RI Mau Ekspor 500.000 Ton Beras ke Malaysia, Bagaimana Kabarnya ?



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani menjelaskan perkembangan terkini terkait rencana ekspor 500.000 ton beras ke Malaysia. 

Rizal menyebut rencana ini sudah memasuki tahap finalisasi. Bulog bersama dengan tim dari Kementerian Pertanian juga bakal bertolak ke Sarawak, Malaysia untuk memastikan jumlah ekspor hingga harga pembelian beras. 

"Kita juga nanti diskusi di sana. Apakah kita port to port atau mereka langsung beli di kita di Pelabuhan Priok," ujar Rizal di Kantornya, Jum'at (29/5/2026). 


Rizal mengatakan sebelumnya, Malaysia memang menawarkan harga sebesar 16.000/kg. Jika Bulog resmi ekspor 500.000 ton, maka potensi nilai mencapai Rp 8 triliun. Namun begitu, menurut Rizal masih belum ada kesepakatan harga resmi kedua belah pihak. Rizal menyebut pihaknya masih berpeluang mendapatkan harga yang lebih besar. 

Baca Juga: Realisasi Serapan Gabah Petani Sudah 75%, Bulog Optimistis Capai Target Tahun Ini

"Kita nanti akan minta petunjuk Menteri Pertanian dalam hal ini agar sesuai dengan arahan Bapak Presiden kemarin bahwa harga yang kita ekspor harus menguntungkan petani," jelas Rizal. 

Sebelumnya, Presiden RI Prabowo Subianto mengklaim sejumlah negara mulai meminta pasokan beras dari Indonesia di tengah ancaman krisis pangan global dan meningkatnya pembatasan ekspor pangan oleh beberapa negara produsen. 

Hal tersebut disampaikan Prabowo saat meresmikan operasionalisasi 1.061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di Desa Tingul, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026). 

Menurut Prabowo, sejumlah negara produsen pangan mulai menutup ekspor beras, jagung, hingga gandum akibat tekanan kondisi global. 

“Beberapa hari lalu India mengumumkan tutup, tidak ekspor beras, jagung, gandum. Disusul oleh Bangladesh,” ujar Prabowo. 

Ia mengatakan kondisi tersebut membuat sejumlah negara mulai mendatangi Indonesia untuk mencari pasokan beras. 

Meski membuka peluang ekspor, Prabowo menegaskan pemerintah tetap akan mengutamakan ketahanan pangan nasional serta menjaga kepentingan petani domestik.

"Saya bilang beri kalau mereka butuh kita harus bantu, kita jual kepada mereka, tapi harganya ya yang oke lah, jangan petani kita korban," katanya.

Baca Juga: Ekonom Ini Soroti Frekuensi Kunjungan Luar Negeri Prabowo di Tengah Tekanan Fiskal

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News