Ringan Kopinya, Semerbak Keuntungannya



weekend-kopiPELUANG bisnis kopi ringan yang membidik kelas menengah ke bawah belum banyak digarap orang. Pasalnya, banyak orang lebih memilih menggarap pasar kopi murni. Padahal, peluang bisnis ini lumayan besar bila melihat banyaknya orang yang menyukai jenis minuman ini. Nah, jika anda bosan dengan tawaran kemitraan kopi murni, mungkin kini saatnya anda menjajal kemitraan bisnis kopi ringan dari Semerbak Coffee yang berpusat di Depok, Jawa Barat. "Boleh dibilang, kami adalah satu-satunya pemain bisnis kopi ringan yang menggarap kelas menengah ke bawah," ujar Iwan Agustian, sang pendiri Semerbak Coffee. Walaupun kemitraan ini membidik kelas menengah ke bawah, melihat produk kopi yang dijajakannya, ada kemungkinan produk ini juga disukai kalangan menengah ke atas. Apalagi, cara penyajian Semerbak Coffee cukup unik. Semerbak Coffee mulai menawarkan kemitraan sejak bulan Juni 2009. Pusat gerai ini ada di Jalan Nusantara 27 A, Depok. Menurut cerita Iwan, sampai bulan Agustus 2009 lalu, Semerbak Coffee sudah mempunyai 20 mitra yang tersebar di beberapa kota besar seperti Jakarta, Bekasi, Tangerang, Depok, Pekanbaru, Balikpapan, Pangakalan Bun, Makassar, dan Yogyakarta. Kemitraan ini memikat banyak pengusaha karena Semerbak Coffee menawarkan biaya investasi yang rendah, yaitu hanya Rp 7 juta saja. Dengan investasi awal sebesar itu, mitra telah mendapatkan satu buah gerobak (booth) serta perlengkapannya seperti dispenser, blender, serta ice box. "Sebagai awal, kami minta down payment sebesar 50%. Lalu barang akan kami kirim dalam dua minggu," lanjut Iwan. Menariknya, dengan harga segitu, Anda bisa menjadi mitra Semerbank Cofee seumur hidup. Anda juga tak perlu membayar royalti. Tapi, pada bulan kelima, Semerbak Coffee akan meminta supporting fee sebesar 3,5% dari biaya pembelian bahan baku kopi si mitra. Supporting fee itu merupakan biaya untuk pembaharuan banner, perbaikan booth, ataupun serta biayakonsultasi usaha dari Iwan. Agar tak merepotkan mitra, Semerbak Coffee sudah membungkus enam varian rasa kopi ringan yang akan dijajakan dalam bentuk sachet. Satu sachet pas untuk satu cup kopi. "Mitra tinggal memblendernya dengan sedikit air dan es, kopinya sudah berbusa dan tinggal disajikan," ujar Iwan yang mengaku sudah mengantongi izin dari Departemen Kesehatan untuk produknya. Dengan cara ini, Iwan ingin menekan biaya investasi awal para calon mitra. "Dengan cara ini, mira tidak perlu membeli mesin pembuat kopi," ujar Iwan. Karena, harga satu mesin pembuat kopi sendiri sangat mahal. "Paling murah Rp 15 juta," imbuh Iwan. Dengan cara ini pula, Iwan bisa mengontrol berapa banyak bahanbaku yang ia  pasok ke para mitra. Para mitra juga akan lebih mudah mengukur penjualan di gerainya. Satu cup kopi ringan, baik untuk rasa capuccino, tiramitsu, hazelnut, karamel, vanila, maupun cokelat dibanderol seharga Rp 7.000-Rp 10.000. Padahal, dari Semerbak Coffee, harga per sachet kopi itu hanya Rp 4.000 saja. Itu pun sudah termasuk harga cup dan tutupnya. "Kalau di Jakarta, satu cup kopi ratarata harganya sekitar Rp 9.500," kata Iwan. Dalam hitungan kasar Iwan, dalam waktu sebulan, seorang mitranya bisa meraup laba bersih sekitar Rp 1,2 juta. "Asumsinya, dalam sehari, satu mitra bisa menjual 35 cup kopi seharga Rp 7.000," terang Iwan. Namun, pendapatan tersebut masih harus dipotong biaya bahan baku dan bahan-bahan tambahan. Selain itu, mitra juga harus membayar gaji karyawan dan sewa tempat.Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News