KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indonesia dan Malaysia sepakat memperkuat kerja sama perdagangan dan investasi melalui pertemuan ke-
4 Joint Trade and Investment Committee (JTIC) Indonesia-Malaysia yang digelar di Jakarta (3/9/2026). Pertemuan ini menjadi sebuah forum bagi kedua negara guna membahas sejumlah isu perdagangan dan investasi, yang mencakup fasilitasi perdagangan hingga kerja sama di bidang pertanian. Menteri Investasi, Perdagangan dan Industri Malaysia, Datuk Sri Juhari Abdul Ghani, mengatakan pertemuan JTIC kali ini memiliki arti penting karena menjadi pertemuan pertama dalam 9 tahun terakhir.
Salah satu pembahasan utama dalam pertemuan tersebut adalah implementasi
Border Trade Agreement yang ditandatangani kedua negara pada 2023 dan mulai berlaku pada Juli 2026. Perjanjian tersebut diharapkan dapat mendorong aktivitas ekonomi serta mempermudah perdagangan di wilayah perbatasan Indonesia dan Malaysia. Baca Juga:
Peran DSI Memperkuat Visibilitas Perdagangan Dinilai Makin Strategis Kedua negara juga membahas kebijakan ekspor Indonesia. Juhari mengatakan Malaysia memahami alasan di balik kebijakan tersebut dan akan menghormati serta mendukung kebijakan yang diterapkan Indonesia. “Kami juga mencoba untuk memahami kebijakan ekspor yang diperkenalkan oleh Indonesia, dan kami memahami alasannya. Dan sebagai komunitas bisnis di Malaysia, kami akan menyokong kebijakan itu, apa pun yang baik bagi Indonesia,” katanya. Datuk Sri Juhari Abdul Ghani menyampaikan nilai perdagangan bilateral Indonesia-Malaysia pada tahun lalu mencapai sekitar US$28 miliar. Kedua negara menilai masih terdapat ruang untuk meningkatkan perdagangan bilateral, terutama mengingat kedekatan geografis dan hubungan ekonomi yang telah terjalin. Investasi menjadi salah satu agenda penting dalam pertemuan JTIC. Juhari mengatakan Malaysia terus meningkatkan investasi di Indonesia. Dalam periode 2023-2025, nilai investasi Malaysia di Indonesia disebut mencapai sekitar Rp 70 miliar. Menteri Perdagangan, Budi Santoso, mengatakan pertemuan JTIC menghasilkan sejumlah kesepahaman untuk memperkuat hubungan ekonomi kedua negara. Baca Juga:
Neraca Perdagangan Indonesia Diproyeksi Defisit US$ 250 Juta pada Juli 2026 Lima agenda utama yang disepakati mencakup penguatan perdagangan dan investasi, implementasi BTA, fasilitasi perdagangan dan akses pasar, penguatan iklim investasi, serta pengembangan kerja sama sektoral. Menurut Budi, kedua negara juga berkomitmen memperkuat fasilitasi perdagangan, khususnya untuk produk pertanian dan pangan, sekaligus menyelesaikan berbagai persoalan yang masih menghambat akses pasar. Kedua negara turut menyepakati penguatan iklim investasi yang kondusif serta melanjutkan kerja sama dalam sejumlah sektor yang menjadi kepentingan bersama, termasuk e-commerce, pertanian, produk halal, dan standardisasi. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News