RI-India Jajaki Rencana Investasi Migas, IATMI Ingatkan Karakteristik Investor



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) memberikan catatan terkait rencana penjajakan kerja sama sektor minyak dan gas bumi (migas) antara Indonesia dan India. 

Menurut IATMI, kehadiran investasi baru di sektor hulu dari negara mana pun patut diapresiasi positif, asalkan disesuaikan dengan rekam jejak kemampuan finansial dari negara mitra.

Sekretaris Jenderal IATMI, Hadi Ismoyo mengungkapkan, karakter dari calon investor asal Asia Selatan tersebut perlu dipahami secara mendalam oleh pemerintah sebelum kesepakatan resmi diteken. 


Baca Juga: Menurun 3,91%, Penerbitan Obligasi Korporasi Semester I – 2026 Capai Rp 87,35 Triliun

"Setiap kesempatan investasi dari luar negeri tentu harus disambut dengan baik. Namun sepanjang yang kami tahu, India bukan produsen migas dan bukan pula investor yang terbiasa punya konsesi di Indonesia. Namun experties di bidang migas memang banyak berkebangsaan India," ujarnya kepada Kontan.co.id, Rabu (8/7/2026).

Meski demikian, Hadi berharap masuknya komitmen investasi baru ini dapat memicu gairah kegiatan eksplorasi yang sempat lesu guna mendongkrak ketahanan energi nasional. 

Dia bilang, kerjasama ini diharapkan mampu memberikan dampak berkelanjutan bagi upaya penemuan cadangan-cadangan besar di masa mendatang. 

"Semoga niat untuk kerjasama di bidang explorasi migas bisa menjadi era baru dalam hubungan negara," katanya.

Terkait kekhawatiran alokasi crude hasil produksi hulu agar tidak langsung diekspor, Hadi menilai regulasi kontrak bagi hasil atau production sharing contract (PSC) yang berlaku saat ini sudah cukup akomodatif. 

Menurutnya, pemerintah hanya perlu menyesuaikan ketentuan tersebut secara kasuistis berdasarkan tingkat risiko proyek. 

"RI sudah punya PSC Standart dengan dua varian, PSC Cost Recovery dan PSC Gross Split. Jika diperlukan split khusus bisa di treat case by case sesuai lokasi dan tingkat kesulitan development cost," jelasnya.

Dari sisi geopolitik dan geoekonomi, kolaborasi dengan India dinilai sangat prospektif mengingat posisi negara tersebut sebagai pasar konsumsi energi raksasa global yang sangat berkembang. 

Baca Juga: Candi Prambanan Direvitalisasi, Prabowo: Pengingat 1.000 Tahun Hubungan RI-India

"Semakin banyak investor hulu dari luar negeri sangat bagus. Utamanya India adalah negara besar di kawasan Asia yang jumlah penduduknya tembus 1,5 miliar manusia. Adalah pasar strategis untuk hubungan timbal balik both upstream dan downstream," tutur Hadi.

Lebih lanjut, Hadi melihat terdapat potensi eksplorasi bersama yang sangat strategis pada area perbatasan laut, memanfaatkan kelengkapan basis data geologi regional yang dimiliki Indonesia.

"Sebagaimana diketahui saat ini ramai di laut Andaman yang berbatasan di sisi Barat dengan Laut India. Boleh jadi bisa dikembangkan kerjasama strategis untuk bersama-sama explorasi di Andaman terus sampai ke Barat menuju laut India. Data data di sisi Indonesia cukup lengkap sehingga bisa menjadi referensi geology regional untuk explorasi migas di kawasan," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News