Return Investasi Dana Pensiun Naik, Harga Obligasi Jadi Faktor Pendorongnya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Data statistik Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, Return on Investment (RoI) dana pensiun (dapen) konvensional meningkat secara bulanan dari 0,02% per Maret 2026, menjadi 0,55% per April 2026. 

Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) menyampaikan kenaikan RoI dapen konvensional disebabkan kenaikan harga obligasi dan perbaikan hasil investasi bulanan. 

"Selain itu, adanya penyesuaian alokasi aset oleh pengelola dana pensiun dan fundamental ekonomi domestik yang masih relatif terjaga, sehingga investasi dana pensiun tetap tumbuh," kata Humas ADPI Syarifudin Yunus kepada Kontan, Selasa (30/6/2026).


Baca Juga: Jasindo Waspadai Potensi Kenaikan Klaim Kendaraan akibat Pelemahan Rupiah

Untuk meningkatkan RoI di tengah berbagai tantangan tahun ini, ADPI mendorong dana pensiun melakukan sejumlah upaya. Syarifudin menerangkan dana pensiun harus mampu mengelola risiko dengan lebih baik, melakukan alokasi aset yang tepat, dan menjaga disiplin investasi jangka panjang. 

Dia menekankan bahwa dana pensiun bukan sekadar mencari return yang tinggi, melainkan perlu mengedepankan konsistensi hasil investasi. 

"Konsistensi hasil investasi dana pensiun lebih penting daripada mengejar keuntungan tinggi dalam waktu singkat," tuturnya.

Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono menyampaikan ada sejumlah tantangan investasi yang perlu diwaspadai industri dana pensiun ke depannya. 

Dia bilang tantangan pengelolaan investasi, antara lain berasal dari volatilitas pasar keuangan, dinamika suku bunga, serta tekanan geopolitik global.

Ditambah, adanya kebutuhan untuk menjaga keseimbangan antara hasil investasi dan profil risiko," ucapnya dalam lembar jawaban tertulis RDK OJK, Selasa (23/6).

Adapun OJK mencatat, total investasi dana pensiun sebesar Rp 1.617,44 triliun per April 2026, atau tumbuh 9,21% secara Year on Year (YoY). Penempatan investasi masih didominasi Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 1.041 triliun atau porsinya 64,41% dari total investasi, diikuti deposito dan tabungan sebesar Rp 225,71 triliun atau 13,95%. 

Baca Juga: Cerita Dua UMKM PRJ 2026 Mampu Bertahan dengan Digitalisasi Finansial

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News