KONTAN.CO.ID - Mayoritas mata uang Asia bergerak bervariasi terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (17/7/2026). Ringgit Malaysia, baht Thailand, dan dolar Taiwan menjadi mata uang dengan pelemahan terbesar di kawasan.
Baca Juga: China Kecam Nasionalisasi British Steel oleh Inggris, Nilai Rugikan Investor China Melansir
Reuters berdasarkan data hingga pukul 02.08 GMT, ringgit Malaysia melemah sekitar 0,20% terhadap dolar AS menjadi 4,078 per dolar AS. Baht Thailand turun 0,16% ke level 33,620 per dolar AS, sementara dolar Taiwan melemah 0,15% menjadi 32,296 per dolar AS. Di sisi lain, dolar Singapura terkoreksi tipis 0,06% ke level 1,291 per dolar AS. Yuan China juga melemah 0,06% menjadi 6,775 per dolar AS, sedangkan yen Jepang turun tipis 0,02% ke level 162,410 per dolar AS. Sementara itu, rupiah Indonesia justru menguat tipis 0,06% ke level Rp 17.970 per dolar AS dari posisi penutupan sebelumnya di Rp 17.980 per dolar AS. Peso Filipina juga menguat 0,06% menjadi 61,586 per dolar AS, sedangkan won Korea Selatan dan rupee India relatif stabil.
Baca Juga: Startup AI China Moonshot Rilis Kimi K3, Klaim Model AI Terbuka Terbesar di Dunia Pergerakan sejak awal tahun Jika dibandingkan dengan posisi akhir 2025, sebagian besar mata uang Asia masih mencatat pelemahan terhadap dolar AS. Rupiah menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di kawasan, yakni sekitar 7,23% sejak awal tahun. Setelah rupiah, rupee India melemah sekitar 6,72%, disusul baht Thailand yang turun 6,45%.
Peso Filipina terkoreksi 4,52%, yen Jepang melemah 3,55%, won Korea Selatan turun 2,67%, dan dolar Taiwan melemah 2,66%.
Baca Juga: Harga Emas Bersiap Catat Penurunan Mingguan Terbesar dalam Enam Pekan Jumat (17/7) Ringgit Malaysia hanya melemah sekitar 0,54%, sementara dolar Singapura turun tipis 0,39%. Berbeda dengan mata uang Asia lainnya, yuan China justru menguat sekitar 3,14% terhadap dolar AS sejak awal 2026.