Return Reksadana Saham Tembus 25,38%, Ini Strategi yang Dipakai Manajer Investasi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Manajer investasi berupaya mengoptimalkan kinerja reksadana saham di tengah dinamika global dan domestik. Berdasarkan data Infovesta, terdapat 91 produk reksadana saham yang mencetak return lebih tinggi dari kenaikan indeks harga saham gabungan (IHSG) secara bulanan per Juli 2026. Adapun secara bulanan IHSG telah naik 10,51% secara bulanan per Juli 2026.

Tercatat, salah satu produk reksadana saham yang mencetak return tinggi adalah Henan Smart Beta Ekuitas Kelas A yakni sebesar 14,06% secara bulanan per Juli 2026. 

Baca Juga: Industri Kripto Dorong Fatwa MUI, Ini Kriteria Aset Kripto yang Halal


Senior Vice President Head of Retail, Product Research & Distribution Henan Putihrai Asset Management (HPAM) Reza Fahmi Riawan mengatakan, Henan Smart Beta Ekuitas Kelas A dikelola dengan pendekatan aktif yang mengombinasikan analisis fundamental dan disiplin manajemen risiko. 

Dalam kondisi pasar yang masih dipengaruhi oleh dinamika global maupun domestik, HPAM tetap fokus pada pemilihan saham-saham yang memiliki fundamental yang kuat, valuasi yang menarik, serta prospek pertumbuhan jangka panjang yang baik

Di sisi lain, pengelolaan portofolio juga dilakukan secara fleksibel agar mampu beradaptasi terhadap perubahan kondisi pasar. 

"Dengan pendekatan tersebut, HPAM berupaya mengoptimalkan potensi imbal hasil sekaligus menjaga kualitas portofolio dalam jangka panjang," ujar Reza kepada Kontan, Rabu (12/8/2026). 

Reza bilang bahwa Henan Smart Beta Ekuitas Kelas A berinvestasi pada berbagai sektor yang kami nilai memiliki prospek pertumbuhan yang baik dan didukung oleh fundamental yang kuat. Pemilihan sektor maupun saham dilakukan secara selektif berdasarkan analisis terhadap kondisi makroekonomi, prospek industri, valuasi, serta potensi pertumbuhan masing-masing emiten.

Pendekatan ini memungkinkan portofolio tetap terdiversifikasi dan adaptif terhadap perubahan siklus ekonomi maupun dinamika pasar. Seiring berkembangnya kondisi pasar, komposisi sektor dalam portofolio juga dapat disesuaikan untuk menangkap peluang investasi yang dinilai paling menarik.

Baca Juga: XLSMART Telecom (EXCL) Masih Merugi Rp 994,15 Miliar per Semester I-2026

Terkait target return Henan Smart Beta Ekuitas Kelas A, Reza mengatakan bahwa sebagai manajer investasi, HPAM tidak menetapkan maupun menjanjikan target return tertentu karena kinerja reksadana sangat dipengaruhi oleh dinamika pasar dan berbagai faktor ekonomi yang terus berkembang. 

“Fokus kami adalah mengelola portofolio secara disiplin agar mampu menghasilkan kinerja yang optimal dalam jangka panjang melalui pemilihan saham-saham berkualitas dan pengelolaan risiko yang terukur,” terang Reza. 

Ke depan, HPAM melihat prospek pasar saham Indonesia masih memiliki peluang yang positif apabila didukung oleh stabilitas makroekonomi, kebijakan moneter yang kondusif, serta berlanjutnya aliran dana ke pasar domestik. 

Dalam kondisi tersebut, strategi yang HPAM terapkan adalah tetap selektif dalam memilih emiten yang memiliki fundamental kuat, valuasi yang masih menarik, serta potensi pertumbuhan laba yang berkelanjutan. 

"Dengan pendekatan tersebut, kami berharap dapat menciptakan nilai tambah (alpha) bagi investor dalam jangka panjang, bukan sekadar mengikuti pergerakan pasar,” imbuh Reza. 

