RI Bakal Impor Beras Khusus 1.000 Ton dari AS, Pengamat: Nilainya Kecil



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rencana Pemerintah Indonesia mengimpor beras khusus sebanyak 1.000 ton dari Amerika Serikat (AS) melalui perjanjian perdagangan timbal balik atau The Agreement on Reciprocal Trade (ART) dinilai tidak akan mengganggu pasar domestik. Volume tersebut dianggap sangat mini dibandingkan total kuota impor beras khusus secara nasional.

Guru Besar IPB University, Dwi Andreas Santosa, menilai rencana tersebut bukan merupakan persoalan besar bagi kedaulatan pangan nasional. Pasalnya, angka 1.000 ton tersebut tergolong sangat kecil jika disandingkan dengan realisasi impor beras khusus tahun lalu yang mencapai ratusan ribu ton.

"Sebenarnya tidak ada masalah, dan nilainya kecil sekali 1.000 ton. Karena apa, impor beras khusus tahun lalu saja, tahun 2025 yang kita sudah mencanangkan swasembada pangan atau swasembada beras itu, impor beras khusus saja sampai November sudah 403.000 ton, tepatnya 403.296.740 kilogram," ujarnya kepada Kontan.co.id, Senin (23/2/2026).


Baca Juga: BI Catat Uang Beredar Tumbuh 10% Menjadi Rp 10.117 Triliun di Januari 2026

Dwi menjelaskan, kategori beras khusus biasanya merupakan varietas yang memang belum mampu diproduksi secara massal atau efisien di dalam negeri. Jenis beras ini umumnya ditujukan untuk pasar spesifik atau segmen tertentu yang membutuhkan standar tertentu.

"Beras khusus itu biasanya beras-beras yang tidak mampu kita produksi di dalam negeri. Misalnya japonica, basmati, lalu beras-beras khusus yang digunakan untuk horeka ya, hotel, restoran, dan kafe," jelasnya.

Selain itu, Dwi mengungkapkan, porsi terbesar dari kuota impor beras khusus sebenarnya adalah menir. Menir atau beras pecah tersebut biasanya diimpor oleh sektor industri pengolahan untuk dijadikan bahan baku produk lain.

"Kuota impor beras khusus tersebut, sebagian besar itu menir. Menir bisa sampai 300.000 ton per tahun. Yang melakukan impor siapa? Industri. Industri apa? Industri tepung beras," ungkapnya.

Terkait hubungan dagang dengan Amerika Serikat, Dwi mencatat bahwa volume impor dari Negeri Paman Sam memang sangat kecil jika dibandingkan dengan Vietnam dan Thailand. Menurutnya, AS bukanlah pemasok utama untuk beras umum yang dikonsumsi langsung oleh masyarakat Indonesia.

"Volumenya impor terbesar beras umum itu dari Vietnam dan Thailand, dari dua negara itu. Amerika terlalu kecil sebenarnya, impor beras kita dari Amerika," pungkasnya.

Sebelumnya, Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Haryo Limanesto menjelaskan, meskipun keran impor beras khusus dari AS dibuka, realisasinya di lapangan akan sangat bergantung pada kebutuhan pasar di dalam negeri.

Keputusan ini diambil sebagai bagian dari penguatan hubungan dagang kedua negara.

"Pemerintah setuju memberikan alokasi impor untuk beras klasifikasi khusus asal AS, namun tetap realisasinya tergantung permintaan dalam negeri," ujarnya melalui keterangan tertulis, Minggu (22/2/2026).

Haryo menekankan, komitmen impor ini tidak akan mengganggu stabilitas pasar beras nasional. Pasalnya, volume yang disepakati tergolong sangat kecil jika dibandingkan dengan total produksi beras di dalam negeri.

Dia bilang, alokasi impor yang disiapkan hanya sebesar 1.000 ton. Angka ini dinilai tidak signifikan karena hanya mencakup sekitar 0,00003% dari total produksi beras nasional yang mencapai 34,69 juta ton pada tahun 2025.

Selain itu, Haryo mencatat bahwa Indonesia sudah cukup lama tidak mendatangkan beras dari Amerika Serikat.

"Dalam 5 tahun terakhir, Indonesia tidak melakukan impor beras dari AS," tandasnya.

Baca Juga: BGN Sebut Tidak Benar Ada Pembagian MBG pada Waktu Sahur

Selanjutnya: BI Catat Uang Beredar Tumbuh 10% Menjadi Rp 10.117 Triliun di Januari 2026

Menarik Dibaca: Kantong Aman! Semua Promo HokBen Februari Bikin Makan Puas & Hemat Mulai Rp 10 Ribuan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News