, social, and governance (ESG), sesuai dengan peta pertumbuhan perusahaan yang bergerak di industri petrokimia itu selama 40 tahun ke depan.

“Pengembangan konsep ESG dengan mempertimbangkan output yang memberikan banyak manfaat bagi lingkungan menjadi strategi kami dalam mempercepat laju dekarbonisasi industri petrokimia dan pupuk,” sambung Rahmad.

PLTS Atap yang dibangun Pupuk Kaltim punya total luas sekitar 6.500 M2 yang memanfaatkan area-area yang sudah ada seperti atap gedung kantor, kantin, dan area parkir di kompleks perkantoran Pupuk Kaltim di Bontang. Dengan menggunakan skema rooftop on grid tanpa baterai, PLTS Atap Pupuk Kaltim punya kapasitas sebesar 1.256,04 Kilowatt Peak (kWp) dengan spesifikasi output tegangan 3 phase 400 Volt pada 2.326 unit.

Sistem on grid ini juga memiliki kelebihan, yaitu dapat mengirim daya lebih apabila PLTS mengalami kelebihan suplai ke jaringan otomatis, sehingga surplus daya dapat digunakan saat energinya dibutuhkan.

Sistem PLTS ini juga mampu mengurangi konsumsi listrik Pupuk Kaltim dengan rata-rata sekitar 139.000 KWh per bulan. Nilai ini tentunya sangat menghemat jumlah listrik dengan energi konvensional yang sebelumnya digunakan konsumsi listrik di atas 150.000 kilowatt hour (kWh) per bulan. Sejak bulan Januari hingga Agustus 2022, produksi PLTS Atap PKT telah mencapai total 980,71 megawatt jam (MWH), dengan potensi produksi energi perhari dapat mencapai sebesar 3,21 MWH dengan kondisi matahari penuh.

Bukan itu saja, jumlah produksi energi tersebut mampu menekan buangan gas limbah (CO2 Avoided) mencapai total 468,26 ton atau setara penggunaan batubara (Standard Coal Saved) pada pembangkit listrik konvensional mencapai 394,34 ton.

Rahmad berharap, adanya PLTS di perusahaannya mampu mendukung tujuan perusahaan untuk menurunkan emisi karbon. Selanjutnya, Pupuk Kaltim senantiasa akan terus memberikan terobosan dan strategi baru agar senantiasa menjadi pionir transformasi penggunaan energi hijau pada industri petrokimia.

“Dengan adanya peresmian pendayagunaan PLTS Atap di lingkungan perkantoran ini, diharapkan dapat menjadi faktor pendukung bagi perusahaan dalam mencapai target penurunan emisi karbon secara berkelanjutan. Ke depannya, PKT akan terus fokus dalam menghadirkan strategi dan terobosan terbaik guna menjadi pionir dalam transformasi industri petrokimia yang lebih hijau, juga untuk meningkatkan efisiensi energi secara menyeluruh.”  pungkas Rahmad.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Indah Sulistyorini