RI Perkuat Resiliensi Ekosistem Sistem Pembayaran Nasional di Tengah Tantangan Global



KONTAN.CO.ID - NUSA DUA. Lanskap ekonomi global hari ini tidak lagi sekadar berada dalam fase penuh ketidakpastian (uncertain), melainkan telah bergeser menjadi sulit diprediksi (unpredictable). Sikap wait and see yang berkepanjangan justru akan memperlambat langkah. 

Pelaku industri dan otoritas dituntut untuk bergerak proaktif menggali potensi yang ada melalui inovasi yang berorientasi pada resiliensi.

Pesan tersebut mengemuka dalam ajang Prima Executive Gathering 2026 bertajuk "Beyond Tomorrow: Securing Progress, Accelerating in Unity" yang diselenggarakan di Bali, Rabu (6/8/2026). 


Presiden Direktur PT Rintis Sejahtera, Abraham Adriaansz, menegaskan bahwa di tengah tantangan global, termasuk dinamika keamanan siber di mana Indonesia sempat tercatat berada di posisi ketiga sasaran serangan DDoS pada Desember 2025, fondasi interkoneksi dan interoperabilitas yang telah dibangun selama dua dekade terakhir menjadi modal utama penggerak perekonomian.

Baca Juga: Masih Terbuka Peluang Bisnis Asuransi Kendaraan Tumbuh hingga Akhir 2026

"Selama 20 tahun kita berada dalam interkoneksi dan interoperabilitas yang dibangun bertahun-tahun. Di tengah ketidakpastian, mari membangun kepastian," ujar Abraham dalam pidato pembukaan acara, di hadapan para pelaku industri sistem pembayaran.

Fondasi kokoh tersebut tecermin dari capaian masif volume transaksi keuangan digital yang telah menembus angka 4,5 miliar transaksi dengan nilai mencapai Rp 2.000 triliun. 

Keberhasilan Indonesia menyatukan berbagai instrumen pembayaran dalam satu standar tunggal seperti QRIS kerap mengundang tanda tanya dari lembaga internasional seperti Bank Dunia, mengenai bagaimana integrasi lintas industri bisa terwujud secara efektif.

Deputi Gubernur Bank Indonesia, Filianingsih Hendarta dalam keynote speech, menjelaskan bahwa pencapaian ini merupakan buah dari kekompakan seluruh pemangku kepentingan. 

Meskipun dalam prosesnya sempat ada penyesuaian pendapatan yang menurun atau keuntungan industri yang terpotong, "Namun dalam jangka menengah dan panjang terbukti memberikan keuntungan," katanya.

Langkah strategis ini diperkuat melalui Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) 2025 yang kini berlanjut ke cakupan yang lebih luas menuju 2030. Konsolidasi industri diperketat melalui penataan Penyelenggara Jasa Pembayaran (PJP) yang kini mengerucut pada 35 PJP utama, guna memperkuat manajemen risiko, tata kelola infrastruktur yang prudent, serta kompetensi pemain di industri.

Bonus demografi 

Optimisme industri pembayaran nasional turut ditopang oleh struktur kependudukan. 

Berdasarkan data kependudukan semester I, jumlah penduduk Indonesia mencapai 290 juta jiwa, di mana usia produktif mendominasi sebanyak 201 juta jiwa atau sekitar 70% (rentang usia 15–64 tahun). 

Kelompok generasi muda usia 15–24 tahun menjadi motor terbesar yang mewarnai dinamika perekonomian digital saat ini, sementara kelompok usia lanjut turut terakselerasi mengadopsi teknologi pascapandemi.

Dukungan infrastruktur pembayaran yang andal—mulai dari BI-FAST, infrastruktur pendukung transaksi ritel, modernisasi RTGS multicurrency, hingga konsolidasi pusat data nasional dari sistem pembayaran—menjamin kecepatan dan keamanan transaksi ritel maupun wholesale.

Baca Juga: Laba Ciputra Life Naik 64,45% pada Semester I-2026, Berikut Penopangnya

Ke depan, Bank Indonesia berkomitmen mengakselerasi inovasi, salah satunya melalui Pusat Inovasi Digital Indonesia yang telah mendidik ribuan talenta digital untuk memperkuat kapabilitas teknologi nasional. 

Perluasan adopsi QRIS tidak berhenti di dalam negeri—di mana 90% penggunanya adalah UMKM—tetapi juga merambah ke kancah internasional melalui ekspansi QRIS lintas batas (cross-border) ke Timor Leste, India, Hong Kong, dan Arab Saudi pada 2026.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News