RI Kehilangan 25% Sumber Minyak Mentah, Metode Berburu Minyak Efektif?



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah melakukan hunting (berburu) minyak mentah dari negara-negara dengan surplus minyak. Langkah ini dilakukan karena Indonesia kehilangan sebesar 25% sumber impor minyak imbas konflik Timur Tengah.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas (Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Laode Sulaeman menjelaskan, strategi ini dilakukan untuk menggantikan metode lelang melalui PT Pertamina yang selama ini dilakukan. Pasalnya, di tengah kondisi saat ini, jumlah peserta lelang yang ingin memasok minyak ke dalam negeri relatif minim.

Praktisi minyak dan gas (migas) sekaligus Mantan Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) Hadi Ismoyo menilai, metode hunting ke negara-negara dengan stok berlebih sebenarnya efektif untuk mengamankan pasokan minyak mentah Indonesia.


Baca Juga: Pasar Mobil Januari-September Tumbuh, Penjualan Wholesales Naik 21%

Menurutnya, Pertamina sebagai pelaksana pengadaan minyak mentah juga memiliki payung hukum untuk mendapatkan pasokan dari berbagai sumber, yakni Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 26 Tahun 2026 yang mengatur tentang Pengadaan Minyak Bumi, Bahan Bakar Minyak (BBM), dan/atau Liquefied Petroleum Gas (LPG) untuk Ketahanan Energi Nasional.

"(Metode hunting ke negara surplus minyak) Sangat efektif. Pertamina dilindungi oleh Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 26 Tahun 2026," ujarnya kepada Kontan, Kamis (8/10/2026).

Hadi melihat impor minyak dari wilayah baru dapat memberikan fleksibilitas tinggi dalam mengamankan cadangan minyak nasional, khususnya dari Amerika Serikat (AS), Afrika Barat, hingga Amerika Latin.

Namun demikian, ia menyoroti metode hunting berpotensi membuat harga pengadaan minyak mentah menjadi lebih mahal. Khususnya, jika pemerintah harus mencari pasokan dari sumber yang lokasinya lebih jauh.

Baca Juga: Penjualan Motor pada Bulan September Naik 15,37% Jadi 654.343 Unit

"Tantangannya adalah masalah harga, shipping cost dan pengadaan tanker kelas large Tanker Crude untuk jarak jauh," jelas Hadi.

Secara keseluruhan, ia memandang metode hunting ini menjadi bagian dari solusi jangka pendek untuk mengamankan pasokan minyak mentah. 

Sementara, konversi BBM, serta konversi LPG 3 kg ke Compressed Natural Gas (CNG) dinilai menjadi strategi dalam jangka waktu yang lebih panjang.

Selain itu, eksplorasi di enam wilayah cekungan prioritas yang telah diidentifikasi Kementerian ESDM dan SKK Migas juga dinilai dapat memperkuat pasokan migas dalam jangka panjang.

“Eksplorasi secara masif di enam sweet spot yang telah diinisiasi ESDM juga menjadi salah satu upaya untuk jangka menengah dan panjang,” ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News