Berdasarkan Fund Fact Sheet Henan Smart Beta Ekuitas Kelas A per 31 Juli 2026, portofolio investasi saham di sektor basic materials sebanyak 28,1%, sektor financial sebanyak 25,4%, sektor industrial sebesar 14,7%,  sektor banking (time deposit) sebanyak 11,6%, dan sebesar 18,6% ditempatkan di sektor lainnya.

Selain itu, produk reksadana saham yakni SAM Dana Saham Nusantara Kelas S milik Samuel Aset Manajemen juga mencetak return tinggi sebesar 25,38% secara bulanan per Juli 2026. 

Baca Juga: SR025 Mulai Ditawarkan 21 Agustus 2026, Berpeluang Curi Perhatian Investor

Portfolio Manager Samuel Aset Manajemen, Hernandi Wisnu Wardhana mengatakan bahwa dari sisi posisi investor, tekanan jual asing sepanjang tahun ini sudah cukup dalam sehingga eksposur investor global terhadap Indonesia relatif rendah. Basis yang rendah membuat setiap perbaikan sentimen berpotensi memberi dampak yang cukup terasa pada indeks. 

“Setelah koreksi pasar pada semester pertama tahun ini, valuasi pasar saham telah berada pada level yang secara historis terbilang atraktif,” ujar Hernandi. 

Hernandi menjelaskan bahwa secara garis besar, strategi pengelolaan SDN Kelas S memadukan dua hal. 

Pertama, pendekatan semi-equal weighting, di mana kami membatasi ketergantungan kinerja portofolio pada segelintir nama saja. Pendekatan ini membuka ruang kontribusi dari lapisan saham likuid di luar kelompok big caps, sekaligus menjadi bentuk pengendalian risiko konsentrasi.

Kedua, seleksi saham dengan sensitivitas yang relatif tinggi terhadap siklus pasar. Karakteristik ini memberi potensi upside yang lebih besar ketika pasar bergerak naik, dengan konsekuensi volatilitas yang juga lebih tinggi. Karena itu pengelolaannya menuntut disiplin yang lebih ketat: batas bobot per saham, review dan rebalancing secara berkala, serta disiplin dalam menjalankan manajemen risiko.

“Bagi kami, disiplin pada sisi eksekusi sama pentingnya dengan pemilihan sahamnya sendiri,” tutur Hernandi. 

Hernandi mengatakan, saat ini bobot terbesar portofolio berada pada sektor Basic Materials dan Energy, dengan sisanya tersebar pada sektor lain untuk menjaga diversifikasi. Dari sisi likuiditas, kedua sektor tersebut menyumbang porsi yang signifikan terhadap nilai transaksi harian bursa. Bagi produk investasi berbentuk reksa dana, likuiditas aset dasar portofolio adalah pertimbangan yang tidak bisa diabaikan.

Adapun, dari sisi fundamental, sebagian harga komoditas, khususnya logam, masih bertahan pada level yang cenderung tinggi dibandingkan historis. Pelemahan rupiah juga memberi dukungan tambahan pada pendapatan emiten berorientasi ekspor dalam denominasi dolar AS. Kombinasi keduanya berpotensi terefleksi pada profitabilitas emiten terkait.

Baca Juga: Investor Menanti Keputusan MSCI, Cek Proyeksi IHSG dalam Jangka Pendek hingga Panjang

“Alokasi sektoral ini bersifat dinamis, kami menyesuaikannya mengikuti perkembangan siklus komoditas dan valuasi, sehingga posisi hari ini tidak otomatis menjadi posisi kami hingga akhir tahun,” jelasnya. 

Terkait target return SDN Kelas S hingga akhir tahun, Hernandi menuturkan, asumsi dasar Samuel Aset Manajemen untuk proyeksi level IHSG di akhir tahun adalah 7000 – 7300. Berdasarkan asumsi tersebut, potensi kenaikan IHSG dari level sekarang berkisar antara 9% - 14%. 

“Dengan beta portofolio SDN Kelas S sebesar 1,4-1,5 kali, maka SDN Kelas S berpotensi berkinerja lebih baik dari indeks acuan (IHSG) apabila pasar pulih sesuai dengan asumsi dan scenario. Terakhir sebagai catatan, kinerja masa lalu tidak menjadi jaminan atas kinerja di masa mendatang,” pungkas Hernandi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News