RI Mau Bangun Super Grid untuk Dorong Pengembangan EBT, Berapa investasinya?



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah bakal membangun Super Grid alias jaringan infrastruktur jaringan kelistrikan raksasa untuk mendorong pengembangan energi baru terbarukan dan menjaga stabilitas dan keamanan sistem kelistrikan.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif, mengatakan bahwa infrastruktur Super Grid tersebut bakal menghubungkan kepulauan Indonesia.

“Super Grid bakal memainkan peran penting dalam upaya Indonesia membuka potensi/peluang industri hijaunya dengan cara menghubungkan potensi energi baru terbarukan dengan pusat-pusat kebutuhan energi di industri,” ujar Arifin dalam peluncuran perpanjangan Program MENTARI di Kantor Kementerian ESDM, Jumat (4/8).


Belum ketahuan berapa panjang jaringan serta estimasi investasi yang dibutuhkan untuk merampungkan infrastruktur tersebut. Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Jisman Hutajulu,  mengatakan angka-angka tersebut masih dihitung.

Baca Juga: Kementerian ESDM Kaji Opsi Perluasan Sektor Industri Penerima Harga Gas Bumi Tertentu

Yang terang, Kementerian ESDM sedang berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan untuk melihat kemampuan pemerintah untuk membiayai infrastruktur ini. Kementerian ESDM juga membuka peluang untuk melibatkan swasta dalam rencana pembangunan infrastruktur ini.

“Swasta juga akan dilibatkan, rencananya besar sekali. Yang jelas yang mengoperasikan adalah PLN nantinya,” kata Jisman saat dihubungi Kontan.co.id, Jumat (4/8).

Direktur Eksekutif  Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, mengatakan, pembangunan Grid Nusantara dibutuhkan untuk mewujudkan target net-zero-emission (NZE) yang dicanangkan oleh pemerintah. 

Kehadiran infrastruktur tersebut, kata Fabby, bisa mengoptimalkan pemanfaatan energi terbarukan yang tersebar di seluruh pulau-pulau Indonesia untuk memasok kebutuhan beban listrik yg beragam. 

“Super Grid ini meliputi interkoneksi antar pulau dan interkoneksi intra pulau. Dari kajian IESR sebelum 2030 sudah harus mulai dibangun interkoneksi Jawa-Sumatra dan intra island di Kalimantan, Sulawesi dan Sumatra, kemudian diperluas interkoneksi ke pulau-pulau lainnya,” kata Fabby kepada Kontan.co.id (4/8).

Baca Juga: Pemerintah Siap Mulai Ulang Proyek Hilirisasi Batubara

Menurut Fabby, kebutuhan investasi untuk membangun infrastruktur Super Grid sangat tergantung pada teknologi HVAC/HVDC atau kombinasi keduanya, dan kapasitas konduktor. Namun, estimasi IESR, kebutuhan investasi untuk membangnun Super Grid bisa berkisar US$ 100 miliar - US$ 150 miliar.

“(Angka estimasi tersebut untuk) Membangun (jaringan Super Grid) dari Sumatra sampai dengan ke Maluku atau Papua. Ini estimasi investasi sampai 2045 atau 2050,” kata Fabby.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Tendi Mahadi